
Pagi itu suasana rumahnya nampak ramai dengan kehadiran kakak dan istrinya serta Arie dan sang istri. Tidak ada dekorasi acara nikah yang menghiasi rumah. Janur kuning pun tidak terpasang. Suasana rumah seperti biasa. Mereka asyik berbincang diruang tamu untuk menunggu kedatangan Pak Penghulu. Sementara Sakti pergi menjemput Arvi ditempat kost. Arvi nampaknya sudah rapi dengan penampilannya yang sederhana tapi anggun dipandang. Sakti tersenyum riang menyambut pujaan hatinya yang cantik jelita di pagi ini. Sakti meminta ijin pada Santi kalau mereka akan keluar untuk jalan-jalan cari suasana baru. Santi nampak senang melihat Arvi dan Sakti melihat kedekatan mereka berdua. Mirip kakak adek, kakak Ade yang ketemu Gedhe🤭🤭🤭
Sakti pun membukakan pintu mobil untuk Arvi. Bergegas ia masuk mobil dan memajukan mobil meluncur ke arah rumahnya. Selama diperjalanan Sakti mendengarkan celotehnya Arvi yang kesana kemari tentang percakapannya dengan Santi semalam. Tapi ia tetap fokus memperhatikan jalan. Ia hanya tersenyum senang mendengarnya.
"Mas nanti mau kemana toh? Tanyanya menoleh ke arah Sakti.
"Menurutmu? "
"Loh koq menurutku kan mas yang ngajak"
"Kerumah aja ga kemana-mana"
"Baru kenapa kasih tahu ke Santi kalau kita mau jalan-jalan?".
"Nanti kita lihat aja"
"Wuus pake main rahasia segala? ".
Sakti tersenyum melihat Arvi yg ngambek.
Tidak berapa lama mereka telah sampai terlihat dihalaman rumah ada dua buah mobil Strada terparkir didepan. Arvi penasaran ada acara apa koq undang tamu segala.
"Mas ada acara apa toh?"
"Acara kita"
__ADS_1
"Acara apa bikin aq takut?" Suara Arvi gemetar.
"Acara Akad Nikah kita" Jawab Sakti santai.
Arvi menoleh kearahnya. Lelaki rambut putih ini serius tidak main-main. Sesaat dia terdiam menarik nafas dalam mencoba untuk menenangkan diri untuk menguasai keadaan. Ia sangat shock mendengarnya. Sakti menarik dan memeluk tubuh Arvi mencoba untuk menenangkannya.
"Vi.. Yakinlah selesai nikah kita ke Jawa. Mas tanggung jawab" Tuturnya menenangkannya.
"Tapi ga secepat ini mas aq sangat sayang orang tuaku" Sahutnya.
"Vi...aq sangat mencintaimu kamulah penantianku selama ini. Saya akan meyakinkan orang tuamu". lanjutnya dengan mata sendunya. Arvi menangis mendengar ketulusan lelaki yang ada didepannya. Ia mengangguk setuju tapi Arvi mengajukan syarat ia tak ingin serumah dahulu permintaan yang aneh dan terasa berat buat Sakti. Tapi demi terlaksananya acara Nikah ini Sakti menyetujuinya. Arvi belum siap kalau pernikahan mereka diketahui kalayak ramai. Cukup keluarga yang tahu. Tapi cepat atau lambat akan tersebar berita pernikahan mereka. Sakti mengusap air matanya dan meyakinkan kalau langkah yang dipilihnya tidak salah. Suasana hatinya sedikit tenang mendengarnya.
Begitu keduanya muncul mereka menyambutnya kehadiran calon pengantin. Kakak ipar dan istri Arie membawanya ke kamar untuk di make up terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama untuk memolesnya karena Arvi udah cantik dari lahirnya. Kebaya pun telah mereka siapkan rupanya. Kebaya warna putih. Penghulu pun telah hadir.
"Wah ternyata gak sia-sia kamu membujang lama kawan ternyata yang ditunggu pucuk rupanya"
Sakti tertawa mendengarnya.
