
Ada tiga orang yang asyik menyisir dipinggir tebing nan curam. Ketiganya tampak mencari-cari sesuatu. Rupanya mereka adalah masyarakat kampung yang sedang mencari kayu di bawah tebing. Mereka yaitu Bapak dan ke dua anak laki-lakinya. Jarak dari pemukiman mereka sangatlah jauh. sekitar lima belas kilo meter.
Mereka asyik bercengkrama mengamati sekitar. Pandangan mereka tertuju pada sesuatu.
"Bapak lihat ada orang tersangkut dipohon!" Teriak pemuda menunjuk sesuatu. Ia meyakini jika apa yang dilihatnya adalah tubuh manusia.
"Ah kamu salah lihat kapa anak?" Sahut sang bapak yang tidak begitu jelas melihatnya.
"Bapak itu orang bukan binatang" Ucap anak itu meyakinkan dengan apa yang dilihatnya itu.
"Iyo Bapak itu orang. Tapi bagaimana dia bisa tersangkut disitu? Bapak Jangan-jangan itu suwanggi" Teriak sang anak tertua membenarkan tentang apa yang dilihat dirinya dan sang adek. Namun dia mencurigai jika orang itu suanggi. Suanggi adalah makluk jadi-jadian. Menurut kepercayaan masyarakat setempat.
"Ah itu orang kakak tapi bagaimana dia bisa sampai disitu?" Tanya sang adek masih penasaran. Mereka menghentikan langkahnya. Mereka masih ragu dengan apa yang dilihatnya.
"Jangan-jangan orang itu jatuh dari atas?" Lanjutnya sambil melihat dari atas.
"Tuhan ampun tinggi itu. Dia masih hiduplah sudah mati itu orang? Jika ia masih hidup berarti dia sakti bapak" Tanya sang kakak penuh curiga.
"Iyo kita tolong dan bawa dia ke rumah tapi kalau dia sudah mati gimana ini kakak?" Sang adek mencoba untuk menolongnya.
"Husst!! Tidak usah sudah kita ke sini cari kayu nanti mama marah di kita" Jelas sang kakak keberatan menolongnya.
"Anak kita kasih tinggal sudah Bapak takut berurusan dengan Polisi" Sela sang ayah mencoba mengurungkan niat sang bungsu.
"Bapak tidak kasihankah sama dia?" Ucap sang bungsu menarik tangan sang bapak. Anak itu tampak berkaca-kaca melihat Sakti yang tersangkut di pohon dekat mereka berdiri.
"Kalau begitu saya akan membantu orang itu" Tampak sekali ia ngeyel ingin tetap menolongnya.
__ADS_1
"Markus!! Kau Tara dengarlah bapak kata!! Bapak malas berurusan dengan Polisi" Teriak Kakaknya setengah emosi hampir memukul Markus.
"Edu berhenti!" Teriak bapaknya melerai aksi Edu yang hampir memukul Markus.
"Bapak... kaka!! Tidak kasihankah dengan orang itu" Protes Markus sembari menangis keras hingga ingusnya meleleh keluar. Bapaknya tidak tega dengan permintaan anaknya yang baru berumur dua belas tahun.
"Tapi Markus itu bahaya bisa-bisa kita jatuh ke bawah" Jelas bapaknya.
"Bukankah jika menolong dengan hati tulus Tuhan akan berikan kita jalan Bapak?" Tutur Markus dengan polosnya.
Mendengar ketulusan hati Markus akhirnya pria paruh baya yang suka berburu dihutan itu menurutinya. Rasa cemas itu sirnah oleh kata-kata Markus yang polos.
"Edu kamu bantu bapak kita tolong orang itu" Suara berat ayahnya meminta Edu untuk membantunya.
"Baiklah bapak" Sahut Edu berjalan ke arah pohon itu dengan hati-hati.
"Kitorang tolong dulu" Sela bapaknya dengan sigap mencoba untuk menolong dengan tali seadanya yang mereka bawa.
