AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Masuk Kerja


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi alarm Smartphone berdering dengan kencangnya membangunkannya. Segera ia bangun menuju kamar mandi untuk wudhu menunaikan ibadah sholat shubuh. selesai sholat ia tidak langsung tidur karna dia ada kegiatan yang tidak kalah penting menyiapkan baju kerja yang akan dikenakannya. Kesan pertama jangan membuat si boss ill feel.


Sesuai dengan permintaan Sakti Arvila datang lebih awal dia tidak ingin mengecewakan orang yang telah membantunya. Jam setengah delapan dia sudah datang. sesampai dikantor dia duduk menunggu dihalaman kantor. Tidak berapa lama seseorang menyapanya.


"Terlalu tempo mbak datangnya" Suara itu membuyarkan lamunannya. Sapa OB Iwan yang membawa alat pel.


"Iya mas. Takut terlambat". Sahutnya setengah merunduk menyalami OB Iwan. "Kegiatan sidang jam 10 mbak biasanya molor" Lanjut OB Iwan mengemasi dan berlalu dari pandangannya. Arvila menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi kecemasannya sedari tadi.


Satu persatu pegawai berdatangan, tapi orang yang ditunggunya belum muncul. Sesekali ia tersenyum menyalami para pegawai kantor yang hadir. Entah dia ASN atau pegawai honor karena hari itu semua pake seragam batik.


Tibalah saat yang dinantikan orang yang ditunggu datang dari dalam lobi kantor ternyata dia masuk dari pintu belakang sehingga kedatangannya tidak diketahui.


"Pagi ayo ikut saya!" ajaknya menyalami, tanpa disuruh pun Arvila mengekor dari belakang mengikuti arahannya.


"selamat pagi pak!" Sapa beberapa pegawai yang melewati mereka berdua


" Pagi-pagi!!"sahut Sakti tersenyum dengan anak buahnya.


" Buset dia bos toh dikantor" lirih Arvila dalam batin sambil tersenyum membayangkan sesuatu seperti dalam film-film Drakor yang biasa kita lihat


🤭🤭🤭🤭.

__ADS_1


Sampailah diruangan kerja Sakti. Diatas pintu terpampang jelas tulisan Kabag Persidangan SAKTI PRANANDA PRASETYO, SE,. Baru Arvila tertegun kaget kalau orang yang berjalan dihadapannya Kabag Persidangan.


"Sungguh mati kenapa Arie tidak cerita kalau dia Pak Kabag"Gerutunya dalam batin. " Mari silahkan duduk!" Ajaknya mempersilahkan, sejak pertama bertemu Sakti tidak pernah menatap lawan bicaranya, mereka bicara hanya seperlunya saja tidak ada kata basa-basi. Arvila mau bertanya pun sungkan karena Sakti terlihat dingin dan angkuh. Apalagi sikapnya yang pendiam bikin susah ditebak. Mata sakti terlihat lebih fokus menatap leptop kerjanya.


" Makasih pak"Seru Arvila menimpali Sakti. Mendengar sebutan Pak Sakti mengerutkan keningnya mengalihkan pandangannya kearah wanita muda dihadapannya. Ia menatap heran panggilan Kak berubah jadi pak."Setua itukah aq hingga harus dipanggil Pak" Protesnya mengerutkan kening melepas kacamatanya. Arvila jadi salah tingkah dia cengar cengir sendiri.


"Rupanya Pak Kabag yang berambut putih itu ganteng juga " Batinnya mengagumi sosok pria yang beruban itu. Entah apa yang dipikirkan kenapa kearah itu.


"Ups.... Maaf pak saya harus panggil Bapak" seru Arvila meminta maaf tapi membuat sakti malah ill feel.


"Panggil seperti semula saja" Pinta Sakti yang lebih fokus ke leptop nya.


"Baik Pak eh salah Kak!" sahut Arvila belepotan. Sorot mata Sakti seraya melotot kearahnya. Arvila tersenyum salah tingkah.


" Besok-besok tidak usah pake high heels ntar kamu capek naik turun" Gerutu Sakti yang melirik high heels yang dipakenya. "Baik Pak. Eh salah Kak"Sahut Arvila membuat langkah Sakti terhenti. "Saya tua sekalikah hingga kamu panggil Pak?" Tanyanya menghentikan langkah tiba-tiba hingga Arvila menabraknya dari belakang. Mata mereka bertemu ada sorot yang terlihat berbeda dari gadis muda yang menabraknya dia tertunduk malu.


