AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Malam Kedua


__ADS_3

Suasana begitu hening. Tampak terlihat dokter Richat duduk dikursi menghadap keluar jendela. Hampir jam sebelas ia belum beranjak dari tempatnya duduk. Ia duduk merenung memikirkan pernikahannya. Baru hari kedua istrinya minta pisah.


"Mungkin seisi dunia sedang mentertawakan ku. Begitu bodoh dan percaya dirinya aq mampu menaklukkan hati setiap wanita. Dengan gagah beraninya aq menikahinya tapi ia tidak pernah menganggap ku ada? Sakti pesonamu begitu kuat menyihirmu. Mungkin aq yang sombong tidak memperhitungkan perasaannya" umpatnya dalam hati.


"Tapi aq terlanjur berjanji untuk menjaga dan melindunginya" Lanjutnya lagi.


Terdengar suara pintu terbuka.


"Ceklek"


Dokter Richat menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Arvi terjaga dari tidurnya.


"Kukira dokter tidur!" Sapanya dengan lembut.


"Malam sudah larut tidurlah!" Jelasnya meminta untuk tidur kembali.


"Kenapa dokter tidak tidur?" Tanya Arvi balik.


"Aq sedang melihat bintang dilangit"Jawabnya berbohong.


"Jika kita di Papua cuaca tidak hujan kita bisa melihat bintang dengan jelas. Jika disini banyak polusi bintang tidak terlihat jelas" Imbuhnya.


"Jangan bilang dokter membuat permintaan jika ada bintang jatuh" Sindir Arvi.


"Kamu percaya dengan cerita itu?" Tanyanya penuh harap.


"Jika ada bintang jatuh apa keinginan dokter?"


"Jawab dulu pertanyaanku baru akan jawab"


"Itu hanya mitos sebagian orang mempercayainya" Jawabnya masih ngambang.


"Dari jawabanmu kamu tidak yakin dengan mitos itu"


"Antara percaya dan tidak" Serunya

__ADS_1


"Tapi aq percaya tidak ada sesuatu yang tidak mungkin" Dokter Richat menimpali.


Arvi menarik nafas dalam menyudahi percakapan keduanya. Rasanya tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.


"Saya masuk dulu dok!" Ucapnya pamit meninggalkan suaminya sendiri tanpa beban.


"Tidakkah dia berbasa-basi untuk menyenangkan hatiku sedikit saja walau hanya memintaku untuk sekedar istirahat. Sungguh istri yang tiada berperasaan" Batinnya penuh kecewa. Ia hanya mampu menggerutu pada dirinya sendiri.


"Kenapa aq menuntut lebih darinya bukankah dari awal Arvi telah memintaku untuk tidak melakukannya. Aq yang memaksakan kehendak"ucapnya menyalahkan diri sendiri. Sekarang baru ia rasa menuntut perhatian lebih dari wanita yang ia nikahi dua hari lalu.


"Sudah malam masuklah dok! Nanti masuk angin"Ucap Arvi mengagetkannya.


"Jika dokter sakit tidak ada yang mampu ngobati"Lanjutnya lagi. Dokter Richat tersenyum getir.


"Ini candaan kah doa?"Ucapnya dalam hati.


"Kamu yang ngobati" Seru dokter Richat.


"Aq aja sakit gini! Mana bisa ngobati dokter. Yang ada aq ngerepotin terus" Sahutnya tersenyum kecut.


"Arvi boleh aq minta untuk yang terakhir kali!" Pintanya dengan lembut. Sebab Arvi tidak berubah ketika memanggilnya.


"Panggil Richat saja. Bukankah kita suami istri tidak perlu memanggilku dokter cukup Richat saja. Panggil mas juga tidak apa" Jelasnya yang jengah dipanggil secara formal oleh sang istri.


"Baiklah aq ikuti maumu. Asal tidak aneh-aneh aq setuju!"


"Aneh apa?"Sahut dokter Richat balik penasaran


"Lupakan gak penting untuk dibahas" Jelasnya jutek


"Oh Tuhan jutek begini kah istriku!" Protesnya dalam hati.


