
Sesampai dirumah konsentrasinya pecah dengan kegalauan hatinya yang tiba-tiba muncul. Hal inilah yang paling dibencinya urusan ceweq ribet. Rencananya dia akan mengedit Rancangan Perda yang akan disusun untuk anggaran Tahun ini, Karna ada enam Perda yang mau ditetapkan tahun ini tapi kacamata ketinggalan terpaksa ambil dulu.
Matanya tidak berhenti menatap layar komputer jinjingnya. Dreet...dreet....dreet terlihat panggilan masuk lewat Whatshup dari Arie"kenapa Arie bukan dia"Bisiknya pelan dari sebrang Arie protes.
" Bro..kapan traktiran kutunggu-tunggu tidak ada info" Sahutnya mengingatkan taruhan tadi siang.
" Idih siapa juga yang mau traktir kamu, pede amat"Sakti ga mau kalah.
"Loh emang kamu kalah". Sela Arie tertawa "Siapa yang taruhan itu kamu sendiri ga ada kesepakatan koq!" Sakti protes sembari tertawa.
"Disitu ada siapa?"Tanya Arie kepo.
"Ada istriku"Sahut Sakti berdusta. "Tipu saja!" Potong Arie tidak percaya. "Sudah tahu nanya? Macam orang baru saja"Seru Sakti heran dengan Arie. "Kamu yakin ga ada perasaan apa-apa sama si Arvila?"
Pertanyaan kepo dan to the point' diarahkan ke Sakti biar ngaku. Sakti tertawa lepas mendengarnya.
" Jadi kamu telpon aq hanya ingin tanya itu? Ga ada kerjaan banget ini orang bisanya ganggu aja, aq lagi sibuk"Umpatnya langsung mematikan jengkel . Sakti mengusap wajahnya dengan kasar diganggu Arie dengan pertanyaan yang gak penting.
Terdengar suara panggilan masuk lagi, "Kenapa masih mau kepo dengan jawabanku!" Sahut Sakti disangkanya yang menghubunginya Arie karena dia ga memperhatikan layar Hp. Suara lembut ceweq terdengar
" Mas ini aq Arvi" suara itu membuatnya salah tingkah seakan tidak percaya kalau nama yang disebut Arie menghubunginya. Belum ada setengah jam yang lalu mereka ketemu.
"Eh sorry ...Kukira Arie tadi barusan telpon". Suara Sakti menjelaskan.
__ADS_1
"Mas belum tidur?" Tanya dengan lembut. Sakti tertegun mendengarnya batinnya lagi error'.
"Kamu juga belum tidur?" Tanya balik, dari suaranya Arvila tersenyum tertawa geli dengan pertanyaan balik yang ga penting untuk jawab.
"Bodohnya aq bertanya"Suara lirihnya terdengar samar oleh Arvila. "Bagaimana mas? Gak kedengaran" Tanyanya dengan nada polos manjanya.
" Telponnya sudah ya aq sibuk" Suara Sakti menyudahinya jujur aja dia grogi ditelpon anak buah malam hari. "Baik, Met malam...". Sahut Arvila yang terhenti karena Sakti mematikan Heandphone Arvila rasa aneh saja kenapa Sakti begitu. Dalam pikirannya mungkin Sakti ada istrinya makanya enggan ditelpon sama wanita lain.
Tanpa pikir panjang Arvila tarik selimut cuaca mendukung dingin menusuk kulit. Sambil tersenyum senang Hp nya telah digengamnya tanpa harus menunggu esok hari. Tak terasa waktu menunjukkan jam sepuluh malam segera ia memejamkan mata tertidur di alam mimpi.
Dirumah yang berbeda Sakti masih asyik berjibaku dengan menyusun draf rancangan kerja kantornya. Terbesit ada rasa penyesalan dihatinya kenapa memutuskan percakapannya ditelpon tadi sepertinya gak sopan. Bahkan belum sempat dia tahu maksud dan tujuan gadis itu menghubunginya. Dinding hatinya terlalu tinggi untuk didekati dia tidak ingin terluka. sesekali dia membolak balikkan draf rancangan itu pikirannya gak konsen. Antara hati dan pikiran tak sejalan berantakan. Dihisapnya kuat-kuat rokok itu. Entah sudah habis berapa batang puntung berserakan diatas asbak. Malam pun telah larut segera ia kemasi dan beringsut ketempat tidur. Tak lupa ia matikan lampu. Dia tidak bisa tidur kalau nyala lampu.
Pagi hari seperti biasa Sakti bersiap-siap ke kantor dengan mobil dinasnya. Sebelum kekantor tak lupa minum kopi sambil merokok. Kopilah teman sejatinya menemani hari-hari yang sepi. Tidak terasa mobil dinas meluncur kekantor. Hari ini agak terlambat tadi bangun kesiangan. Sesampai dikantor beberapa staf telah menyambut kehadirannya" Pagi Bapak!!" Sapa beberapa staf yang kebetulan ia temui diparkiran dan lobi kantor "Pagi...Pagi..."Sahutnya mengangguk berlalu menuju ruang kerjanya.
Diruang kerjanya ia menyalakan AC ruangan terasa pengap. Dibukanya tirai jendela biar terlihat dari luar lalu bergegas dia keluarkan Leptop dari tasnya. Sakti melanjutkan pekerjaan semalam yang belum kelar.
