
Arvi tertawa dengar Omelan sang suami. Yang sudah mengantuk.
"Tapi mas mau gak nolak?"
"Bukan mas ambisi dek ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai bawahan. Saya harap kamu paham dek"
"Siap Pak Kabag"
"Mas aq ingin memberi tahu pada Pak Ketua soal hubungan kita gimana?"
"Kita bahas lusa dek kalau mas udah balik ya? Biar mas yang bicara langsung ke beliau"
"Mas istirahat sudah malam. Besok kegiatan ngantuk" Pungkas sang istri mengingatkannya.
"Iya sayang mas juga sudah ngantuk. Mas tidur dulu Muuuach... Assalammualaikum Ucap Sakti yang sudah ngantuk berat sekali. Sepertinya matanya tinggal lima Watt.
"Waalaikum Salam. Hati-hati mas" Salam Arvi yang terus mengingatkan Sakti untuk terus berhati-hati selama di luar kota.
Pagi Hari.
Sebelum memulai kegiatan Sakti tidak sempat menghubungi sang istri sebab ia lambat bangun. Segera ia turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi bersama rekan kerjanya di lantai bawah. Sebab dari semalam ia belum makan. Ia lapar sekali.
Pihak Hotel telah menyediakan breakfast dengan aneka menu hidangan prasmanan. Sakti dengan lahapnya menyantap menu sarapan pagi itu.
Suasana lobi hotel tampak terlihat rame oleh beberapa staf dan Anggota Dewan yang ikut kegiatan Bapemperda. Dalam kegiatan itu tak lupa Biro Hukum Provinsi ikut hadir kegiatan tersebut. Mereka asyik bercengkrama sebelum memulai aktivitas.
Ruang aula kegiatan.
Kegiatan tersebut dimulai dari jam sepuluh pagi sampe jam lima sore. Kegiatan akan dilanjutkan esok hari. Walau capek Sakti mengikuti kegiatan tersebut dengan seksama. Sebab ia tak ingin kerja asal asalan. Ia ingin bekerja secara profesional.
Disela-sela waktu istirahat ia sempat berbincang dengan Pak Ketua yang kebetulan ikut.
"Bapak saya ada perlu sedikit di Pak Ketua mohon ijin "
"Soal apa anak?"Tanya Pak Ketua yang sudah menganggap Sakti seperti anaknya sendiri.
"Lebih baik saya bicara di Pak Ketua secara langsung"
"Bilang saja anak mumpung Bapak ada waktu"
"Ini soal Arvi Pak Ketua"
"Oh iya kasihan anak itu sakit-sakitan. Biar dia istirahat dulu. Bapak mengerti keadaannya. Maksudmu apa ini?"
"Bapak maaf sebelumnya jika baru memberi tahu soal kabar ini"
__ADS_1
"Kabar apa? Dia keluar dari Kantor. Aduh jangan masuk saja seperti biasa tidak usah dipaksakan" Tutur Pak Ketua kawatir dengan keadaan staf honor yang ada diruang kerjanya.
"Bukan itu Bapak. Kami sudah menikah bapak. Maaf kalau baru kasih tahu"
"Tuhan *****Kenapa tidak cerita? Saya kira kamu pacaran dengan putri Keuangan?" Pak Ketua tercengang mendengar penjelasan Sakti barusan.
"Jadi dia istrimu kenapa tidak kasih tahu dari awal?"
"Ceritanya panjang Pak Ketua. Kami menikah sekitar tiga bulan ini. Kalau awal itu saya juga baru kenal" Jelasnya
"Aduh Pak Kabag ini serang-serang anak buah saya rupanya? Bagaimana ceritanya bisa bapak tidak tahu" Tutur Pak Ketua memukul testanya sambil tertawa bahagia sembari menggoda Sakti.
Sakti tersipu malu mendengarnya.
"Pilihan Pak Kabag emang tepat dia gadis yang baik. Saya kira dia ada hati dengan Adi anak Komisi A. Rupanya anak mantuku Pak Kabag sendiri" Gerutu Pak Ketua tertawa terkekeh.
"Mungkin jalan Tuhan begitu Bapak"
"Kenapa kalian tidak ceritakan di Bapak?"
"Arvi yang tidak ingin dipublikasikan"
"Oh. Pesan Bapak tolong jaga dan sayangi dia". Ucapnya menepuk punggung Pak Kabag.
"Siap bapak"
Di rumah.