"Tunggu aq belum selesai bicara!" Pinta suaminya mencoba untuk lebih dekat dan terbuka satu sama lain.


"Bicaralah didalam takut ayah dengar!" Ajak Arvi takut percakapannya didengar anggota keluarga mereka.

__ADS_1


****


Dikamar Arvi berbaring di ranjang sementara dokter Richat baring di sofa.


"Apa yang ingin kau katakan? Katakanlah!" Ucap Arvi memulai pembicaraan. Jarak diantara keduanya cukup jauh.


"Arvi kita sudah menikah alangkah baiknya kita memiliki rumah sendiri" Ucap dokter Richat duduk di sofa.


"Kenapa? Apa kamu merasa risih dengan ayahku?" Sela Arvi penuh slidik.


"Aq ingin kita mandiri"Jelasnya secara halus memberi alasan pada istrinya.


"Tidak ingin merepotkan ayah mertua terus. Untuk sementara kita sewa rumah didekat rumah sakit itupun kalau kamu setuju" Lanjutnya penuh harap.


"Kita cari waktu yang tepat bicarakan ini ke ayah. Takut beliau tersinggung"


"Alhamdulilah dia mulai mengakui keberadaan ku walau hanya menyebutku kata "kita". Rasanya woow banget".Batinnya lirih. Ada sedikit senyum yang tersirat ketika Arvi menyebut kata "kita". Segala sesuatu dimulai hal kecil pikirnya. Mungkin lambat laun dinding pertahanan itu akan runtuh seiring kebersamaan mereka menjalani bahtera rumah tangga yang baru di semai.


"Terima kasih atas pengertiannya!"


"Saya yang harus berterima kasih pada anda. Sebab anda sudah banyak berkorban untuk kami. Demi anak yang ada di rahimku. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa? Seharusnya anda ke Semarang tugas belajar bukan menikah dengan istri teman anda sendiri. Maaf jika merepotkan Anda terus" Ucap Arvi panjang lebar menimpali perkataan dokter Richat.


Mendengar perkataan Arvi barusan dokter Richat menelan ludah berapa kali. Kata-katanya menusuk dilidah.


"Belum ada dua puluh menit memanggilku dokter sekarang memanggilku anda. Oh Tuhan apakah yang terjadi kuatlah tidak aq menghadapinya" Rutuknya dalam hati masih baper dengan sebutan anda.


"Jika benar ini jodohku dekatkan jika bukan jauhkanlah" Lanjutnya dalam hati.


"Padahal dokter ganteng kurang apa coba? Pasti banyak wanita yang mengidolakan anda diluaran sana" Ucap Arvi membuyarkan lamunan dokter ganteng yang sudah berkepala empat.


"Arvi aq tidur dulu besok aq ada kuliah pagi. Selamat malam!"


"Malam juga do... Mas!" Sahutnya terbata-bata. Ia menutup mulutnya sendiri merasa geli dengan panggilan itu. Mungkin sebutan mas terasa ganjil dan aneh untuk dokter Richat.menggelengkan kepala geli dengan panyematan panggilan barunya "Mas".


Suara hening begitu terasa diruangan. Tiada Suasana romantis selayaknya pengantin baru yang memadu kasih. Kedua pengantin baru itu seperti tidak saling mengenal satu sama lain. Seharusnya keduanya menikmati suasana hangat dan keintiman pengantin baru. Yang ada berbanding terbalik tiga ratus enam puluh drajat. Suasana romantis tidak berlaku untuk keduanya.

__ADS_1


Kedua pengantin baru itu tertidur dengan membawa alam pikiran masing-masing. Arvi membawa kerinduannya pada sosok Sakti sang suami pertamanya.


Sementara dokter Richat memikirkan tugas belajarnya esok hari. Ia berusaha membuang jauh pikiran tentang kebutuhan biologisnya. Ia mau bicara dan tersenyum saja sangat luar biasa baginya. Jadi Kebutuhan biologisnya ia tutup rapat-rapat.


__ADS_2