AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Hari Kedua Kerja


__ADS_3

Memulai hari kedua kerja sesuai dengan petunjuk Pak Kabag kalau dihari on time jam delapan harus ada dikantor. Setiba dikantor tampak sepi hanya ada OB Iwan yang selalu datang jam tujuh pagi. Melihat Arvila datang tempo OB Iwan menyalaminya. "Loh ga ikut jalan Dinas mbak?" Tanya mas Iwan sambil membersihkan meja lobi kantor. "Jalan Dinas? Kemana?". Tanya Arvila cengar cengir yang emang ga tahu agendanya apa hari ini." Oh saya kira mbak ikut". Sahutnya lagi Arvila hanya geleng kepala pelan. "Mas kunci ruangan Pak Ketua ada dimana?" Tanya Arvila yang tidak mengetahui ada dimana."Sebentar aq ambilkan mbak" Serunya bergegas mengambilkan kunci di bagian umum.


Ketika berdiri menunggu OB Iwan terlihat sosok pria berambut putih datang mendekat. Dengan senyum khas disambutnya Kabag yang mengantarnya pulang semalam." Pagi Pak!" Sapanya tersenyum tapi dibalas muka cuek dan datar"Apa salahku?"Bertanya dalam diri seketika teringat kalau tadi memanggil dengan sebutan pak."Lupa terus" Timpal Sakti mengingatkan, dengan tersipu malu Arvila tersenyum dengan kepikunannya tadi.


OB Iwan lama sekali membawakannya kunci ternyata dia disuruh pegawai lain terpaksa ambil sendiri.


Diruangan Pak Ketua dia duduk melamun. Entah angin apa lamunannya ternyiang dengan wajah Pak Kabag yang super jutek sok cool dan ga ada senyum-senyumnya. Biar sudah berumur ganteng dan kharismatik wajahnya. Pikirannya mendadak buyar seketika. Yah orang yang barusan dipikirkan ada muncul dihadapannya. "Eh Pak Kabag!"sahutnya salah tingkah. Rupanya dia tidak mendengar ketukan pintu tadi. "Eh masih muda su pikun. Pagi-pagi udah melamun, pacarmu marah semalam kuantar" Sambutnya dengan gaya perfectnya Arvila perlahan mundur Kedinding agar tidak menghalanginya. "Kenapa kamu takut? aq ga gigit" Cetusnya melihat sikap Arvila yang takut didekati." Ah Bapak. Eh salah Kak"jawabnya salah lagi hingga Sakti melotot kearahnya. Senyum manisnya meluluhkan hati setiap kaum Adam. "Sudah berapa anaknya kak?"Tanyanya mengalihkan topik biar tidak tersudut. Entah yang keberapa pertanyaan itu tertuju untuknya. Jawab jujur salah tidak jawab dikira bohong. "kenapa tanyanya menjurus gitu?" jawabnya sewot melirik tajam ke arahnya, Arvila tidak berani menatapnya hanya tertunduk. "Maaf kak saya ga tahu mau tanya apa?" sahutnya asal membela diri. Sakti memperhatikan raut wajah Arvila terlihat tegang dan takut. "Eh Santai bro jangan tegang" Hiburnya mencairkan ketegangan diantara mereka. seketika Arvila tersenyum kecil. "kak makasih e traktirannya makan siang kemarin" Timpalnya mengingat kalau dia belum sempat ucapkan terima kasih karena buru-buru diputus sewaktu telpon." Oh itu sama-sama. Kamu sudah ketemu Arie?"Tanyanya, Arvila hanya geleng kepala. "Kak boleh aq nebeng pulang"Pintanya memohon dengan hati-hati. Sakti mengangguk pelan. "Kakak ipar tidak cemburukan kalau aq numpang"Lanjutnya dengan tingkahnya manja. Batin Sakti ketawa geli apa Arie tidak cerita kalau aq belum menikah masih membujang diumurnya 37 tahun. Sakti hanya tersenyum-senyum mendengar kata kakak ipar tidak cemburu. batinnya"kamulah yang akan menjadi kakak ipar" Senyumnya dalam hati.

__ADS_1


Hari kedua kerjaan tidak terlalu banyak, yang ia lakukan hanya membereskan ruang kerja Pak Ketua yang berantakan karena kemarin banyak tamu yang masuk keruangan. Selebihnya dia gunakan waktu memperbaiki lemari arsip untuk mempermudah dan merapikan surat masuk dan surat keluar. Sewaktu istirahat sebentar datang Sakti mengecek hasil kerjanya hari ini. Sepertinya Sakti senang dengan kinerja yang ditunjukkan Arvila dihari keduanya bekerja. sebetulnya dia ingin kepo tentang Pak Ketua tapi diurungkan niatnya takut salah sangka. Apalagi mereka belum kenal satu sama lain.


