
Dokter Richat belum mengenal jalan yang ada di kota Semarang. Wajar jika ada salah. Sepanjang jalan Arvi hanya bicara sebatas mengarahkan ke tempat tujuan mereka. Jangan sampai dokter salah jalan. Setidaknya Arvi mau ngomong walau sedikit kaku. Memang selama ini mereka tidak saling mengenal. Dokter mencoba untuk mengenali calon istrinya itu.
Ada hal yang tidak disukai pada diri dokter Richat suka campur urusan orang. Rasa keponya sangat tinggi. Sifatnya yang teramat baik terkadang orang salah tafsir.
Akhirnya mereka sampai di pusat oleh-oleh kota Semarang yang terletak di jalan Pandanaran. Dokter Richat mengekor mengikuti langkah Arvi memasuki salah satu toko yang begitu populer menjual berbagai varian lumpia mau basah atau pun kering.
Rupanya hari itu banyak pembeli yang datang sehingga antri. Dengan antusias mereka pun ikut antri. Sebab banyak orang yang antri untuk mendapatkan oleh-oleh khas Semarang yang begitu populer seantero negeri. 🤭🤭 autor promo kota Semarang 🙏🙏🙏
Pas giliran antrian mereka berdua. Terlihat pelayan toko itu menyambut dengan ramahnya.
"Selamat datang di pusat oleh oleh kota Semarang! Ada yang bisa dibantu" Sambut pelayan dengan senyum ramah khas Jawa.
"Mbak aq pesan lumpia rasa originalnya!" Pesan Arvi menunjuk yang ada di daftar menu didepan kasir.
" Mau berapa buah kakak?" Tanyanya lagi
"Aq mau 10 buah" Jawab Arvi ramah.
"Beli aja lebih biar tidak bolak balik" Usul dokter Richat menimpalinya.
"Dua kotak lagi mbak" Lanjut dokter Richat denga entengnya tanpa mempedulikan bumil yang ada didepannya.
"Bagaimana mbak?" Tanya pelayan masih dengan ramah. Arvi menoleh sambil melotot menoleh ke belakang. Dokter Richat mengalihkan pandangannya mencoba untuk menghindar.
"Iya sesuai pesanan dia. Soalnya dia yang bayar" Jelas Arvi memaksakan senyum mahalnya.
"Siapa takut!" Seru dokter setengah menggoda bumil yang jutek.
Arvi bergeser dari meja kasir.
__ADS_1
"Totalnya tiga ratus ribu Pak!" Suara pelayan menyebutkan nilai belanjaan yang harus di bayar. Dokter Richat pun bergegas menyodorkan uang pada sang pelayan toko.
Mereka menunggu sebentar pelayan sedang mempersiapkan.orderan mereka. Tidak butuh lama mereka menunggu. Orderan siap dibawa pulang.
"Terima kasih atas kunjungannya!" Seru pelayan dengan ramah pada keduanya yang mulai meninggalkan meja kasir. Keduanya pun berjalan tidak beriringan. Sang dokter jalan mengekor mengikuti Arvi dari belakang keluar dari toko itu.
Ketika melewati tempat parkir terlihat sebuah stan es cream. Arvi berhenti mendadak. Air liurnya sudah mulai menetes menginginkan nikmatnya es cream itu. Buru-buru dengan langkah cepat Arvi menghampiri penjual es cream. Dokter Richat pun ikut mengekor kemana pun Arvi melangkah.
Dokter itu menggelengkan kepala melihat tingkah bumil yang ngiler dengan es cream.
"Mbak saya pesan es cream nya rasa vanila dan strewberry porrsi besar!" Suara Arvi memesan pada penjual stan es cream yang begitu ramah dengan memakai topi merah.
"Iya mbak!" Serunya yang bergegas melayani pembelinya itu.
"Jangan lama-lama ya mbak!" Bisik Arvi pada mbak penjual itu yang dibalas dengan senyuman ramahnya
"Pesan dua ya mbak rasa sama!" Suara dokter Richat ikut memesan. Dia juga pecinta es cream juga.
"Ikut-ikutan!" Protesnya heran.
"Eh bumil bukan ikut-ikutan! Didunia ini tidak ada yang menolak dengan kelezatsn es cream. Apalagi aq yang biasa tugas di pedalaman jarang menemukannya. Kalau ada pun harus ke kota" Jelas dokter Richat tersenyum menjelaskannya.
