
Rina menarik nafasnya yang terasa sesak. Tak tega ia melihat wanita Jawa yang lagi bersedih bercucuran air mata. Orang-orang Kantor masih tampak memperhatikan ketiganya. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam berkata" Macam tidak ada harganya di mata orang-orang sekantor. Belum tentu berita yang beredar itu benar adanya. Atau ulah dari oknum-oknum yang tak bertanggung jawab yang mencoba memanfaatkan dari kejadian tersebut" Entah lah ia juga baru sadar kehadiran mereka tidak disenangi.
"Adi kita balik aja yuk keruangan saya sudah keyang dengan kata-katanya" Suara Rina merengek dengan melihat sekeliling kantin.
"Iya Aq juga sudah tidak ada mood makan siang" Lanjut Adi berdiri
"Ayo Arvi bangun ngapain disini nanti mereka menontonmu dikira kamu lagi syuting sinetron" Ajak Rina penuh semangat.
"Maaf ya gara-gara aq kalian gak jadi makan siang" Suara Arvi merendah bangkit mengikuti keduanya yang berdiri dari kursi Kantin.
"Justru kami kepikiran kamu dan dedek bayi yang ada diperut dia pingin makan pasti" Ucap Rina kawatir akan keadaannya Arvi yang belum makan siang.
" Nanti kita pesan makan untukmu" Ucap Adi mencoba tersenyum.
Walau cintanya tak terbalas bukan berarti dia membiarkan wanita pujaan hatinya dihina dan direndahkan mereka. Apalagi jika mengingat sosok suaminya yang begitu baik dan bertanggung jawab. Adi tidak percaya secara langsung dengan kabar pemberitaan yang menghebohkan satu kantor. Seharusnya mereka harus menguatkan Arvi bukan menyudutkan wanita muda yang lagi berbadan dua.
"Terima kasih kak untuk saat ini saya tidak lapar. Saya ingin kembali keruangan"Ajak Arvi yang bangkit dari duduknya. Rina merangkul bahunya. Senyum mengembang seolah memberi semangat anak buah Pak Ketua yang cengeng.
__ADS_1
Akhirnya mereka keluar dari Kantin tanpa memesan makanan. Orang-orang pun hanya diam tanpa mempedulikan mereka.
Sebagai penulis novel ini secara pribadi meminta maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan atau dianggap kurang sopan tidak sesuai ππ ini hanya berdasarkan perspektif penulis tentang hukum tidak ada maksud menyindir atau menyudutkan siapapun. Maaf ya untuk semua Pihak jika salahπ
Masalah yang masuk ke ranah polisi tidak semerta-merta langsung diproses begitu saja. Ada tahapan prosesnya. Jika kasus tersebut memenuhi unsur pidana tentu akan di proses sesuai hukum yang berlaku. Tentu membutuhkan alat bukti yang cukup untuk menjerat pelaku jadi tersangka. Untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka butuh dua alat bukti atau lebih yang kuat. Bukan asal saja menetapkan tersangka. Jika tidak memenuhi unsur pidana Pihak Kepolisian tidak berhak memproses kasusnya.
Sebelum menetapkan jadi tersangka baik dari pihak Kepolisian maupun Pihak yang bersengketa mencoba diselesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu. Sebab cara itu lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan suatu masalah berbeda dengan jalur hukum publik butuh proses dan waktu berbulan-bulan. Terkadang hasilnya mengecewakan kedua belah pihak yang bertikai. Jika jalur tersebut tidak menemui titik temu maka proses hukum akan dilanjutkan. Tetapi itu untuk kasus-kasus tertentu. Tergantung dari proses mediasinya. Kebanyakan yang terjadi mereka lebih mengedepankan suatu masalah ke jalur hukum berharap memperoleh keadilan di mata hukum. Kalah jadi abu menang jadi arang. Apa bedanya arang dan abu sama-sama hancur??.ππ
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari keduanya yang berseteru Polisi meminta agar masalah tersebut di selesaikan secara kekeluargaan. Sama persis dengan saran dari atasan mereka. Entah kenapa Bu Hanna ngotot sekali ingin memenjarakan Sakti yang notabene nya atasannya juga.
