AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Niat Hati


__ADS_3

Niat hati tidak ingin mengganggunya sama sekali, tapi obat terlanjur ia tebus. Suka tidak suka harus sampai pada pasien yang dituju. Bahkan sore harinya Sakti sempat menghubungi Arie untuk mengantarkan obat yang telah dibayar di Apotek tapi Arie tidak bisa karena ada ibadah dirumah. Mau nyuruh OB Iwan tapi enggan takutnya jadi gosip di Kantor. Terpaksa Sakti antar sendiri ke tempat kostnya. Segala keegoan hati sejenak ia turunkan.


Kali ini ia mengendarai motor kesayangannya Honda CB 150 menuju ketempat kost Arvi. Sesampai ditempat kost terlihat sepi dan tertutup. Sakti mencoba mengetuk pintu depan.


"Tok....Tok...Tok...!!!" Suara pintu diketuknya. Tidak ada jawaban dari dalam. Justru rumah samping keluar membuka pintu seorang ibu muda menggendong anaknya yang masih balita. " Cari siapa om?". Tegurnya bertanya. " Saya cari Arvi. Dia ada dirumah?" Seru Sakti menjelaskan. " Sekitar Sepuluh menit lalu dia pergi sama teman laki-lakinya. Dia juga baru datang tadi pagi naik ojek". Jelasnya tentu Sakti terkejut." Bukannya dia sakit? Koq pergi dengan teman laki-laki" Gumamnya bicara sendiri. "Oh ya Tante say minta tolong titip obat ini ke Arvi" Sakti menitipkan obat ke tetangganya. " Oh ya om nanti saya sampaikan ke dia kalau sudah pulang". sahut ibu muda itu menerima obat yang dititipkan kepadanya. Lantas Sakti berpamitan kembali kerumah.

__ADS_1


Motor ditancapnya dengan laju tak butuh waktu lama sekitar lima belas menit untuk nyampe rumahnya. Sesampai dirumah ada rasa dongkol dibenaknya. Sakti macam tidak yakin jika Arvi benar-benar sakit atau hanya prank. Ia mencoba untuk bersikap tenang. Kenapa harus jengkel dan marah ketika mendengar dia pergi dengan orang lain. Hubungan mereka hanya sebatas patner kerja kantor dia sebagai Kabag dan Arvi sebagai staf yang diperbantukan di ruang kerja Ketua DPRD tidak lebih. Kenapa harus cemburu?. Kan tidak ada hubungan apa-apa.


Ternyata Arvi keluar dengan OB Iwan. Kebetulan OB Iwan disuruh Pak Ketua untuk mengantarkan uang berobat ke Arvi. Sampai dirumah Arvi memintanya untuk membeli makan karena dari rumah Sakti belum sempat makan. Begitu muncul OB Iwan langsung Arvi meminta diantar untuk cari makan kesukaannya bakso. Arvi begitu lahap menikmati makan baksonya. Sebetulnya OB Iwan menolak masih terlihat kalau Arvi masih sakit wajahnya pucat tapi ia semangat sekali ingin jalan makan bakso.


Suara Hp Arvi bergetar disaku bajunya. Terlihat di layar Ponsel ada panggilan masuk dari Pak Kabag. Segera ia angkat tapi agak menjauh dari OB Iwan. "Hallo Met siang " Suara Arvi memberi salam matanya kesana kemari " Siang... Katanya sakit kenapa kelayapan dengan cowoq?" Suara Sakti juteknya terdengar uring-uringan gak jelas di Hp. Seketika Arvi cemberut dan sewot atas tuduhan Pak Kabag yang menganggapnya kelayapan " Ini loh aq cari makan sama Kak Iwan " Suara Arvi menjelaskan terdengar ogah-ogahan diajak bicara tak terima dibilang kelayapan. " Iwan??? " Panggil Sakti kaget. "Iya kebetulan tadi ia antar uang dari Pak Ketua untuk berobat. Kenapa Pak?". Arvi berusaha menjelaskan. " Kenapa toh mbak ?" OB Iwan bertanya dari belakang yang sedari tadi nguping. Tentu Arvi kaget mendengarnya " Ah ga pa-pa mas Iwan. Ayo kita pulang". Sahutnya pelan meminta Iwan " Oh ya kami mau pulang dulu Pak! Assalammualaikum". Suara Arvi menyudahi telpon tanpa mempedulikan Sakti yang masih ingin bicara. Hp pun bergetar call Sakti tapi Arvi begegas mematikannya melangkah menuju OB Iwan memarkir motor untuk pulang ke tempat kostnya.

__ADS_1


Lantas Arvi masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya masuk. Sakti menyodorkan bungkusan plastik ke arahnya. "Ini..." Suara Sakti tenang menyodorkan. " Kenapa Pak Kabag kemari? " Tanya Sakti merasa tidak nyaman dengan kehadirannya dirumah. Sakti menyadarinya. " Oh ojek pribadimu itu yang larang-larang aq kemari?" Ketusnya Sakti menerkanya membuat Arvi bete. " Saya harap Pak Kabag mengerti maksud saya" Kilahnya mencoba untuk tenang. " Apa maksudmu?". Tanyanya tidak mengerti dengan sikapnya yang jutek gitu " Pak Kabag pulang aja sudah Saya sudah sembuh koq". Suara Arvi yang memintanya pulang. Sakti balik terheran dengan sikap Arvi yang mengusirnya halus " Baiklah aq pulang... Maaf sudah mengganggumu". Suara Sakti menyudahi lalu berdiri dari duduknya. Raut wajahnya lurus tanpa ekspresi berjalan keluar kostnya. Ia tak tahu kalau dinding pun bisa mendengar pembicaraan mereka. Terpaksa diusirnya Pak Kabag dia tak ingin cari masalah dengan ibu kost, bisa-bisa diusir. Cari tempat kost susah di kota ini.


Dengan perasaan kecewa yang teramat sangat Sakti pulang kerumah. Harapan itu seakan sirnah seketika. Mungkin sudah takdir aq harus hidup sendiri dan mengubur mimpi indah untuk memiliki seorang pendamping hidup. Entah apa ini namanya" Ucapnya lirih. Sakti pun tidak menyangka akan diusirnya. Nafasnya terasa berat tambah pusing jadinya.


Ia istirahat dikamar pribadinya usai sholat Magrib. Suara Hp bergetar call dari Arvila . Sakti ogah mengangkatnya. Ia mencoba abaikan dan tak menggubrisnya. Terdengar panggilan kedua ia pun mencoba abaikan dan bergegas keluar dari kamar pribadinya. Sakti tidak ingin berurusan dengannya lagi bikin sakit kepala pikirnya.

__ADS_1


Sakti meraih rokok yang ada dimeja dan mematik korek api. Dihisapnya itu rokok dalam-dalam. Hanya rokok dan kopi teman dalam kesendiriannya. Ia biarkan Hp terus begetar dan tak pedulikan lagi. Entah sudah berapa batang ia hisap rokok. Tanpa pikir lagi Sakti meraih jaket mengunci pintu rumahnya. Tidak berapa lama mesin motor dinyalakan dan meluncur ke arah kota. Malam ini malam Minggu ia ingin mencari hiburan sebentar keluar. Sudah lama ia tidak malam Minggu.


__ADS_2