AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Bertemu Sakti


__ADS_3

Di Hotel XXX di Jayakarta Jakarta Pusat tempat mereka menginap dan melaksanakan kegiatan. Arvi bersama keempat rekan kerjanya mulai check in di hotel tersebut. Tak lupa ia menghubungi sang suaminya jika ia telah sampe ke tempat tujuan dengan selamat.


Rupanya bukan hanya perwakilan dari kantor Arvi saja tetapi dari instansi daerah lain juga ikut kegiatan tersebut. Tentu lobi hotel terlihat ramai oleh peserta kegiatan asal berbagai daerah.


Sesuai jadwal dari Panitia jika kegiatan akan dilaksanakan selama tiga hari di mulai dari besok pagi sekitar pukul sembilan hingga hari ketiga. Untuk hari ini belum ada kegiatan. Sehingga ia pergunakan waktu luang itu untuk istirahat.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore perut Arvi terasa lapar. Ia sempat menghubungi rekan kerjanya tetapi tidak aktif semua. Akhirnya ia memutuskan untuk turun mencari makan siang.


Arvi berjalan menyusuri lorong kamar hotel menuju lift yang akan membawanya turun ke lobi hotel. Ketika Arvi asik melihat smartphonenya sepasang mata memperhatikannya. Arvi terkesan tidak mempedulikan orang yang sedang mengantri naik lift untuk turun ke bawah.


Begitu pintu lift terbuka ia pun masuk dan menekan tombol tujuan mereka ke lantai dasar hotel. Selang beberapa menit akhirnya sampai ke lantai dasar dan pintu lift pun terbuka. Para pengunjung hotel pun keluar dari lift.


Namun ketika Arvi ingin melangkah keluar seseorang meraih tangannya dan langsung memeluknya dengan erat. Arvi di buat terkejut bukan main tarikannya begitu cepat hingga ia tak menyadari jika pintu lift telah tertutup dengan cepat. Tidak ada kesempatan untuk keluar. Ingin teriak tapi lidahnya kelu. Di dalam lift hanya mereka berdua tidak ada orang lain.


Arvi bisa merasakan jika orang yang Sedang mendekapnya saat ini ialah suami pertamanya. Yah Prananda Sakti Prasetyo orang yang telah membuatnya hamil dan mencampakkannya begitu saja. Dari aroma tubuh dan cara memeluknya ia tahu siapa orangnya. Sosok yang selalu ia rindukan kehadirannya. Tujuh tahun lamanya ia menunggu kehadirannya. Di ibukota ini baru mereka bersua.


"Mengapa kamu datang setelah tujuh tahun lamanya? Mengapa engkau membuatku lama menunggu? Bagaimana jika Junior tahu jika ayahnya bukanlah dokter richat? Bagaimana status pernikahanku dengan dokter Richat? Apa yang harus kulakukan?" Pertanyaan itu bertubi-tubi menghujati hatinya yang tiada henti-hentinya.


Pertanyaan yang hanya dapat ia pendam tanpa mampu ia ungkapkan ke permukaan. Arvi terdiam menangis penuh pilu. Berharap ini bukanlah mimpi semata. Arvi tidak membalas pelukannya. Ia hanya diam mematung. Suasana dalam lift terdengar hening hanya terdengar Isak tangis Arvi.


Dunia seakan mempermainkannya. Ia menyangka Sakti telah tiada, tapi nyatanya dia hadir tanpa diduga. Tidak mampu mengontrol emosinya tubuh Arvi roboh seketika. Mungkin karena beban pikiran atau karena rasa lapar yang mendera.


"Bruuk"

__ADS_1


Untungnya dengan sigap Sakti meraih tubuh istrinya yang pingsan dalam dekapannya. Lalu Sakti membawanya ke kamar hotelnya.


******


Di Kamar hotel tempat Sakti menginap terletak di lantai tujuh. Sakti membawa Arvi ke dalam kamar yang ia pesan. Tidak dapat ia ungkapkan perasaannya dapat berjumpa dengan istrinya.


Sakti membaringkannya di kasur. Tak lupa ia menggosok minyak angin agar Arvi segera terbangun dari pingsannya. Ia terus menggenggam erat jari jemari Arvi. Entah berapa kali ia menciumi tangan istrinya. Rasa haru yang menyelimuti isi hatinya. Bahkan ia sempat menangis berurai air mata.


Mungkin ada satu jam Sakti menjaga Arvi selama ia pingsan. Bahkan berapa kali terdengar pesan WhatsApp dari smartphone nya. Mungkin tidak mendapat respon dari sang empu pemilik ponsel. Akhirnya terdengar suara panggilan masuk.


