AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Kepedihan Hati Richat


__ADS_3

Selesai sarapan Junior dan sang mommy kembali ke Kamar. Sementara rekan kerjanya pun ikut undur diri untuk siap-siap balik ke Semarang dengan naik kereta siang Jam dua nanti.


Sampai di Kamar alangkah Arvi terkejut rupanya dokter Richat sudah ada di dalam kamar.


"Deddy!" Teriaknya berlari berhambur memeluk Deddy nya yang sedari tadi malam ia cari-cari dan rindukan.


Dengan penuh sayang Richat menciumi Junior sebab ia pun sangat rindu dengan anak itu.


"Deddy tidak rindu aq?"Rengek Junior yang sepertinya takut ditinggal sang Deddy.


"Tentu Deddy rindu Junior" Sahut Richat membelai rambut sang anak yang berambut ikal gantung. Sengaja Arvi tidak mengguntingnya sebab menurut mereka Junior ganteng dengan rambut ikal gantung itu.


"Deddy tadi kita sarapan dengan om Sakti. Deddy sudah sarapan?" Celetuk Junior tanpa ada perasaan bersalah.


deg deg ded


"Oh ya?" Sahut Richat tersenyum padahal hatinya sesek mendengarnya.


"Deddy kita jadi jalan-jalan?" Tanya Junior menagih janji Deddy nya.


"Tentu sayang. Tapi Tanya mommy mu dia bersedia tidak jalan dengan kita"


"Mommy kita jalan-jalan ya?" Tanya Junior penuh harap pada sang mommy.


Arvi hanya mengangguk setuju dengan permintaan keduanya. Sebagai seorang ibu tentu ia tak ingin membuat buah hatinya kecewa. Apalagi sejak semalam Junior terus menanyakan keberadaan deddynya. Ada rasa sedih juga bimbang dengan isi hatinya.


Bola mata Junior begitu berbinar-binar tatkala sang mommy mengangguk setuju menuruti keinginannya. Rasa suka cita menyeruak di hatinya. Mendung di hatinya berangsur menghilang semenjak kehadiran sang Deddy tercinta. sebab ia ingin jalan-jalan ke Jakarta. Sebab ini untuk ke dua kalinya ia ke Jakarta.


Melihat Junior yang girang karena mau di ajak keliling Jakarta. Tentu hati Arvi tersentuh. Betapa Junior sangat mencintai dokter Richat.

__ADS_1


"Saya harap kamu tidak menolaknya. Tolong kamu persiapkan untuk Junior. Mungkin ini yang terakhir"


"Apa maksudmu mas?"


"Aq tak tahu tidak punya banyak waktu untuk Junior" Ucap Richat berjalanke luar dari kamar itu.


"Kamu mau kemana mas?" Tanya Arvi penuh curiga.


"Sudahlah Arvi aq tak ingin membahas masalah kita di hadapan Junior. Bagaimana juga ia anakku" Jelas dokter Richat dengan tatapan mata yang jauh berbeda. Dari sorot matanya terlihat jika dia sangat cemburu dan kecewa terhadapnya. Tapi ia tak berani ungkapkan pada Arvi.


"Jangan lama-lama nanti Junior mencarimu" Ucap Arvi mengingatkan.


"Aq hanya keluar sebentar untuk merokok" Jelasnya seakan tidak ada beban di hati.


Arvi mengerutkan dahinya. Ada yang aneh.


"Sejak kapan dia merokok?" Ucap Arvi membatin.


Justru Arvi sangat penasaran kemana saja dokter Richat semalam. Tapi pertanyaan itu ia urungkan. Ia tak ingin ribut dihadapan Junior.


Arvi mengemasi barang mereka. Rencana dokter Richat ia ingin menyewa mobil hotel untuk mengajak Junior keliling kota Jakarta. Walau sudah beberapa kali ia ke Jakarta ia tidak pernah jalan-jalan mengunjungi Tugu Monas kebanggaan rakyat Indonesia.