" Maaf!" suara lirih keluar dari bibir seksinya. "Sekali lagi aq dengar" sahutnya melotot melanjutkan langkahnya yang mula terhenti. Arvila menutup mulutnya tertunduk.


Akhirnya mereka tiba diruang kerja Ketua DPRD. Suasana rungan begitu rame oleh anggota keluarga untuk mengikuti acara Sidang Pelantikan karena pada hari ini Pelantikan akan dipimpin langsung oleh Gubernur. Suasana bising dan riuh oleh ativitas orang lalu lalang. Karena hari ini hari yang ditunggu-tunggu setelah proses panjang tahapan Pemilihan Anggota Legislatif yang menguras tenaga, pikiran, emosi dari lawan politik mereka. Dalam Politik tidak ada rival yang abadi teman jadi lawan, lawan jadi kawan. segala upaya akan dilakukan demi tercapainya ambisi manusia untuk memperoleh kekuasaan. Elite politik yang lebih suka menebar janji manis demi mencapai tujuan yang dikehendakinya.


Hari pertamanya bekerja Arvila mendampingi semua aktivitasnya Sakti. Awal mula gugup saat bertemu para anggota DPRD yang akan dilantik. Sakti pun sempat memperkenalkan Arvila kepada Ketua DPRD Pak Simon kalau dia yang akan membantu dan menghendle tugas dan kerja beliau.

__ADS_1


"Mohon petunjuk dan bimbingannya Pak Ketua" Ucap Arvila penuh semangat dan yakin kalau dia mampu diberi tanggung jawab sebagai staf yang diperbantukan di ruang pak ketua.


"Semoga kita bisa bekerjasama secara profesional" sahut Pak Ketua berjabat tangan sembari menebar senyum bahagia kalau anak buahnya sangat cantik dan masih muda. Sesekali Sakti mengarahkan apa saja kerja n tugas-tugasnya sebagai staf yang diperbantukan diruangan Ketua DPRD sebelum dan sesudah sidang baik sidang APBD maupun Non APBD. Sakti tidak mau bawa staf kerja yang asal asalan.


"Satu pesanku jangan buat saya kecewa".Sakti mengingatkannya.


"Baik Pak, eh maaf kak. Terima kasih atas bimbingan dan nasehatnya". Ulurkan tangan ke arah Sakti untuk ucapan terima kasih tapi dibalas tanpa ekspresi Sakti. Arvila jadi salah tingkah malu karena Sakti tidak mau jabat tangan apa ia malu atau gengsi karena dia ga mau.


"Jangan-jangan dia takut ketularan penyakitku kalau kesentuh perempuan atau emang dia jaim " umpatnya sendiri.


😂😂😂😂


Kegiatan pun dimulai rombongan Gubernur bersama Bupati dan para jajaran SKPD hadir tanpa terkecuali dengan pengamanan yang ketat. Walau kegiatan molor dari jadwal akhirnya selesai juga tanpa halangan. Sesi ramah tamah dipakai untuk bersua foto dengan para anggota DPRD dan keluarganya .


Hari telah sore, walau acara telah usai tamu undangan telah kembali ketempat masing-masing. Arvila tidak dapat pulang ikuti Pak Ketua yang telah pulang bersama rombongan keluarga. Dia tidak enak hati melihat teman-teman kerjanya yang masih sibuk berbenah usai kegiatan sidang. Apalagi dia orang baru pertama masuk kerja. Pesan Arie jangan bikin Sakti malu.


Tidak terasa waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Para pegawai sudah pulang sebagian kantor pun mulai sepi. Takut terjadi sesuatu Sakti mengajaknya pulang karena anak ini tidak bawa motor. Arie tidak banyak cerita tentang Arvi. Ia hanya meminta tolong untuk membantunya memasukan kerja di Kantor.


"Ada yang jemput?"Tanya Sakti cuek tapi perhatian juga dengan anak buahnya.


"Sudah tidak usah malu-malu kalau ikut"Tawarnya tersenyum menggoda. Mendengar tawaran Pak Kabag Arvila mengangguk setuju kebetulan satu arah. Jam segitu rawan untuk anak gadis kalau naik ojek malam-malam. Biasanya banyak orang mabuk dijalan-jalan.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan pulang keduanya tidak ada pembicaraan, terlihat dengan jelas kalau Arvila takut untuk mengobrol. Ada rasa canggung pada atasannya. Tidak terasa sampai dimata jalan ketempat kosnya. sebetulnya mobil bisa masuk tapi Arvila menolak tawaran Pak Kabag yang terlihat cool.


__ADS_2