"Dimaklumi mbak kami ini dari pedalaman jadi udik. Rusa masuk kota!" Sindir sang dokter menggoda Arvi yang dibalas dengan lirikan mata Arvi yang tidak suka. Tapi lirikan itu berubah jadi tawa kecil. Ia teringat Sakti yang suka menggunakan istilah Rusa masuk kota. Lamunannya teringat akan sosok Sakti hingga tidak menyadari jika pesanan es cream nya sudah siap.
"Arvi! Arvi sayang sudah jadi es creamnya!" Suara dokter Richat membangunkan lamunannya.
"Oh ya terima kasih!. Eh tunggu kamu panggil apa tadi?" Suara Arvi mencoba mengingat akan ucapan dokter Richat barusan yang terdengar samar ditelinganya. Buru-buru ia menerima pesanan es cream itu.
"Arvi sayang!" Seru dokter Richat mengulang penggilan nya dan tiba-tiba Arvi menyikut perutnya dari belakang hingga ia meringis kesakitan. Entah sakit atau tidak tenaga bumil.
__ADS_1
"Ouuh sakit!! Sakit sayang!" Pekik dokter yang berpura-pura kesakitan tapi ditertawakan sama penjual es cream.
"Rasain akibat panggil-panggil sayang!!" Protes Arvi sambil menyendok es cream ke mulutnya.
"Mbak istri saya hamil jadi maklumi aja emosinya naik turun! Moody's orangnya" Goda dokter Richat sambil memberikan uang untuk membayar es cream mereka.
"Gak usah kembalinya!" Ucapnya menolak uang kembalian. Lalu ia melangkah mengikuti bumil yang jalan duluan.
"Terima kasih pak!" Sahut penjual dengan senyum ramahnya melihat tingkah kedua pembelinya yang aneh.
Sampai mereka ketempat parkir. Arvi bergegas masuk ke dalam mobil di ikuti dokter Richat.
"Dok.. Bisa gak jangan memanggilku istri di depan orang-orang!" Suara Arvi memulai percakapan sebelum dokter menyalakan mesin mobil. Arvi menoleh keluar tanpa menatap wajah dokter. Ia terlihat tidak senang.
"Arvi panggilan itu terlalu membebanimu?" Sahut dokter Richat terlihat tenang.
"Sebaiknya rencana pernikahan ini kita batalkan saja. Saya gak sanggup menghianati mas Sakti. Sampai kapan pun saya tidak bisa berbagi hati dengan siapapun" Ucapnya lirih. tertunduk. Bahkan es cream itu pun tidak lagi ia nikmati.
Dokter Richat hanya menarik nafas mencoba untuk setenang mungkin menghadapi istri Sakti. Butir-butir air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
"Terlihat mudah tapi sulit bagiku untuk melupakannya. Aq sangat mencintai Sakti dengan kepribadiannya. Aq tidak peduli umur kami yang terpaut jauh. Aq berharap dia akan kembali apapun keadaannya. Aq tahu itu tidak mungkin? Mungkin Sakti sudah mati itu yang kutahu dari orang-orang yang datang ke rumah mencoba mencari sesuatu. Entah apa itu aq tidak tahu aq hanya mencoba untuk menyelamatkan diriku juga anak yang ada dirahimku. Aq juga tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga dia harus dilenyapkannya" Ucap Arvi panjang lebar berurai air mata.
Dokter Richat tercengang campur aduk jadi satu bak adonan kue. Ia mencerna kata demi kata penjelasan Arvi.
"Jadi selama ini Sakti sudah tiada? Mengapa ia tidak cerita? Mengapa ia pendam semua kepedihan hatinya itu?" Batinnya menggerutu shock dengar penjelasan Arvi yang terisak-isak.
"Percuma saja dokter menikahimu sebab aq tidak bisa memberi. Lebih baik dokter pergi menjauh dan membatalkan semua ini" Bujuk Arvi yang masih menangis terisak-isak.
Dokter Richat menyodorkannya tisu pada Arvi. Ia tak tahu harus dengan apa mencoba menenangkan bumil satu ini yang terus menagis tiada hentinya.
__ADS_1
"Berhentilah menagis justru itu akan membuatmu bersedih. Setahuku Sakti tidak memiliki musuh. Dia sangat baik yang Kusuka darinya jiwa penolongnya tinggi" Tutur dokter Richat disela-sela Isak tangis Arvi yang tak kunjung berhenti.
"Jika kamu mengenal Sakti lebih dariku seharusnya kamu tahu diri. Tak seharusnya kamu lakukan?" Jawab Arvi menatap dokter.