"Dreeet Dreeet dreeet!" Suara getaran ponsel milik arvi yang terus bergetar.


Ingin Sakti mengangkat tapi ia urungkan niatnya. Hingga Panggilan yang ketiga Sakti mencoba mengangkat ponsel milik Arvi.


"Arvi aq ada belanja di Tanah Abang sorry tidak kasih kabar. Habis kami bosan di hotel" Serunya penuh semangat dari balik telpon.


Sementara Sakti hanya menyimak kata-katanya.


"Arvi kamu koq diam?" Tanya teman kantor Arvi setengah curiga sebab sedari tadi ia tidak mendengar balasan kata dari Arvi.


"Maaf Arvi ada keluar ponselnya ada di titip di saya" Jelas Sakti berbohong.


"Oh. Sedikit lagi saya balik ke hotel" Jelas teman Arvi.

__ADS_1


Arvi mulai membuka mata. Ia berusaha mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Ada dimana aq ini?"Batinnya bertanya ingatannya Belum pulih betul. Perlahan ia mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Barulah ia tersadar mengingat kejadian siang tadi. Badan nya terasa lemas tanpa daya. Bulir-bulir bening mulai mengalir membasahi pipinya Arvi melihat sosok Sakti yang dengan setia menjaga nya sewaktu pingsan. Sakti terus menggenggam erat jemarinya. Lelaki yang selalu merajai dihatinya kini telah berada disampingnya.


Walau umurnya tidak muda lagi tapi wajah Sakti tetap ganteng dan terlihat gagah. Pesonanya tujuh tahun yang lalu tidak terkikis sedikit pun.


"Mas..!"Arvi mencoba memanggil Sakti. Dengan suara lirih tapi masih terdengar di Indra pendengaran Sakti. Terlihat sekali Sakti sangat mengkawatirkan keadaannya.


Seketika Sakti tersadar jika istrinya memanggilnya. Rona kalut itu mulai pudar diwajah gantengnya. Melihat Arvi telah bangun senyum bahagia ia coba tunjukkan.


"Kamu tidak apa-apa dek? Apanya yang sakit? Kita ke rumah sakit ya!"Suara Sakti penuh pertanyaan. Tapi Arvi tampak ingin menjauh dan menghindar dari Sakti Bahkan ia tidak mau menatap lelaki yang selalu ia rindukan selama ini. tapi Sakti tidak kehilangan akal. Sakti terus menatap istrinya penuh harap.


Lama mereka terdiam dalam keheningan Arvi terlihat kaku dan canggung. Ia tak tahu harus mulai dari mana.


"Ini seperti mimpi tiba-tiba dia hadir. Bagaimana ini?" Bisiknya dalam hati. Sejuta pertanyaan memenuhi isi otaknya. Ia tidak dapat perpikir jernih ketika Sakti hadir. Ia tidak dapat menipu dirinya sendiri jika Arvi sangat mencintai suami pertamanya. Yah cintanya pada Sakti tidak pernah hilang sedikit pun.


"Aq pesankan makan ya. Kamu mau makan apa?" Suara Sakti memecah kebisuan diantara mereka. Suara yang selalu ia rindukan.


"Terserah!"Sahut Arvi pelan tapi masih bisa didengar olehnya. Sakti menarik nafas dalam mencoba setenang mungkin menghadapi sikap Arvi. Ia tak ingin gegabah.


"Aq pesankan bubur ayam ya?" Usulnya penuh perhatian tapi Arvi seakan menghindarinya. Bahkan ketika Sakti menatapnya Arvi memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Dia semakin cantik dan terawat. Terlihat sexy dan menggoda. Siapa yang tidak tertarik dengan wanita muda dan cantik yang ada di hadapanku ini. Rasanya aq ingin ********** dengan hanis. Aura keibuannya terlihat. Dia jauh berubah tidak seperti tujuh tahun yang lalu. Lalu dimana anakku berada? Apa dia sudah melupakanku sebab dari bahasa tubuhnya Arvi ingin menghindariku? Apa dia telah berdua?" Batinnya penuh pertanyaan yang perlu jawaban satu persatu. Bahkan butuh diurai untuk mencari benang kusutnya. Ia tidak dapat melupakan sosok Arvi dalam hidupnya.

__ADS_1


Sakti meraih telpon yang ada di atas meja samping ranjang untuk memesan makanan dari hotel. Mengingat Sakti terlihat pucat.


__ADS_2