
Dokter Richat tertawa geli sendiri. Hayalan tentang romantisnya malam pertama hanya sebuah isapan jempol belaka. Jangankan malam pertama sebuah pelukan atau ciuman pun tidak ia rasakan. Batinnya bergejolak kencang tapi ia tidak bisa menuntut sesuai kesepakatan.
"Andai tak serumit ini"Gumamnya sendiri.
Mungkin ia terlalu berharap lebih hingga ia melupakan niat tulusnya menggantikan Sakti. Segera ia buang jauh pikiran tentang malam pertamanya yang tidak mungkin terjadi. Posisi Sakti tidak akan pernah tergantikan. Karena terlalu banyak pikiran akhirnya ia pun tertidur pulas juga ke alam mimpi.
********
Esok hari
Arvi tidak sadar jika ia tertidur di sofa ia balik badan dan terjatuh ke samping menimpa tubuh dokter Richat yang tidur dibawahnya.
"Buuks"
"Aaaauh"Pekik Arvi mencoba memperbaiki pandangannya yang belum sempurna. Ia sadar jika ia jatuh kebawah menimpa tubuh seseorang.
"Tubuh siapa yang aq tindis?" Batinnya bertanya.
"Mas Sakti!" Panggil Arvi lirih. Perlahan ia mencoba memperbaiki Indra penglihatannya. Rupanya bukan orang yang dipanggilnya tapi dokter Richat lelaki yang menikahinya kemarin
Tepat saat ini tubuhnya berada diatas dokter Richat. Keduanya saling beradu pandang. Jelas terdengar Arvi menyebut nama Sakti. Suami mana yang tidak sakit hati jika sang istri menyebut nama mantan suaminya.
Entah sengaja atau tidak Dokter Richat justru memeluk tubuh Arvi yang diam mematung diatasnya. Bukankah dalam kesepakatan mereka berdua tida
Dokter Richat menatapnya penuh ingin. Ada hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dari cara menatapnya betapa lelaki ini menginginkannya.
Arvi bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya. Berdegup kencang nafasnya memburu. Aroma wangi tubuhnya semerbak memenuhi rongga hidungnya. Rasanya ingin mendekat lebih lama lagi. Jarak yang begitu dekat diantara mereka hingga ia mampu merasakan hembusan nafasnya.
Arvi mencoba bangkit tapi tangan dokter merapatkan pelukannya. Memang dokter Richat Begitu sempurna tidak Arvi pungkiri jika wajahnya ganteng penuh pesona. Wanita mana yang bisa menolak sudah pintar dan ganteng. Entah mengapa dia mau menikahinya?.
Tak ingin terjadi sesuatu yang lebih Arvi memalingkan wajahnya. Ia tak ingin menatap wajah ganteng suaminya lebih lama lagi. Ia takut khilaf tidak terkontrol. Tidak ada larangan untuk keduanya melakukan ritual malam pertama. Sebab ia tak ingin melanggar kesepakatan diantara keduanya.
__ADS_1
Sepertinya dokter Richat mengerti dengan sikap Arvi yang memalingkan wajahnya. ia takut kemakan omongannya sendiri.
"Begitu hinakah diriku hingga dia memalingkan wajahnya! Apa aq bau hingga ia menjauh?" Bisiknya dalam hati ketika melihat Arvi memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Dokter ini sengaja sepertinya ingin mengerjai ku. Dasar otak mesum!" Ucapnya dalam hati menahan malu atas kejadian tadi sebab ketika posisinya di atas ada sesuatu yang bangun. Rupanya sikecil milik dokter Richat bangun dan berdiri tegak siap mencari mangsa. Tentu membuat Arvi merasa risih.
Peristiwa yang tidak terduga akan ia alami di pagi ini. Ia juga tidak menyangka jika dokter Richat tidur di bawah sofa bersamanya.
Perlahan ia bangun dan memperbaiki posisi badannya yang belum seimbang.
"Maaf" Suaranya lirih menyembunyikan rasa malunya.