"Wah panggilnya dikantor gimana ini Sayang....Ayang Bebeb atau Pak Kabag?" Tambah istrinya ikut ganggu keduanya.
"Yang ditunggu ternyata orang jauh e" Tambah iparnya lagi
Sakti dan Arvi tersenyum tersipu malu.
"Iyoe kakak orang Semarang, dari ujung timur ke barat jatuhnya di Semarang. Saya sendiri belum pernah injak ke kota itu. Selera bagus kawanku" Tandas Arie penuh semangat menepuk bahu Sakti yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Butuh biaya besar kalau mau kesana. Kapan-kapan saya mau kesana pingin lihat suasana Lawang Sewu" Suara Kakak Iparnya.
"Kakak nanti kalau kesana jangan sama mereka takut ganggu acara bulan madunya" Sindir istri Arie tidak mau ketinggalan.
"Betul itu kakak. Sesekali Abang juga ajak kakak ipar jalan-jalan ke Semarang itung-itung Bulan madu yang kedua biar dapat anak cewek lagi". Sahut Arie mengganggu Kakak Sakti yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
"Wah itu ide cemerlang kawan". Sahut Sakti setuju dengan ide Arie barusan. Kedua suami istri malu diganggu adek-adeknya. Memang keduanya punya anak jagoan semua belum ada ceweq.
"Kapan kalian ke Semarang? " Tanya kakaknya. "Secepatnya tapi jadwal kantor masih padat sampai akhir tahun. Kemungkinan awal tahun depan kalau ga ada halangan" Sakti menjawab sembari menoleh ke istrinya yang tersenyum memandangnya.
"Rencana bagus kawan semoga kalian cepat dapat momongan jangan ditunda-tunda kalau perlu kembar jadi satu kali dapat dua" Suara Arie memberi ide yang dicubit sama istrinya.
"Ah betul itu Sakti apa yang dikatakan Arie ada benarnya" Sahut kakaknya setuju dengan ucapan Arie barusan.
"Emang gampang punya anak kembar kalau gak ada turunannya" Sela Sakti
"Siapa tahu toh ". Lanjut Arie
"Iyo Sakti didunia ini tidak ada yang tidak mungkin semua bisa terjadi". Tambah Iparnya menyemangati. Arvi tersenyum dengan mata berbinar-binar mendengar percakapan mereka yang begitu akrab tanpa ada rasa canggung satu sama lain.
Mereka tampak akrab sekali. Arvi pun ikut larut dalam percakapan keluarga itu.
Selesai acara mereka pun pamit pulang kerumah masing-masing. Mereka gak mau mengganggu suasana pengantin baru. Tinggallah mereka berdua dirumah. Yah mereka berdua adalah pengantin baru yang menginginkan suasana romantis tidak ada jarak lagi diantara keduanya. Cuma Sakti masih merasa asing dengan syarat yang diminta Arvi yang belum ingin satu rumah dan orang-orang sekantor tahu kalau mereka sudah menikah. Sepertinya Arvi belum siap dengan semuanya. Arvi beralasan ia masih anak baru ia tidak mau kehilangan pekerjaan itu. Apa kata orang-orang dikantor nanti. Yang jelas Arvi belum nyaman dengan status pernikahannya. Kini ia harus menyandang status sebagai istri dari Pak Kabag Sakti yang terkenal jutek sok perfeksionis. Ia tidak menyangka Pak Kabag Sakti jatuh hati dengannya. Rupanya betul pepatah orang Jawa witing tresno jalaran Soko kulino masih berlaku di era zaman milenial ini.
Justru masalah besar siap menantinya yah Kedua orang tuanya. Bagaimana sikap orang tuanya mendengar kabar kalau anak bungsunya menikah tanpa memberitahu sebelumnya. Pekerjaan Rumah yang harus ia selesaikan. Cepat atau lambat berita tersebut akan menyebar dengan cepat.
__ADS_1