"Saya tidak terima Pak Sekwan lebih memihak Pak Sakti dari pada saya? Jangan-jangan Polisi disini juga bersekongkol dengan kalian" Gerutu Bu Hanna dengan arogan.
"Buktinya Sebagai atasan Pak Sekwan tidak tegas seharusnya Pak Sakti harus mendekam di Kantor Polisi" Lanjutnya memarahi atasannya itu.
"Bu Hanna kan dengar sendiri mereka tidak punya alat bukti untuk menetapkan Pak Kabag jadi tersangka?Bahkan dari penjelasannya beliau justru Bu Hanna yang salah kenapa ibu Hanna balik menyalahkan saya" Protes Pak Sekwan tidak terima disudutkan.
"Sudahlah saya tidak mau dengar penjelasan anda. Tunggu saja pembalasan dari saya" Hardiknya penuh amarah.
__ADS_1
"Loh Bu Hanna yang bermasalah kenapa mengancam saya?" Sahut Pak Sekwan masih protes.
Tanpa rasa hormatnya Bu Hanna pun berlalu dari atasanya di Kantor. Pak Sekwan pun tidak mau ambil pusing dengan anak buahnya itu. Pak Sekwan hafal betul tabiat Bu Hanna yang otoriter. Sebetulnya ia sudah mengajukan perombakan di Kantor tersebut. Tapi hasilnya nol. Yang ada ia makin berkuasa sebab dia kenal banyak pejabat.
Ditempat yang berbeda.
Sakti sedikit tersenyum lega jika tuduhan Bu Hanna tidak diproses secara hukum. Tapi mereka meminta diselesaikan secara kekeluargaan. Apalagi mereka team work di kantor yang saling melengkapi. Satu sisi minimnya bukti untuk menjeratnya ke Kantor Polisi.
Sakti bergegas check out dari Hotelnya menginap. Sakti tidak pusing yang ada dibenaknya ia ingin secepatnya pulang ke kota D. Sengaja ia tak ingin balik ke rumah ibunya. Sakti tak ingin membuatnya kepikiran hingga jatuh sakit.
Semula ia ingin naik pesawat tapi tidak ada penerbangan di sore hari. Suka tidak suka ia kembali touring lewat jalan darat. Ada sensasi tersendiri ketika melewati jalan darat. Ya jalan yang penuh memacu adrenalin. Jika lewat jalan darat kita diajarkan untuk hidup penuh petualangan dan sport jantung.βοΈβοΈ
Selama dalam perjalanan Indra penglihatan kita akan disuguhkan pemandangan alam yang indah dan menakjubkan di Tanah Papua.Tepi jalan yang berpantai berkelok-kelok. Ombak laut yang berkejar-kejaran di bibir pantai. Menambah kesan romantis.
Sakti membayangkan jika mengajak sang istri pasti sedikit-sedikit bersua foto dengan pemandangan cantik alam Papua yang masih asri. Sebab jika ia balik ke Semarang ia tidak menemukan pemandangan alam yang masih asri dan indah. Sakti tahu dibalik sifat Arvi yang manja sebenarnya ia anak yang suka tantangan. Terbukti dia berani merantau ke Papua.
Jalan naik turun bak roller coaster dimana sisi kiri dan kanan terbentang lautan yang begitu luas. Tebing yang curam menambah ekstrim perjalanan di sore itu. Keindahan alam yang tidak biasa kita temukan di perkotaan. Angin pun menyapu dengan lembutnya. Terkadang mobil berhenti melewati anak kali. Bisa dipastikan sampai rumah pasti malam hari. Sakti sudah tidak mempedulikan ponsel batere nya yang habis.
__ADS_1
Sakti sangat menikmati perjalanannya kali ini. Masalah yang menumpuk semalam membuatnya tidak tidur semalaman. Walau masih ada rasa jengkel dan kecewa. Ia mencoba untuk tetap berpikir positif dengan kejadian malam itu. Kini ia semakin hati-hati untuk tidak gegabah dalam dalam segala hal. Ada rasa haru dan rindu yang ingin segera ia curahkan. Kepada siapa lagi kalau bukan pada sang istri. Orang yang sangat ia cintai. Sudah empat hari ia tidak ketemu sang istri. Ia sangat merindukannya.