Di kesempatan ini Richat ingin meluangkan waktunya untuk jalan-jalan sebelum balik ke Semarang walau hatinya makin perih ia mencoba untuk tegar. Ia tidak boleh terlihat cengeng di hadapan Junior.


"Apapun akan kulakukan untukmu Junior" Ucapnya dalam hati. Selama ini Juniorlah pengobat hatinya. Walau hati Arvi tidak dapat ia sentuh tapi Junior yang mampu membuatnya bertahan


******


Di lobby Hotel.

__ADS_1


Dengan santai ia menikmati setiap hisapan rokok yang diapit dua jarinya. Slogan merokok dapat mengganggu kesehatan yang ada di setiap bungkus yang terbuat dari tembakau dan cengkeh tidak ia pedulikan. Jika mengingat profesinya seorang dokter yang selalu bergelut dengan dunia kesehatan. Tentu akan memberi dampak yang buruk untuk para pasiennya. Apa kata dunia sudah ODGJ....????


Dalam pikirannya saat ini benda tersebut mampu mengurangi rasa kekalutannya saat ini. Yah hatinya lagi hancur berkeping-keping berserakan. Ia sangat frustasi dengan posisi ini. Bagai buah simalakama. Diluar prediksinya akan serumit ini akhirnya.


Tak disangka tujuan utama ke Jakarta untuk memberi surprise pada istrinya. Justru ia mendapat surprise jika suami pertama sang istri masih hidup. Ada perasaan malu bersalah dan berdosa pada Sakti. Richat merasa ia menjadi batu penghalang diantara mereka.


"Tapi bagaimana dengan Junior???"


"Haruskah Junior tahu tentang siapa ayah kandungnya"


"Apa dia sanggup berjauhan dengan Junior?"


"Lalu bagaimana dengan nasib perikahannya?"


"Haruskah mereka bercerai?"


"Apakah dia harus mengalah demi Sakti??"


"Lalu bagaimana dengan diriku?"


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi isi kepalanya. Andai di fisualkan dalam gambar pertanyaan itu menari-nari di atas kepalanya tiada henti. Dokter Richat jadi pusing sendiri.


Rasa kepalanya mau pecah mengingat masalah yang ada dipelupuk matanya. Terus dan terus ia isap itu rokok. Entah sudah habis berapa batang. Dari cara merokoknya dapat terlihat jika ia stress berat kayak kereta cepat. Terus dan terus tiada henti. Benda itu sedari tadi di isapnya untuk menemaninya tapi belum mampu menjawab akar maslaahnya.


Ia mengingkari ucapannya sendiri. Ya dokter Richat telah jatuh hati pada Arvi. ia tak rela melepas mereka dari sisinya. Ia terlena dengan kebersamaan diantara mereka. Ia melanggar tujuan awalnya.


Sebetulnya ia bisa saja merokok di kamar tapi ada Junior. Ia tak ingin memberi contoh buruk pada sang anak. Junior sudah menjadi separuh bagian dari hidupnya. Tak mampu jika ia berjauhan.


Richat sebetulnya bukanlah seorang perokok entah apa yang merasuki dokter ganteng berumur 46 tahun itu.

__ADS_1


Sepertinya aktivitas Richat diperhatikan Arvi. Tanpa Richat sadari Arvi mengikutinya. Ia meminta Junior untuk stay di kamar. ia beralasan ingin pergi ke kamar Mita sebentar mau ambil barang titipan padahal itu hanya alasan. Junior pun nurut aja apa kata mommy nya. Sebab Junior anak yang pintar dan gak neko-neko. Tapi kalau sudah merajuk susah di kendalikan kayak bapaknya.


Wahai pembaca yang Budiman jangan ditiru sikap Arvi barusan yang membohongi Junior. Ia hanya ingin memastikan keadaan dokter Richat baik-baik saja. Bagaimana juga ia pun merasa bersalah dan berdosa dalam posisi itu.


__ADS_2