
Suryo memberikan obat itu padanya. Ia hanya diam tanpa berkata apa-apa. "Jika betul ia hamil dengan siapa???? Sebab ia akrab sama siapa aja. Apa mungkin dengan Bapak" Batinnya penuh curiga.
"Tapi mana mungkin aq yang sering dampingi beliau kemana-mana" Bisik hatinya lagi.
"Selain bapak siapa lagi yang dekat dengan dia? Pak Sakti juga akrab, Adi atau OB Iwan pun akrab. Wah gawat ini" Ia berbicara sendiri dalam hati.
Sepanjang jalan pertanyaan itu yang terputar diotaknya. Ingin tanya tapi malu. Akhirnya ia putuskan untuk tidak bertanya. Ia tak ingin mencampuri urusan pribadinya. Melihatnya sakit aja ia panik tak ingin menambah beban pikiran Arvi.
Santi tampak begitu kawatir akan kondisi Arvi yang pulang diantar sopir Pak Ketua. Arvi meminta diantar ketempat kost sebab ada Santi yang memperhatikannya.
Flashback finis
Suasana Kantor. Sakti masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia tampak serius. Sebetulnya ia ingin bertanya soal keberadaan Arvi di mas Iwan tapi ia lupa karena pekerjaan yang menumpuk. Sakti tipikal orang yang gila kerja. Jika sudah menyangkut dengan pekerjaan semua waktu dan tenaganya ia curahkan. Loyalitas kerjanya yang tinggi hingga ia menjadi anak emas dari Pak Sekwan dan Pak Ketua.
Arvi tahu jika sang suami pekerja keras. Orangnya ulet dan gigih jika bekerja. Hanya kadang sang istri merasa cemburu jika Sakti sudah bekerja. Seolah-olah dia di nomor duakan. Pekerjaan lebih penting dari sang istri. Terkadang ia tidak ingat dengan isi perut yang minta di isi.
Sakti berjalan kearah ruang kerja istrinya. Ruang kerja Pak Ketua tampak sepi. Dari belakang ada seseorang menghampirinya. Orang itu tak lain adalah Iwan. Sang OB kesayangan Sakti.
"Mas Sakti mau kemana?"
"Mau ke ruang Pak Ketua"
"Anu mas Pak Ketua sudah pulang dari tadi"
"Oh. Arvila masih ada diruangan?"
"Loh mas Sakti gak tahu kalau mbak Arvila tadi pingsan dibawa ke Rumah Sakit. Ga tahu sekarang apa sudah pulang atau masih disana" Jelas OB Iwan.
"Kapan mas?" Tanyanya terkejut dengan penjelasan OB Iwan.
__ADS_1
"Dari tadi siang Mas Sakti"
"Oh ya makasih mas" Sahutnya menyudahi percakapan mereka.
Segera Sakti menghubungi sang istri saking sibuknya nyampe lupa Hp.
"Assalammualaikum Wbr. Dek kamu ada dimana?" Sapa Sakti dari Kantor.
"Oh iya. Sebentar lagi saya jemput dek" Lanjutnya dengan langkah tergesa-gesa. Nafasnya terasa berat. Berapa kali ia menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa cemasnya.
"Ya Tuhan istriku pingsan saja aq gak tahu? Semoga dia baik-baik saja" Gumamnya sembari melangkah menjauh dari kantor.
Ditempat kost Arvi tampak asyik bercengkrama dengan Santi. Santi membuatkannya bubur.
"Coba kamu test sekarang? Aq sudah gak sabar lagi ingin lihat hasilnya?"
"Iya kalau hamil, kalau tidak???" Suara Arvi menyaut. Ada rasa ragu. Malu jika hasilnya nanti negatif.
"Say jangan begitu? Kamu ga seneng kalau ada isi?" Santi menghentikan ucapannya dia melihat Sakti nongol dari pintu kost.
"Assalammualaikum Wbr. Met malam mbak Santi" Sakti menyapa memberi salam.
"Malam Pak Kabag. Mari masuk" Suara Santi menyambutnya dengan tersenyum.
"Kalau di Kantor mbak ini kan dirumah panggil Sakti saja lebih akrab" Sakti membela diri.
"Oh sip-sip" Sahut Santi mengacungkan jempolnya. Lalu bergegas masuk kedalam membiarkan sepasang suami istri bicara.
"Mas baru pulang?" Sambut sang istri mencium tangan suaminya. Sakti pun menyandarkan ciuman di kepala sang istri.
__ADS_1
"Waktu telp tadi masih di kantor Mas Iwan kasih tahu saya katanya kamu pingsan. Koq mas gak ada yang kasih tahu".
"Oh. Itu karena mereka gak mau ganggu kerja mas". Sahut istrinya menyindirnya.
"Ye kenapa begitu? Masa kamu cemburu dengan pekerjaan? Cemburu tuh dengan orang" Sahut suaminya memperhatikan sang istri yang terlihat pucat.
"Masih pening? Kalau gitu kita pulang biar kamu istirahat"
"Tunggu dulu kak Santi ada ke dalam"
Sakti menyentuh kening Arvi yang masih demam. Santi keluar dengan membawa secangkir teh manis.
"Minum dulu mas saya udah bikinin teh"
"Iya mbak makasih repot-repot bikin teh segala"
"Adanya teh pak"
"Mbak Santi kami pulang dulu ya? Makasih udah menjaga Arvi selama ini"Ucap Sakti meminum teh yg disuguhkan Santi.
"Yah ga jadi nginap dirumah? Aq sendiri lagi" Santi memasang muka jutek.
"Makanya cepat nikah biar ada yang temani" Arvi menggodanya.
"Yooo mentang-mentang udah punya pasangan" Sahut Santi gak mau kalah.
"Nanti saya panggilkan Pak Brimob untuk menjinakkan hati mbak Santi biar gak bisa jauh lagi" Ledek Arvi lagi hingga membuat Santi tersipu malu.
"Kami pulang dulu mbak" Pamit Sakti. Sementara sang istri dan Santi saling berpelukan. Kedua sahabat itu masih saling rindu. Rasanya enggan untuk berjauhan. Bahkan terlihat Santi menyika air mukanya yang jatuh. Keduanya saling sayang. Walau bukan saudara kandung tapi kebersamaannya selama dua tahun ini membuat keduanya seperti saudara.
__ADS_1