AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
dokter Richat Ngalah


__ADS_3

Jadwal kereta ke Semarang masih lama. Arvi putuskan ia memboking satu kamar hotel via online. Sebab disekitar situ ada Hotel dekat tempat mereka makan. Badannya juga perlu istirahat dengan nyaman.


Padahal Arvi tidak meminta untuk ditemani. Richat terus mengekor mengikuti kemana langkahnya pergi. Tentu itu membuatnya makin jengkel.


Rasa jengkel itu makin di ubun-ubun. Ketika check in hotel ia mengekor dibelakang. Arvi kira pengunjung hotel lain rupanya Pak dokter Richat mengikutinya.


"Selamat siang ada yang bisa dibantu!" Sambut receptionis cantik jelita dengan sopannya.


"Saya mau check-in mbak ini kode bokingnya" Sahut Arvi menunjuk kode boking lewat ponselnya.


"Atas nama Arvila Okta Maulidia ya?" Jelas sang receptionis dengan ramah.


"Iya mbak"


"Bisa minta nama pengenalnya?"


"Ini mbak"


"Dilantai tiga nomor kamar 112 ini kuncinya. Terima kasih Nyonya semoga puas dengan pelayanan hotel kami" Jelas resepsionis memberikan kunci kepada Arvi tapi kunci langsung disambar Richat.


"Kembalikan kunci itu saya yang boking duluan!!" Sergah Arvi mencoba meraih kunci dari dokter Richat. Sementara resepsionis melongo menatap aksi kudua tamu yang baku rebut kunci yang barusan ia serahkan.


"Maaf istri saya lagi hamil muda jadi bawaannya marah-marah gak jelas"Tutur Richat menjelaskan pada sang resepsionis dengan sedikit terpaksa tersenyum.


"Jangan kurang ajar kamu!"Pekik Arvi tapi Richat lalu membungkam mulut Arvi yang


"Tapi? Jika itu istri tuan kenapa??" Ucap sang resepsionis sedikit curiga melihat ulah mereka.


"Dia istri saya. Kami memang lagi berantem. Jadi mbak tidak usah kawatir saya busa atasi! Permisi dan selamat siang"Jelas dokter Richat berusaha meyakinkan pada sang resepsionis jika Arvi istrinya dan keduanya ada sedikit konflik. Arvi menjerit tapi mulutnya dibekap dokter agar Arvi tidak berulah.


Di Kamar Hotel.


Dokter Richat sengaja melakukan hal tersebut. Ia tahu jika aksinya keterlaluan. Ia hanya ingin menjaga dan membantu istri temannya tidak lebih. Walau cara yang dilakukannya salah. Dokter menghawatirkan janin yang dikandungnya tapi Arvi tidak menyadari hal itu.


Di kamar Arvi hanya diam. Arvi merasa risih mengingat statusnya sekarang.


"Istirahatlah aq tidak akan menyentuhmu aq hanya ingin melindungi mu tidak lebih. Percayalah!" Ucap sang dokter meyakinkan tapi Arvi tidak mempedulikannya. Ia masih dongkol.

__ADS_1


"Nanti aq antar ke stasiun" Lanjutnya yang


menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Aq tidak peduli!!"Ucapnya acuh tanpa menatapnya.


Entah karena capek atau kesal tanpa Arvi sadari ia tertidur dengan pulas. Dokter Richat tersenyum geli melihatnya tertidur.


"Jangan ketus-ketus ntar anakmu ketus kayak mamanya" Sindir Richat memperhatikannya bumil yg tidur Sono. Saking pulasnya sampe ia tidak tahu jika dokter merubah posisinya ke tengah. Ia takut jika jatuh. Bahkan dia menyelimutinya sebab AC begitu dingin. Jika dipadam ruangan terasa panas. Makanya ia tidak padam.


Sore hari.


"Kruuuk krruuuk" Suara perutnya krucuk minta diisi. Arvi terbangun kelaparan. Ia memperhatikan pandangannya. Ia mulai memutar memorinya. Ia baru ingat. Ingin ia teriak tapi ia urungkan. Pakaiannya lengkap tidak kurang satu pun namun ia ingat jika semula ia tidur di pinggir.


"Bukannya aq tidur dipinggir kenapa bisa ditengah? Jangan-jangan dokter ini?" Ucapnya lirih memegang perutnya yang kelaparan. Melihat sang dokter yang tertidur di kursi ia pun hati-hati takut membangunkannya.