Arvi dengan aktivitas pagi harinya yang menguras tenaga. Aktivitas ibu hamil untuk trimester awal muntah yang berlebih. Kepalanya pusing rasanya hanya ingin muntah. Badannya terasa lemas. Hari ini tak ada kabar dari sang suami. Arvi tahu suaminya sibuk gak ada waktu.
Diraihnya ponsel diatas meja. Arvi mencoba menghubungi sang ibu. Ia sudah kangen. Kemana pun merantau selalu ingat sang bunda.
"Hallo" Suara Sang Ibu dari seberang sana.
"Assalammualaikum Ibu"
"Waalaikum Salam sayang gimana kabar? "
"Alhamdulilah Bu sehat"
Ibunya tak lantas percaya dengan keadaan anak bungsunya. Suara Arvi bergetar.
"Tapi suaramu seperti orang sakit nak?"
"Aq sehat koq buk, cuma gak enak badan sedikit" Jelasnya dengan suara serak terlalu banyak muntah.
__ADS_1
"Mana nak Santi? Suruh Santi temani kamu berobat" Tanya Bundanya menyuruh Santi temani.
"Bu! Kak Santi ada di distrik" Jelas Arvi.
"Ibu selalu kepikiran kamu nak.."Keluh sang Ibu terhenti mendengar Arvi muntah.
"Hueek Hueeek"
"Arvi... Arvi...Kamu kenapa nak?" Tanya sang ibu panik.
Arvi memutuskan panggilannya dengan sang ibu. Ia lebih fokus ke muntahnya. Begitu selesai Arvi mencoba menghubunginya lagi.
"Aduh Bu saya minta maaf kepalaku pusing sekali" Adunya yang masih manja dengan sang Bunda.
"Arvi kamu baik-baik saja nak? Pulanglah nak ibu merindukanmu"
Nafas Arvi terasa berat dan sesak. Hanya dalam hitungan detik air mata mengucur seperti hujan membasahi pipinya. Ikatan batin antara ibu dan anak tak terpisahkan. Arvi anak bungsu jadi sangat manja dengan sang bunda.
Flesbeck dulu kakak🤭🤭
Sebenarnya ibu Arvi Bu Hartono tahu jika Arvi telah menikah dengan Sakti. Tanpa sepengetahuan Arvi sang ibu menghubungi Santi. Santi menceritakan semuanya.
"Mama suami Arvi sangat baik. Arvi berhak untuk bahagia dengan pilihan hidupnya"
"Nak Santi mama mengerti. Puji syukur kalau Arvi ketemu jodohnya. Mama hanya bisa berdoa yang terbaik buat mereka. Semoga suaminya bisa membimbing Arvi"
"Syukur kalau mama mengerti"
"Terima kasih nak Santi mau cerita ke mama. Kalau bukan karena nak Santi ibu juga gak tahu keadaannya disana. Jujur saja Arvi semenjak merantau keluar dari rumah ia gak banyak ngomong. Bapaknya juga gak peduli lagi dengan Arvi. Dalam pemikiran sang ayah Arvi dianggap durhaka melanggar aturannya. Apalagi kalau ayahnya sampai tahu kini ia sudah menikah? Mama ini harus gimana nak Santi?" Ucap sang ibu berurai air mata.
"Mama yang sabar Arvi butuh waktu untuk menjelaskan semuanya. Arvi anak yang pintar "
"Karakter Arvi dan sang ayah sama-sama keras tidak mau mengalah. Arvi hanya ingin membuktikan kalau ia mandiri tidak bergantung terus pada ayahnya. Tapi Papanya ga mengerti dengan keinginan Arvi" Ibunya bercerita kepada Santi sampai terisak-isak menangis. Ia menyesal tidak mampu mendamaikan keduanya.
"Mama jangan menangis terus nanti mama sakit" Bujuk Santi dengan bijak.
"Makasih banyak Nak Santi sudah menjadi teman sekaligus keluarga Arvi diperantauan"
"Iya ma. Pasti aq pantau Arvi"
"Nak bisakah kamu kenalkan suami Arvi pada mama? Mama ingin bicara walau lewat Hp" Bujuk sang Ibu.
"Tapi ma aq gak punya no Hp nya. Tapi mama tenang saja pasti aq mintakan ke arvi" Jelas Santi.
"Baiklah Nak Santi kabari mama jika terjadi sesuatu pada Arvi mama gak bisa terus-terusan jauh darinya"
__ADS_1
"Ok mam" Pungkasnya mengakhiri percakapan dengan ibunya Arvi.