Istirahat siang, suasana kantin begitu rame dengan santai Arvila memesan makan untuk makan siangnya perutnya udah kroncongan dari tadi pagi gak sempat sarapan. Diujung terlihat sepi sehingga dipilihlah untuk menikmati makan siangnya. Alangkah terkejutnya kalau tempat yang dipilihnya juga menjadi incaran Sakti. Entah kebetulan atau sengaja karena keduanya kaget. Mau tidak mau mereka menikmati makan siang bersama. Banyak teman sejawat yang memperhatikan mereka bahkan pada menggoda mereka. Sakti hanya tersenyum dingin sementara Arvila merasa canggung karena harus makan bareng atasan. Mula dia ingin pindah ke meja lain tapi Sakti melarangnya.


Selesai makan, Arvila bangkit mohon izin untuk kembali ke ruangan terlebih dahulu "Kak saya ijin keruangan duluan!" Arvila meminta izin diluan. "Ssssttt...," Sakti mendesis dan membuka dompet mengeluarkan uang satu lembar seratus ribu kepada Arvila. Agak sungkan sih tapi ia bergegas membayar makan siang mereka berdua.


Sesampai diruangan terlihat sosok yang tidak asing olehnya ternyata Arie ada datang ke kantor mencari Sakti. Kejadian di kantin barusan akan menjadi gosip trending di kantor.

__ADS_1


Jujur aja Sakti malu dan risih kartunya diumbar teman kliknya."Mana coba maituamu kasih tunjuk"Lanjut Arie tertawaan Sakti menahan malu dihadapan gadis cantik." Ada toh dirumah"Seru Sakti gak mau kalah. "Kenalin ya kak!"Pinta Arvila tiba-tiba. Sakti gak menyangka Arvila menganggapnya serius soal istrinya dirumah. "Mau taruhan berapa kalau maitunya itu benar-benar ada!" Timpal Ari lagi yang terus menyudutkan Sakti dengan main taruhan. Sakti hanya geleng-geleng kepala melirik Arie yang kebablasan bercandanya. Arvila mengangkat kedua bahunya petanda gak ada ide." Bagaimana kalau traktir makan di Resto Tube yang enak"Kelakar Arie dengan menggerakkan kedua alisnya."Bakar trus!" Seru Sakti, Arvila hanya tertawa-tawa menikmati candaan di siang itu. "Betul e kawan!"Tanya Arie merangkul Sakti yang membuka pintu ruang kerjanya. Sakti hanya tersenyum. " Kak mohon ijin saya keruangan" Arvila memohon diri untuk ke ruang kerjanya. "Loh saya kira kamu diruangan sini?".Tanya Arie menimpali, " Tidak saya ditempatkan diruangan Pak Ketua".Sahutnya menunjuk ke ruangan bosnya."Raja tega kamu gadis secantik dia bukannya ditaruh diruang kerjamu palah dikasih Pak Ketua!" Gerutu Ari menyudutkannya lagi sahabatnya. Sakti memukul pelan bahu Arie yang mencoba menghindar." Sembarang saja!" celetuk sakti


"Pak Ketua juga butuh staff daun muda bukan daun kering" Canda Sakti melanjutkannya.


"Ehhh... Kenapa buru-buru Pak Ketua juga gak ada lagi Pergi itu" Larang Sakti seketika.


Iya tadi mas Iwan kasih tahu, cuma aq lupa tanya Kak Sakti" Serunya tersenyum. "Iya Pak Ketua ada Jalan Dinas ke Dapil sebelah". Jawab Sakti membenarkan, Arvila mengangguk paham dengan yang dimaksud "Macam dari tadi aq perhatikan Arvila kamu panggil Sakti dengan sebutan kak? Macam Sakti ini Kakak pembina Pramuka kah!" Protes Arie merasa aneh dan ganjil.

__ADS_1


"Sialan..!! "Sahut Sakti mau meninju Arie yang banyak protes. Arvila tersenyum dengan riangnya "Dari pada panggil Pak dikira aq ini bapaknya" Gumam Sakti dalam hatinya. "Panggil aja mas kamukan orang jawa" Arie memberikan ide padanya. "Baik boss!". Arvila setuju dengan paggilan tersebut.


Arvila menyudahi pertemuannya dengan dua sahabat itu, dia tidak ingin mengganggunya. Siapa tahu ada hal penting yang ingin dibicarakan mereka.


__ADS_2