AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Tulus Mencintaiku


__ADS_3

Hujan semalam membuat badan nya terasa demam. Bahkan suara azan subuh berkumandang tak membuatnya beranjak dari tempat tidurnya. Ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk ibadah sholat subuh. Sakti tak sesakti orangnya bisa sakit karena hujan.


Suasana kantor berjalan seperti biasa. Apel pagi bagi para ASN dan tenaga honor baik di Sekwan maupun staf yang ada di DPRD. Arvi tidak melihat kehadiran suaminya.


"Gak biasanya Mas Sakti telat gak ikut apel" Batinnya bertanya penuh harap cemas semoga suaminya tidak terjadi apa-apa.


Bahkan Pak Sekwan memberi arahan apel pagi tidak disimaknya dengan baik. Sebab hati dan pikirannya ketempat lain. Teman-teman sekantor begitu memperhatikan secara seksama arahan dari Pak Sekwan selaku pembina apel pagi.


Selesai apel pagi Arvi menemui OB Iwan yang akrab dengan Sakti.


"Ada apa mbak ayu?" Sapanya dengan ramah.


"Mas saya bisa minta tolong"


"Tolong apa mbak?


"Mas Hp ku ada error' tolong telp kan Pak Kabag" Pintanya dengan hati-hati melihat orang disekitar mereka.


OB Iwan tertawa dengan semangat


"Wah kangen toh? Bilang dari tadi "


"Soal kerjaan mas" Kilahnya berbohong.


"Tumben dia gak masuk? Jangan sampai sakit" Iwan berkomentar.


Iwan mernuruti keinginan Arvila. Hp aktif tapi tidak diangkat. Mungkin ada lebih dari tiga kali Iwan mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat. Tidak berapa lama staf Pak Sekwan menepuk bahu Iwan dari belakang.


"Mas Iwan Pak Sekwan ada panggil"


"Oh iya pak siap meluncur" Sahutnya sembari berkelakar.


"Mas kayaknya harus ke Kantor Bupati sekarang"

__ADS_1


"Oh kalau gitu saya panggil sopir sekalian untuk siap-siap"


Iwan pun pamit menghadap Pak Sekwan.


Iwan sempat menghubunginya tapi tidak diangkat. Percakapan mereka terhenti karena Iwan disuruh salah satu staf Pak Sekwan antar Surat Ke Kantor Bupati. Arvi pun segera masuk keruang kerjanya.


Rupanya hari ini Pak Ketua tidak masuk kantor katanya ada urusan pribadi OB Iwan yang kasih informasi dari Pak Sekwan. Tidak butuh waktu lama segera ia berkemas-kemas ruangan.


Arvi meminta ijin sama OB Iwan untuk ikut dia mau minta tolong di antar ke tempat Pak Kabag. Sakti mengaku ke orang kantor kalau mereka masih saudara. Tapi OB Iwan tidak percaya begitu saja kepada atasannya. Kalau hubungan keduanya bukan saudara melainkan lebih dari itu. Dari cara dan sikap Pak Kabag memperlakukan Arvi.


"Buaya mau di kadali ha ha ha" Batin mas Iwan tertawa geli.


Sang sopir dan OB Iwan pun menuruti keinginan Arvi. Keduanya hanya tersenyum penuh tanda tanya.


"sampai sejauh mana sandiwara ini berakhir" Batin Iwan tersenyum geli. Tapi ia tak ingin membuat Sakti malu.


Akhirnya mereka sampai ke kediaman Sakti yang asri. Suasana rumah terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Arvi turun dari mobil mengamati keadaan rumah. Ia berdiri mematung dengan menggantung tas di tangan.


"Mbak Arvi berani toh masuk kedalam?" Suara Iwan menegurnya.


"Jangan-jangan Pak Sakti sakit? Tumben dia gak masuk kantor" Iwan pun akhirnya turun dari mobil mengikuti Arvi.


"Itu ada mobil dan motornya berarti dia dirumah"


"Hubungi Hp Pak Sakti saja" Celetuk Sopir memberi ide.