"Masuk.."Sakti menoleh mempersilahkan tamunya. Rupanya yang datang OB Iwan membawa secangkir kopi.
"Saya antar kopi Pak!" Sahut OB Iwan menaruh kopi dimeja kerjanya.
"Makasih mas. Oh ya mas nanti saya minta tolong bawakan kertas F4 dua Rim saya mau cetak draf Rancangannya yah!" Jawab Sakti mengalihkan pandangannya ke layar Leptop.
"Mas serang aja jangan tunggu lama-lama" Canda OB Iwan mengangkat kedua alis ke arahnya. Sakti tertawa ringan menolehnya. "Ah sembarang saja mas Iwan ini!". Timpal Sakti tertawa mendengarnya.
__ADS_1
" Boss barang bagus... jangan lambat gerakan sikat abis!" Lanjutnya memberi kode ruangan sebelah.
" Barang bagus e....Siapa pu barang Ha ha...."Serunya berkelakar menimpali candaan OB Iwan. "Masa ga ada ras? Cantik sopan loh mas anaknya. Pucuk ....Pucuk....Pucuk..." Tambahnya lagi menggoda Sakti. Sakti tertawa mendengarnya."Ha ha...Orang punya mas" Sela Sakti menghentikan tawanya. "Siapa Bos yang punya?". Tanya OB Iwan penasaran. "Kepo banget sih! Udah ah ambilkan saya punya permintaan gak kelar ini nanti" Potong Sakti mengingatkan OB Iwan akan permintaan barangnya tadi. "Siap Boss!!". Lanjutnya bergegas keluar ruangan sambil salam hormat kepada Sakti yang tidak dibalasnya sebatas candaan hari-harinya.
Tidak berapa lama OB Iwan mengantar pesanan kertas yang dimintanya. OB Iwan udah paham dengan tugasnya hari-hari makanya dia dipercaya atasan karena ia orang yang rajin dan bertanggung jawab.
Ruangan sebelah, sedari pagi Arvila masuk kantor, ia mengemasi beberapa surat masuk yang bercecer yang belum selesai ia kerjakan kemarin. Mula mau lanjut tapi Sakti dan Arie melarangnya. Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan, segera ia berjalan membukanya jangan sampai Pak Ketua sudah masuk kantor. Ketika dibuka rupanya OB Iwan yang datang. Dengan senyum khasnya
" Mbak dapat panggil dari Pak Kabag Sakti" Suaranya menyapanya.
" Oh iya mas sedikit lagi saya datang. Ada apa ya mas koq saya dipanggil?" Tanya Arvila agak heran.
"Kenapa gak telpon saja pake nyuruh mas Iwan lagi" Bisiknya dalam hati.
" Saya cuma disuruh panggil mbak" Jawab OB Iwan dengan muka serius.
"Baik mas segera saya nyusul" Tegas Arvi tersenyum.
Tidak berapa lama Arvila menuju ruangan yang dimaksud "Tok...Tok...Tok...Met Siang Pak" Sapanya memohon ijin masuk.
"Iya silahkan masuk". Suara Sakti mempersilahkan, sebetulnya dia jengkel dengan sebutan Pak yang ditujukan untuknya, tapi gadis ini salah-salah terus. Mungkin aq cocok jadi bapaknya. Gerutunya tiap kali memanggil pak ada perasaan jengkel untuknya.
"Sebegitu tuanya kah aq di matamu" lirihnya terdiam menoleh kearah gadis muda nan cantik. Sedikit agak gugup Arvila menghampiri orang yang telah membantunya mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
"Mas Sakti panggil saya?" Tanya Arvila membetulkan panggilannya. Sesaat Sakti terdiam berpikir karena ia merasa tidak memanggilnya. Sepertinya ada yang sengaja ngerjain dia. Senyumnya penuh tanda tanya "Siapa pu kerja ini?" Tanyanya dalam hati sambil tertuju ke layar monitor Leptop. Lalu ia mengangguk padahal ia tidak menyuruhnya ke ruangan." Bisa bantu saya copy kan berkas ini dua puluh rangkap". Perintahnya untuk menutupi rasa canggungnya, didalam ruangan berdua.
Segera ia terima berkas yang akan digandakan sebanyak 20 rangkap. sepintas ia membaca berkas yang ada ditangannya sebuah Surat Undangan Rapat untuk Anggota Dewan besok jam sepuluh siang. Senyumnya yang mengembang disudut bibirnya terhenti ketika sepasang mata memperhatikan wajah ayunya. Segera Arvila diam tertunduk ada rasa takut apalagi mereka berdua saja di ruangan. " Saya kerjakan diruangan sebelah ya mas" Pinta Arvila meminta ijin dia tidak ingin jadi bahan gosip satu kantor berdua bukan mukrimnya. Sakti menatap tajam ke arahnya, membuatnya salting. Arvila menggigit bibirnya merasa tidak nyaman ketika Sakti menatapnya. Sakti laki-laki yang peka dengan sikon kalau gadis itu takut, gadis yang belum genap satu Minggu dikenalnya. Dia hanya mengangguk menyetujui usulnya, seketika Arvila membawa Surat undangan untuk diperbanyak keruang kerjanya. sebetulnya dia rasa aneh atau ini caranya menghindarinya. Dia lebih fokus dengan kerjanya dari pada memikirkan hal yang tidak penting.