AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Penuh Curiga


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul Sepuluh malam Sakti dengan motor CB 150 kembali membelah jalan menuju tempat kost istrinya. Tak lupa ia mampir ketempat sebuah warung memesan makanan untuk istri dan dirinya.


Tidak butuh waktu lama motornya telah memasuki halaman kost Arvi. Sakti berjalan ketempat tujuannya.


Sakti mengetuk pintu tempat kost Arvi tinggal. Tidak berapa lama dengan wajah mengantuk menyambutnya. Sakti tersenyum gembira. Tanpa ragu lagi Sakti langsung memeluk istrinya dengan erat. Sakti tak ingin melepasnya. Sakti sudah tidak peduli lagi jika ada yang menyaksikan kemesraan diantara mereka. Aroma istrinya seperti candu yang menimbulkan ketergantungan baginya.


"Aq kangen sekali dek sama kamu" Tuturnya menatap Arvi dan kembali memeluk erat tubuhnya.


"Saya tak ingin melepasmu lagi"


"Mas pulang sudah malam ini"


Perlahan Sakti melepas pelukannya menatapnya penuh curiga dan ada guratan kecewa menggelayutinya.


"Jangan bilang mas cemburu?" Sela Arvila melihat Sakti penuh curiga pada dirinya.


"Dek kita kan suammmm..."Telunjuk Arvi memberi isyarat untuk berhenti bicara agar tidak ada yg dengar.


Arvi tersenyum menatap suaminya yang kesel karena dilarang jujur.


"Santi tidak ada dek pulanglah kerumah"


"Tapi ini sudah larut mas besok aja" Kilahnya


"Kalau gitu aq tidur disini"


Arvi geleng-geleng kepala kalau suaminya mulai menuntut. Ia sadar karena itu bagian dari hak seorang suami.


"Lalu aq harus gimana?" Tanya Sakti penuh harap dan mencoba masuk ke dalam tempat kost tapi Arvi melarangnya masuk.


"Mas ntar aq bisa diusir dari sini kalau kasih masuk laki-laki ke dalam tempat kost"Arvi mencoba melarangnya masuk.

__ADS_1


"Aq ini sua...." Ucapan Sakti terhenti seketika Ibu sebelah ada keluar dengan kegaduhan mereka buat.


Ibu itu menatap keduanya penuh tanya. Kalau hanya sekedar teman tidak mungkin Karena Sakti udah balik ke tempat kost sebanyak dua kali.


"Tante maaf? kalau ganggu" Suara Arvi menyapanya.


"Arvi sudah malam. Pak sebaiknya pulang takut ibu kost marah" Dengan santun ibu itu meminta Sakti untuk pulang.


Ketika Sakti hendak menjelaskan, Arvi buru-buru membungkam mulut Sakti dengan tangannya.


" Iya Tante dia sudah mau pulang. Ia hanya mengantar pesanan saya koq"Jelasnya masih membekap mulut Sakti dan menunjukkan makanan yang dibawa Sakti. Tetangganya penuh curiga dengan sikap Arvi barusan yang salting.


"Oh iya sudah. Arvi lekas masuk sudah malam. Selamat malam semuanya" Ucapnya menyudahi dan kembali masuk ke dalam rumah.


Sebetulnya ia tahu ada rahasia yang sengaja mereka tutupi. Dari sikap Arvi yang salah tingkah dihadapannya. Dari dalam rumah kostnya terdengar percakapan keduanya membuat anaknya terbangun menangis.


Sakti melirik Arvila. Ia mencoba mengalihkan pandangannya. Sakti belum ngerti dengan apa yang diinginkan istrinya. Kenapa ia begitu? Kecewa sudah pasti. Inikah yang dinamakan cinta itu buta.


Ia dibutakan oleh cintanya pada istrinya. Sakti merasa tidak dihargai oleh sang istri.


"Sudah larut tidurlah dek. Mas pulang" Suara Sakti memecah kebuntuan diotaknya. Sakti melangkah pulang. Baru beberapa langkah dari belakang Arvi berlari memeluknya dari belakang. Terdengar Isak tangis istrinya.


"Hiks hiks "


Sakti membalikkan badan menatap istrinya yang menangis. Sakti segera memeluk mencoba menenangkannya. Ia mencium pucuk kepala istrinya yang terpaut 15 tahun darinya.


"Istirahatlah. Mas pulang dulu" Suara Sakti mencoba menenangkan istrinya yang masih berurai air mata. Arvila makin memeluk erat tubuhnya seakan tak mau ditinggal.


"Bukankah ini keinginanmu sayang bukan mauku seperti ini. Aq rasa istriku malu dengan perbedaan umur kami yang terpaut jauh" Batin Sakti lirih.


"Maafkan aq mas gak bisa jadi istri yang baik" Bisik Arvi dengan mata sembam.

__ADS_1


Sakti tersenyum mengusap rambut istrinya.


"Mas juga minta maaf tidak bisa menemanimu selalu. Tapi kalau ditelpon tolong diangkat"


Arvi tersentak mendengar penjelasan suaminya. Ia tersenyum menyadari kesalah pahaman diantara mereka.


"Hp ku rusak mas. Saya diajak Adi makan di Caffe dengan teman-teman di Komisi" Jelasnya mulai tenang.


"Kenapa tidak ajak mas?"


Arvi tersenyum dengan rasa bersalahnya.


"Malu jalan dengan mas?" Sakti menebak.


"Bukan begitu mas " Sahut Arvi membela diri


"Mas ngerti koq dek" Sakti menggoda Arvi dengan mengacak-acak rambutnya membuat istrinya makin jengkel di buatnya.


"Kamu suka Adi?" Suara Sakti bertanya.


"Apaan sih mas koq tanyanya gitu?"


"Ada angin apa kamu jalan dengan Adi?" Sakti mencoba mengintrogasinya.


"Ya Allah mas ada curiga saya toh?"


"Secara Adi jauh lebih muda, gagah dan tampan. Kurang apa coba?" Sindirnya.


Mendengar sindiran Sakti, Arvi tambah memeluknya dengan erat. Sakti makin ketawa dengan sikap manja sang istri. Betapa ia sangat mencintai wanita yang baru dinikahinya selama tiga hari.


Setelah agak tenang Sakti pamit undur diri meninggalkan Arvi tidur sendri ditempat kost. Barat rasa meninggalkannya tapi harus ia lakukan. Sakti lalu mengendarai motor CB 150cc menuju rumahnya. Tidak butuh waktu lama sekejab suaminya hilang dalam pandangannya.

__ADS_1


Angin malam berhembus dengan kencang petanda mau hujan. Tak ada satu bintang yang bertengger menghias di langit. Kilatan guntur nampak memecah langit menambah aura seram. Tidak butuh lama suara hujan bergemuruh dengan lebatnya. Arvi berlari masuk kerumah. Dalam pikirnya pasti suaminya terjebak hujan yang begitu lebatnya. Hanya doa yang bisa ia panjatkan semoga suaminya selamat sampai tujuan.


Segera Arvi merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur dengan spray biru bermotif bunga mawar. Perlahan suhu udara berubah drastis dingin menusuk tulang. Arvi menarik selimut menutup tubuhnya yang terasa dingin. Tidak berapa lama rasa lelah menggelayut membuat rasa ngantuk tak terelakkan. Tanpa ia sadari Arvi sudah terbawa kealam mimpi. Rasa lelah seharian membuatnya tertidur pulas. Segala persoalan sejenak ia lupakan ke alam tidur. Semoga mimpi indah😴😴😴


__ADS_2