Perlahan ia berdiri baru selangkah jalan rupanya kakinya tesangkut kaki dokter Richat. Otomatis tubuhnya roboh menimpa dokter Richat yang masih belum beranjak dari tempatnya berbaring.
"Bruuks!!"
"Aduh" Pekiknya.
"Hati-hati" Suara dokter Richat mencoba membantunnya. Dengan lembut ia membelai rambut Arvi yang menutup sebagian wajahnya. Cepat-cepat Arvi menepis tangan dokter Richat.
"Maaf!!" Suara dokter Richat
"Saya yang salah bukan dokter" Jelas Arvi mencoba bangkit. Di ikuti dokter Richat yang ingin membantunya. Tapi ia tampak menahan sesuatu yang ingin segera ia keluarkan.
"Oh Tuhan aq ingin muntah!" Batinnya ingin segera pergi meluncur ke kamar mandi.
"Panggil saja Richat" Pinta dokter Richat terlihat canggung.
"Tunggu!" Arvi langsung berlari menuju kamar mandi. Ia sudah tidak tahan ingin memuntahkan isi yang ada diperutnya.
Dari kamar mandi terdengar Arvi muntah-muntah. Lumayan lama Arvi berada di kamar mandi.
__ADS_1
"Arvi!! Kamu tidak apa-apa?" Tanya dokter Richat dari balik pintu. Tangannya mengepal berusaha untuk tenang.
"Tidak apa-apa!" Teriaknya dari dalam. Walau masih mual ia rasakan.
"Huueek.. Huueee!" Arvi mengusap keringat yang mengalir dipelipisnya. Karena kuatnya muntah hingga air matanya pun jatuh dipipi. Keadaan yang gak mengenakkan untuk orang hamil. Tapi ia berusaha untuk kuat.
"Mungkin jalan ini yang harus kulalui" Ucapnya lirih sendiri.
"Kamu yakin?" Tanyanya ulang untuk meyakinkan jika dia dalam keadaan baik-baik saja atau tidak?.
" Iya dok!" Sahut Arvi tampak loyo setelah mengeluarkan muntahnya. Ia juga tak ingin merepotkannya terus. Ia yakin jika dirinya sehat tidak perlu ada yang dikawatirkan. Tapi beda dengan suaminya.
Dokter Richat dengan setia menunggunya keluar. Ia takut istrinya kenapa-kenapa.
Tidak berapa lama Arvi membuka pintu kamar mandi.
"Kamu istirahat saja!" Pinta dokter Richat mencoba untuk membantu Arvi tapi buru-buru Arvi menepis tangannya.
"Saya tidak apa-apa. Oh ya dokter ingin sarapan apa biar bibik siapkan?" Sahutnya menawari dokter sarapan.
"Jangan pikirkan soal sarapan aq bisa bikin sendiri" Jawab dokter Richat terlihat kawatir dengan wajah Arvi yang pucat. Mungkin ia terlalu capek dari kemarin.
"Baiklah. Aq akan istirahat dulu"
"Bruuks!!"
Untung dokter Richat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sehingga dengan sigap meraih tubuhnya Arvi jatuh pingsan. Terlihat darah mengalir dari selakangannya. Segera dokter Richat membawanya ke rumah sakit.
Terlihat jelas raut wajah paniknya. Ia tidak menyangka jika Arvi mengalami pendarahan. Tentu ia juga tidak ingin kehilangan janin itu. Janin yang susah payah Arvi pertahankan. Walau bukan darah dagingnya tapi dari pertama hamilnya Arvi dialah yang pertama tahu jika Arvi sedang hamil.
Masih segar dalam ingatannya ketika ia memberi tahu jika Arvi sedang hamil. Terlihat jelas kala itu Arvi tampak terlihat sedih dan gundah. Antara bahagia dan bingung. Ia terlalu banyak berpikir. Richat juga tidak tahu kalau dia istri sahabatnya. Ia tahu ketika Sakti menemaninya untuk USG. Setelah itu terdengar kabar Sakti hilang tanpa jejak.
__ADS_1