AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Perselisihan


__ADS_3

Happy new year semoga kita selalu di beri kesehatan dan keselamatan serta dimudahkan dalam segala hal. Amin**


Mohon maaf jika akhir-akhir ini jarang meng-up date semoga karya saya diterima maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca yang Budiman 🙏🙏🙏


Akhirnya Arvi menikmati bubur ayam yang telah dipesan untuknya. Tatapan Sakti tiada henti-hentinya mengamati Arvi selalu. Hingga Arvi merasa malu terus diperhatikan olehnya.


Selesai makan bergegas Arvi ingin kembali ke kamarnya tapi Sakti menolaknya.


"Malam ini kumohon tidurlah denganku" Pinta Sakti penuh harap. Ia begitu sangat merindukan Arvi. Ia begitu kesepian dan melewati hari-hari tanpa kehadiran istrinya yang selalu ia nantikan.


"Mas tidak bisa! apa kata rekan kerjaku pasti mereka mencari keberadaanku" Jelas Arvi menolak secara halus. Sebab rekan kerjanya tahu jika suaminya dokter Richat bukan Sakti.


"Aq tidak peduli" Pekik Sakti mulai menegaskan jika ia meminta hak nya. Ia tak ingin berpisah lagi. Tujuh tahun lamanya bukan waktu yang sebentar. Ia telah kehilangan momen berharga diantara keduanya.


"Mas jangan egois!" Hardik Arvi mulai jengkel. Ia tidak enak jika rekan kerjanya tahu jika ia sekamar dengan Sakti. Arvi pun sama tak ingin menjauh lagi dari Sakti tapi ia teringat dengan dokter Richat suami keduanya yang ada di Semarang. Pusing dah pusing tujuh keliling. Biasanya yang poligami laki-laki tapi ini Arvi???


"Mengertilah Arvi!" Pinta Sakti memohon dengan tatapan yang teduh.

__ADS_1


"Mas yang harus mengerti posisiku"


"Katakan jika aq suamimu"


"Mas Sakti!!"


"Jadi rumor itu benar adanya jika kamu telah menikah dengan Richat?"


Seketika wajah Arvi berubah pucat pasi. Tubuhnya bergetar menahan gejolak hatinya. Pertanyaan yang sedari mereka jumpa ingin ia hindari. Mulutnya kelu tak tahu harus mulai dari mana ia harus jelaskan. Bagaimana juga Sakti suaminya. Mereka tidak pernah bercerai. Wajar jika sekarang Sakti menuntut kejelasan kan berita tersebut.


"Mengapa kamu tega menusukku dari belakang? Arvi dia sahabatku teganya kalian berdua berhianat!" Seru Sakti penuh amarah menyudutkannya.


"Aq kira kamu akan mencariku ternyata tidak? Malah kamu pergi dan menikah dengan sahabatku. Jangan-jangan kalian berdua yang mencoba ingin membunuhku! Apa salahku pada kalian!"


"Teganya kamu memfitnahku mas!"


"Lalu kalau bukan persekongkolan apa namanya?"

__ADS_1


" Mas tega sekali menuduhku aq gak terima ini!! Justru Richat berbaik hati menolongku. Seharusnya kamu berterima kasih padanya bukan menuduhnya"


"Bagaimana aq bisa berterima kasih jika kalian menghianatiku"


Mendengar ucapan Sakti yang begitu menyakitkan relung hatinya. Seakan terasa sesak dan tak bisa bernafas lagi. Sejujurnya ia tidak menyalahkan Sakti jika ia tega berkata seperti itu. Sakti berhak kecewa sebab selama tujuh tahun mereka tidak bersua. Jangankan bertemu kabar berita pun tidak ia terima. Memang Arvi yang salah meninggalkan kota D tanpa jejak.


Batinnya berkata "Mungkinkah ini yang dimaksud ayahnya? Tapi apapun itu dia adalah ayah dari junior. ia pun mengaku salah telah menikah duluan tanpa mengecek ulang keberadaan Sakti terlebih dahulu. Bagaimana ini nasibnya sekarang ia telah menikahi dua orang sekaligus.


Arvi bertarung dengan pikirannya yang menjalar kemana-mana. Perang batin mulai menyelubungi wanita berusia 28 tahun itu.


"Lalu dimana anakku?"Pertanyaan yang semakin membuatnya bersalah. Arvi bingung menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Kenapa kamu diam? Jangan bilang kamu telah menggugurkannya?"Tuduh Sakti mengamati Arvi yang tertegun diam. Dalam pemikiran Sakti jika istrinya yang baru beberapa jam ia temukan wanita yang tak setia. Mudah berpaling dari hatinya.


Arvi hanya bisa menatap Sakti dengan air mata yang mulai membelah kedua pipinya. Hatinya sakit teriris akan semua pertanyaan yang menyudutkannya.


"Arvi kenapa kamu diam tidak menjawabnya? Apa anakku sudah mati?" Pertanyaan Sakti bak bola liar yang mengarah ke segala arah. Rasanya ingin ia teriak sekencang-kencangnya tapi lidahnya kelu.

__ADS_1


Melihat reaksi Arvi yang diam terpaku Sakti tambah naik darah. Mengingat usianya yang tak muda lagi 45 tahun. Sakti semakin yakin jika istri yang ia nikahi tujuh tahun lalu menyimpan sesuatu. Dari gestur tubuhnya terlihat sekali jika ia gelisah pikirannya menerawang entah kemana. Berapa kali ia memberondong pertanyaan tak satu pun dijawab. Entah ia sengaja atau emang ia pura-pura. Tapi Sakti yakin jika itu bukan sifat Arvi selama ia kenal. Lalu kenapa ia begitu kekeh dengan pendiriannya.


Melihatnya menangis membuat Sakti tak tega untuk bertanya lagi. Justru ia kasihan dengan Arvi. Sakti lalu meraih lengan dan mendekapnya penuh erat. Arvi menangis sejadi-jadinya. Sebesar apapun kemarahan Sakti padanya tetap ia tak tega. Bagaimana juga mereka suami istri. Rasa rindu yang tertumpuk bak setinggi gunung Jaya Wijaya membuatnya luluh. Luluh walau penuh sejuta pertanyaan yang belum terurai. Ibarat susun skripsi belum ada bab pembahasan yang harus diurai dari akar rumus permasalahan.


__ADS_2