AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Suara Junior


__ADS_3

"dreet ....Dreeet ....Dreeet.."


Ponsel Arvi bergetar terlihat ada panggilan masuk lewat WhatsApp.


Sakti hanya memperhatikan Arvi. Sepertinya ia enggan mengangkat panggilan dari dokter Richat. Sakti tahu jika itu sangat membuatnya cemburu juga sakit hati. Teman dekatnya tega menikamnya dari belakang. Itulah pemikiran Sakti yang penuh rasa benci dan dendam pada sahabatnya dokter Richat.


Arvi tak kunjung mengangkat hingga dua kali panggilan masuk ke ponsel pintarnya. Ia ragu dan bimbang antara iya dan tidak mengingat ada Sakti di Sampingnya. Arvi sadar jika Sakti sangat penasaran dengan keadaannya saat ini. Mengingat sudah tujuh tahun lamanya tidak ketemu. Riak-riak rindu memenuhi otaknya. Walau sudah tujuh tahun tapi rasa itu masih ada.


"Angkat!!" Pinta Sakti penuh penekanan yang disambut tarikan nafas Arvi yang panjang.


Rasa grogi langsung memenuhi hatinya. Bagaimana ia tidak gemetar jika harus menerima telepon dari dokter Richat di depan Sakti. Rasanya suasana perang dunia ketiga mau pecah.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan!"Bisiknya penuh keraguan. Sakti yakin jika dirinya tidak enak hati.


"Ya, ada apa mas?" Suara Arvi terdengar kikuk dan terlihat tidak nyaman sekali. Rupanya Junior yang menghubunginya.


"Mommy aq kangen kenapa mommy baru angkat telpon?" Suara Junior memprotes tindakan sang mommy yang sudah dari tadi telpon baru sekarang diangkat.


"Ehmm.." Suara Sakti berdehem Sebab mata Sakti terus mengintai gerak gerik Arvi sedari tadi.


"Mommy itu suara siapa?" Tanya Junior penasaran dengan suara deheman orang dewasa.


Arvi tergagap mendengar pertanyaan Junior barusan sambil melirik ke arah Sakti, Ia memberi isyarat dengan telunjuk agar Sakti tak bersuara.


"Tidak ada siapa-siapa sayang ini mommy hanya di kamar sendiri" Jelas Arvi berbohong. Tentu mendapat tatapan tajam dari Sakti.

__ADS_1


"Sepertinya istriku mulai banyak bohong" Batin Sakti curiga. "Lalu anak yang menghubunginya ini siapa anakku atau anak Richat? Mengapa harus berbohong?" Lanjutnya membatin.


"Mommy gak kangen dengan Deddy? Mommy kata Deddy mau ajak Junior ke Oma dan Opa di Papua. Mommy ikut ya?" Celoteh Junior lewat telepon. Mendengar celotehan Junior barusan Sakti mulai bertanya-tanya. Rasa keingin tahuannya semakin besar.


"Katakan siapa anak itu?"Tanyanya penuh slidik menggenggam erat lengannya hingga kesakitan. Sebab Arvi mencoba untuk melepaskan pegangan erat tangannya. Arvi mencoba untuk tenang agar Junior tidak mencurigainya jika ia sedang sekamar dengan ayah biologisnya.


"Mommy bicara dengan siapa?" Tanya Junior curiga sebab Sura Sakti lumayan kencang terdengar di ponsel.


"Tidak ada sayang itu suara televisi di kamar hotel" Jelas Arvi masih mencoba untuk setenang mungkin.


"Sejak kapan Mommy nonton sinetron?Nanti Deddy marah biasanya mommy suka nangis kalau malam-malam. Kasihan Deddy tidur sendirian terus mommy jahat gak mau temani Deddy" Celotehnya dari sambungan telepon.


Ingin rasanya ia menutup mulut Junior agar tidak bicara kemana-mana. Rupanya Junior seperti orang dewasa. Jantungnya mau copot mendengar protes sang anak yang mengkritiknya tidak mau tidur seranjang dengan Deddy nya. Sebab Sakti memperhatikan pembicaraan mereka berdua tentu membuat Arvi mendapat tatapan penuh curiga. Ada rasa malu ketika Junior menyindirnya suka menangis Berarti selama ini diam-diam memperhatikan Arvi jika sedang menangis. Ya selama ini ia sekamar dengan Junior bukan dengan Richat.