Atas arahan dari bapaknya Edu membawanya turun dari pohon itu dengan mengikat pake tali. Dimana Edu sempat memeriksa keadaan Sakti." Tuhan kumohon selamatkanlah orang ini. Tuan sebelumnya saya minta maaf jika ini agak sakit tapi semua demi menyelamatkanmu" Bisiknya lirih mulai mengikat tubuh Sakti.
"Tuan ini siapa kenapa bisa tersangkut di atas pohon jatuhkah orang buang?" Lanjutnya bicara sendiri.
Tubuh Sakti seperti tiada daya tergolek lemah. Dengan penuh hati-hati Edu menurunkannya.
"Bapak dia masih ada nafas" Teriak Edu ke arah mereka. Dengan susah payah Edu
"Syukur sudah. Kamu ikat baik-baik e jangan sampe jatuh" Teriak Bapaknya meminta lebih hati-hati.
__ADS_1
Akhirnya dengan susah payah mereka membawa tubuh Sakti dari pohon. Medan yang ekstrim dengan kemiringan hampir Sembilan puluh derajat. Agak menyulitkan Edu. Apalagi ukuran tubuh pria dewasa yang lumayan berat. Sedikit saja salah mereka akan jatuh ke dasar jurang. Entah kebetulan atau mukjizat dari yang diatas. Semuanya berjalan dengan lancar. Terlihat Markus dan bapaknya dengan mulut berkomat-kamit membaca sesuatu.
Mereka adalah masyarakat setempat yang sudah terbiasa dengan kondisi alam belantara. Mungkin mereka meminta kepada sang penguasa alam untuk memberikan kemudahan jalan.
Ditempat berbeda.
Santi tidak dapat menemani Arvi dia harus kembali ke tempat tugasnya di distrik. Sebab Kepala Distriknya sudah berapa kali memintanya segara balik. Santi tidak bisa meninggalkan tugasnya.
Hari itu Santi sibuk mempersiapkan belanja beberapa kebutuhan untuk dibawa kesana. Tak tega melihatnya sendiri dirumah.
Sementara ipar Arvi pun sibuk dengan rutinitas hariannya.
"Semangat jangan menyerah! Aq tahu kamu wanita yang kuat dan tegar gak salah ia memilihmu" Ucap Santi pamit dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih kawan" Arvi lalu mendekap erat tubuh Santi. Butir air matanya mulai turun ke pipi.
"Aq minta maaf tidak bisa lama menemanimu. Aq janji jika sudah selesai cepat balik menemanimu lagi" Jelas Santi tersenyum mengurai pelukan dua saha
"Hati-hati kak!" Suara Arvi melambaikan tangan padanya.
Separuh hatinya tertambat di Arvi sahabat terdekatnya. Disatu sisi ia harus balik ke tempat kerja. Dengan tersenyum ia tinggalkan Arvi. Sebab bang ojek sudah siap mengantar ke pelabuhan. Kebetulan ada perahu ke distrik tempat Santi bertugas.
Rumah pun terasa sepi. Arvi mengamati seisi rumah.
"Apakah aq akan tinggal terus-terusan disini? Sementara yang punya rumah tak tahu rimbanya. Oh Tuhan aq harus bagaimana ini?" Arvi bermonolog sambil mengamati foto sang suami. Ia meraih bingkai foto di meja
"Jika kamu masih hidup kumohon segeralah pulang aq takut sendirian. Pulanglah apapun keadaanmu aq akan terima" Arvi menangis sejadi-jadinya sembari memeluk foto suaminya. Ia terlihat rapuh sekali. Betapa ia mengharap kehadiran Sakti saat ini.
__ADS_1
Arvi terlalu capek menangis sampe ia tertidur di sofa memeluk foto Sakti. Setidaknya hanya foto itu sebagai pengobat rasa rindunya. Jika Sakti melihat kondisi Arvi saat ini mungkin ia akan menangis dan percaya jika Arvi sangat mencintainya. Ia sangat rapuh sekali.