Tanpa dikomando Iwan merogoh Hp di saku celananya. Segera ia menghubungi Sakti.


"Hallo Assalammualaikum Pak Boss! Posisi?" Suara Iwan menyapanya lewat Hp.


"Waalaikum Salam mas. Iya saya dirumah ini. Kenapa mas?" Sahut Sakti dengan suara serak dari Hp.


"Oh saya kira Pak Sakti Sakit? Ini pak saya antar ceweq cantik dia udah kangen ingin ketemu Pak Kabag" Canda OB Iwan.

__ADS_1


Mendengar itu Arvi melotot ke Iwan, si sopir hanya ketawa.


"Ada-ada saja mas. Iya saya lagi tidak enak badan mas makanya gak masuk kantor".


"Kalau gitu kami permisi dulu mas buru-buru mau antar surat ke Kantor Bupati yang kemarin mas bikin. Assalammualaikum " Jelasnya dengan sigap.


"Waalaikum Salam"


"Ada didalam mbak Pak Kabag sedikit lagi keluar. Mbak Arvi kami jalan dulu. Salam buat Pak Kabag. Assalammualaikum!" OB Iwan pamit padanya.


"Waalaikum Salam. Makasih ya mas" Sahut Arvi melambaikan tangan.


Sopir dan OB Iwan masuk ke mobil sembari melambaikan tangannya. Tidak berapa lama mobil pun melaju keluar dari pekarangan rumah Sakti menuju jalan raya.


Arvi semula masuk lewat pintu depan tapi dari dalam rumah.


"Lewat samping saja" Sakti beteriak memintanya masuk dari samping dekat dari Kamar Sakti. Rupanya Sakti tidak menguncinya. Sakti sudah tahu kalau tamunya pasti Arvi kalau Bu Hanna tidak mungkin diantar mas Iwan.


Sakti duduk menyandar di sofa ruang tengah. Arvi bergegas mendekati suaminya yang terlihat pucat dan loyo di sofa.


"Mas sakit?" Tanya Arvi menyentuh keningnya yang terasa hangat.


"Mungkin mas kecapean semalam kena hujan". Suara Sakti terdengar serak dengan mata terpejam.


Sakti meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat. Ia mencumbu istrinya yang berpakaian rapi di kantor. Yah dia meminta jatah pada istrinya. Pembaca yang terhormat bisa membayangkan apa yang dilakukan Sakti selanjutnya.🤭🤭🤭


Dengan penuh sabar Arvi merawat suaminya. Bahkan ia meminta istrinya untuk mengerok tubuhnya. Sakti tahu istrinya orang Jawa pasti tahu cara kerokan. Dengan penuh sabar dan kasih sayang Arvi mengikuti permintaan suaminya. Sakti yang lagi kasmaran dengan istrinya anak buah Pak Ketua DPRD.


Mengerok tubuh dengan menggunakan minyak kayu putih merupakan cara tradisional yang dipake orang Indonesia terutama orang jawa. Cara tersebut dipake orang Jawa dari turun temurun. Terutama untuk mengobati masuk angin.


Metode kerokan masih dipake sampai sekarang. Dari segi medis belum ada penelitian yang membuktikan teori ini tapi dengan cara dikerok dengan benda tumpul seperti uang koin tubuh akan terasa lebih rileks dan nyaman.


Bagaimana dia tidak kembali segar kalau kebutuhan batinnya terpenuhi. Hasrat seksnya telah terpenuhi membuat tubuhnya terasa segar. Segala persoalan terasa ringan. "Kenapa tidak dari dulu aq berjumpa istriku yang masih polos tapi gigih telaten merawatku. Apa ini jawaban dari Tuhan di setiap doa-doaku sesudah sholat" Batin Sakti mengagumi istrinya yang masih muda.

__ADS_1


"Apa dia tulus mencintaiku apa adanya" Pertanyaan yang terus menghantuinya. Tapi manusia tidak ada yang sempurna.???


__ADS_2