Arvi berjalan ke kamar mandi badannya sudah terasa lengket dari tadi pagi belum mandi. Tapi ia tidak ada baju ganti. Suka tidak suka ia memakai bajunya lagi.


Arvi keluar dari kamar mandi. Bergegas ia order makanan dari hotel sebab ia sudah lapar sekali. Richat masih stay dikursi.


Tidak berapa lama petugas hotel mengantar menu makanan yang telah ia pesan tadi.


"Silahkan masuk!"


"Pesanan Makanannya Nyonya"


"Makasih Pak" Sahut Arvi memberikan beberapa lembar uang sesuai pesanannya. Tak lupa ia memberikan uang tips sudah bersedia mengantar ke kamar. Bahkan ia pun memesankan juga buat teman suaminya itu. Entah apakah dia suka atau tidak? Sebab ia juga tidak tahu makanan kesukaannya.


Menyadari jika ada petugas hotel datang mengantar makanan Richat pun terbangun. Tanpa basa basi Arvi begitu lahap menyantap makanan yang dipesannya itu. Dokter tersenyum melihat pasiennya lahap makannya. Menyadari jika ada yang memperhatikan Arvi pun mengunyahnya secara pelan dan terkesan hati-hati.


"Makanlah!!" Sapa dokter Richat tersenyum ramah.


"Saya kira dokter masih tidur" Sahutnya tersenyum kecut.


"Aroma makanan ini menusuk hidungku" Jelasnya masih duduk ditempat semula.


"Maaf. Tapi saya pesankan juga buat dokter. Saya tidak tahu kesukaan dokter?" Jelasnya menawari dokter. Sikap Arvi terlihat berubah tidak seperti awal tadi. Baginya wajar Arvi bersikap begitu. Ia ingin membatasi diri apalagi status Arvi yang telah bersuami. anggapan orang tentu berbeda.

__ADS_1


"Apapun aq makan asal bukan racun" Sahut sang dokter berjalan mendekat.


"Jika ini racun aq yang mati duluan" Kelakar Arvi mencoba bercanda tapi garing. Rupanya sang dokter tidak biasa bercanda. Arvi pun bersua dengannya hanya dua kali. Sewaktu pingsan diantar sopir Pak Ketua. Yang kedua kali bersama sakti sebelum ia pergi.


"Tetap kumakan jika itu darimu?"Ucap doktet sedikit ngegombal. Menyadari jika pria setengah tua yang ada di hadapannya sedang mencoba tebar pesona terhadapnya.


"Kapan balik dok?" Tanya Arvi mengalihkan percakapan mereka. Ia tidak ingin terperdaya pada lelaki selain suaminya sendiri. Walaupun belum jelas keberadaannya saat ini.


"Mungkin agak lama" Jawabnya sedikit bimbang.


"Oh jalan-jalan toh?" Sahut Arvi asal.


"Bisa juga tapi bukan itu" Ucapnya memperhatikan Arvi hingga yang diperhatikan jadi salah tingkah sebab diperhatikan terus.


"Bisa ke arah sana" pintanya merasa risih diperhatikan.


"Kenapa suruh menghadap tembok? Aq ingin ngobrol santai dengan pasienku yang kepala batu " Tanya sang dokter tidak habis pikir Arvi begitu membatasi diri.


"Mungkin ini yang terakhir kita bertemu. Dokter jika ada yang bertanya tentangku anggap saja tidak pernah kenal dan tidak pernah ketemu" Jelas Arvi terlihat tenang. Rasa sedih takut marah mulai terlihat.


"Maksudmu??"


"Ini untuk kebaikanku"


"Itu bukan kebaikan tapi lari dari masalah" Sindirnya.


"Terserah apa kata dokter? Kalau tidak tahu jangan asal bicara" Sahutnya tidak terima.


"Kamu bawaannya marah-marah gak jelas"


"Kenapa dokter yang sewot? Kalau tidak mau dapat marah pergi sana!" Suara Arvi mulai meninggi.


"Makanlah aq tidak mau debat denganmu"


"Saya juga tidak ingin ditemani"


Dokter Richat diam mematung. Arvi mengusirnya. Richat menghela nafas panjang mengontrol emosinya. Ia berpikir bagaimana cara meluluhkan bumil ini.

__ADS_1


"Baiklah aq pergi. Semoga perjalananmu menyenangkan. Maaf sudah membuatmu jengkel" Ucap dokter Richat bergegas bangkit meraih tas dan meninggalksn Arvi. Ia lalu keluar dari kamar dan menghilang dari balik pintu. Tinggalah dia seorang diri.


"


__ADS_2