"Junior sayang Deddy kemana?" Tanya bundanya untuk menghentikan ocehan sang anak yang membuatnya malu.


"Tentu sayang mommy kangen Junior tapi mommy harus kerja besok mommy usahakan selesai kegiatan langsung pulang. Junior minta apa nanti mommy belikan" Ucapnya menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Mommy okey?"


"i'm okey "


"Tapi kedengarannya mommy nangis?" Junior menebaknya. Junior memang anak yang cerdas seperti ayahnya. Makin tidak terbendunglah air matanya.


"Mommy nangis karena rindu Junior! Mommy segera pulang tunggu mommy dirumah sama deddy" Jelas Arvi masih menyeka air matanya.

__ADS_1


Seharusnya ia bahagia bertemu sosok yang selalu ia rindukan selama ini. Sosok pria matang yang telah mencuri hatinya selama ini. Hingga membuatnya mati rasa. Bukan hujan tangisan dan pikiran yang menjalar kemana-mana tidak jelas. Malang betul nasib Arvi.


"Oh Tuhan kenapa hatiku sakit sekali mendengar umpatan Sakti"Tanyanya dalam hati tidak terima dengan tuduhannya.


Dari jauh samar-samar terdengar Junior merengek pada Richat. Laki-laki yang selalu memperlakukannya dengan sopan selama ini.


"Arvi gimana kalau aq nyusul ke Jakarta?" Suara Richat yang membuatnya makin spot jantung. Entah kenapa tiba-tiba sambungan mereka terputus karena jaringan tiba-tiba lenyap. Bukan sengaja mematikan tapi yang terlihat dilayar ponselnya hanya menghubungkan saja.


Sakti makin curiga.


"Kenapa di matikan? Kenapa kamu tidak katakan jika ada aq suami aslimu? Katakan anak siapa? Anakku???" Bentak Sakti penuh slidik. Ia sudah tidak sabar ingin menggali keterangan pada istri yang ia nikahi tujuh tahun lalu.


Arvi hanya diam menatap Sakti dengan air mata yang terus menghujan. Entah sudah berapa kali ia menyekanya tapi tidak kunjung henti. Air mata itu makin deras saja mengalir di pipinya yang halus. Sakti makin tidak tega memaksanya.


"Dia anak Richat" Ucapnya memalingkan muka. Mendengar jawaban Arvi bak petir yang menyambar tubuhnya. Hatinya sakit mendengarnya. Sakti berharap jika anak itu adalah anak mereka. Buah dari cinta mereka tapi nyatanya Arvi berkata jika anak itu adalah anak Richat.


Tubuh Sakti seketika lemas mendengarnya. Jika Sakti tahu Arvi sedang berbohong tentu dia akan marah sekali telah berani membohonginya.


"Tunggu Arvi!!" Bentak Sakti melarang Arvi yang ingin keluar dari kamar hotel yang ia boking atas namanya. Sepertinya Arvi ingin kabur meninggalkan Sakti yang terlihat loyo. Bukan loyo setelah olahraga diranjang. melainkan loyo dengan jawaban Arvi. Suasana kamar itu terasa minim oksigen yang ada ketegangan diantara keduanya. Antara rindu dan benci suami istri.


"Tidak cukup jawaban yang kuberi" Ucapnya meyakinkan Sakti agar percaya.


"Kau bohong!! Katakan sejujurnya jika dia adalah putraku" Bentak Sakti masih tidak puas. Ia menuntut kejujuran dari Arvi. Cepat atau lambat akan terungkap juga Pikir Sakti.


"Dia anak Richat berapa kali harus ku jelaskan padamu!! Aq pergi dulu rekan kerjaku sudah menungguku" Jelas Arvi keluar dari kamar Sakti.

__ADS_1


Sakti tidak bisa menahannya lagi. Batinnya yang penting mereka masih satu hotel. Mereka masih bisa beremu. Dengan perasaan curiga dan masih tidak percaya Sakti melepas kepergian istrinya. Hatinya belum iklas sepenuhnya ditinggal Arvi.


"Tidak akan aku biarkan lepas begitu saja. Bagaimana pun kamu tetap istriku. Istriku selamanya. Aku akan memperjuangkan mu kembali" Batinnya bersumpah pada dirinya sendiri. Tentu ada hati yang tersakiti


__ADS_2