AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Hiburan Di Pagi Hari


__ADS_3

Rina berjalan dengan sangat santai mendekati kedua rekan kerjanya yang sedang asyik berbincang -bincang di depan ruang kerja Pak Ketua. Rina tahu akan perasaan Adi yang bertepuk sebelah tangan


"Hai hai Kalian melupakan diriku?" Suara manja Rina mendekat.


"Dasar Caka didi" Suara Adi menyambutnya. Rina yang semula manja menjadi ill feel saat Adi menyambutnya dengan sebutan Caka didi. Caka didi yang berarti genit atau nakal sering dipake untuk wilayah timur. Wajah Rina berubah drastis seratus delapan puluh drajat. Wajahnya ditekuk dan mulutnya manyung ke depan persis kayak ikan duyung. Wajahnya tampak lucu terlihat.


"Apaan sih datang-datang di sambut dengan ketus" Suara Rina menggerutu tak terima dengan candaan Adi barusan. Adi memang teman kerja di Komisi A. Gak tahu kenapa di balik sikap Adi yang pendiam tapi jika kumpul dengan Rina jiwa usilnya yang menggelora muncul ke permukaan. Terkadang Rina sampai malu sendiri. Bukan Rina namanya kalau dia tidak tahan banting dan perasaan. Orang Papua bilang urat malu sudah putus🤭🤭🤭


Arvi tersenyum seakan melotot kepada Adi jika apa yang dilakukannya tak pantas.


"Sorry-sorry bercanda. Nanti cantiknya hilang sepuluh persen" Sahut Adi masih mengganggu Rina.


"Menghina sekali kamu! Biar hilang sepuluh persen tapi banyak penggemar. Dari pada ganteng tapi gak laku. Hueek" Balas Rina tak mau kalah.


"Ihh pede sekali siapa juga bilang kamu cantik kalau toh ada pasti matanya agak rabun" Goda Adi meledeknya terus.


"Awas kau Adi saya tidak akan bantu" jeritnya jengkel dan kesel sampai di ubun-ubun.


"Ehh yang ada kamu gak bisa lepas dari aq? Bukan aq yang tergantung dari kamu" Kelas Adi tertawa dengan riangnya menjahili Rina dipagi itu.


"Kalian macam Tom and Jerry saja" Kilah Arvi tersenyum menimpali candaan mereka.


Pandangan Rina tertuju pada kantong plastik hitam yang dibawa Arvi. Sepertinya menarik perhatiannya. Adi yang paham akan hal itu mencoba untuk menghadang langkah Rina.


"Apaan itu Arvi yang ada di kantong plastik?" Tanyanya penuh curiga dan penasaran.


"Eeits! Itu bukan untukmu" Cegah Adi melarangnya mendekat.


"Apaan sih Adi? Gak asyik tahu sembunyi-sembunyi dari aq berdosa tahu?" Protes Rina yang gak sabar ingin tahu apa isinya. Adi sangat hafal tabiat Rina yang tukang kepo abis.

__ADS_1


"Ini hadiah dari Adi loh" Arvi pun tak kalah pamer kepada Rina. Tentu membuat Adi makin bersalah jika Rina tidak dapat bagian.


Adi menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Adi salah strategi. Ia tidak menyangka jika Rina datang tempo juga. Biasanya ia datang terlambat🤭🤭🤭


"Apaan itu isinya?" Tanya Rina penuh slidik. Ada rasa tidak nyaman diruangan tersebut. Terutama Adi pasti Rina akan meminta hal yang sama dengan apa yang diberikan pada Arvi.


"Ini mangga Harum Manis" Sahut Arvi yang sempat melihat isi kantong plastik hitam itu.


"Bagus e Adi hanya Arvi yang di bagi? Baru untuk aq mana?" Tanya Rina setengah marah pada teman kerjanya yang ganteng.


"Emang kamu hamilkah?" Ucap Adi tak mau tersudut.


"Sial betul ini Adi? Emang yang boleh makan mangga hanya orang hamilkah? Dari tadi bisanya bikin aq jengkel dan kesal. Tidak bisakah kamu diam untuk tidak menggangguku?" Protes Rina tak terima dengan mata beloknya yang terlihat lucu oleh Adi.


"Eh aq gak ikut-ikut loh?" Bisik Arvi tersenyum menggoda keduanya. Arvi melihat kedekatan keduanya seperti Tom and Jerry berkelahi tiada henti-hentinya.


"Arvi emang laki-laki satu ini gak ada ingat -ingatnya sama teman kalau lagi kasmaran...." Suara Rina terhenti menyadari jika Adi sudah melotot dan memberi kode untuk mengerem mulutnya yang langsung tanpa ada saringan.


"Iya ini kita bagi berdua" Potong Arvi menguasai keadaan.


"Ah jangan itu untukmu kalau untukku lain lagi toh adi?" Pinta Rina dengan pedenya.


"Iya untuk kamu ada tapi panjat sendiri di pohon" Celetuk Adi berlari menghindar dari cubitan Rina yang sakit.


"Awas e kalau kesusahan jangan datang kerumah" Hardiknya terlihat kesal sekali.


Arvi hanya bisa ketawa geli dengan ulah mereka berdua.


"Sudah jangan dilanjut Adi hanya bercanda. Jika kamu mau ini kita bagi dua" Bujuk Arvi tersenyum menyodorkannya.

__ADS_1


"Tidak usah Arvi itu memang untukmu. Aq memang jengkel dengan Adi kemarin dia pulang tidak ajak-ajak untung ada Mas Iwan jadi pulangnya ada teman" Jelas Rina penuh semangat.


"Oh begitu ya. Sorry aq gak tahu sebab dua hari ini aq gak masuk" Jelas Arvi tersenyum kecut.


Melihat raut wajah Arvi terlintas dalam benak Rina jika bumil ini tidak dalam kondisi sehat. Arvi mencoba untuk tenang dan tersenyum tapi sepintas ia melihat jika Arvi tampak murung dan tertunduk. Tampaknya penjelasannya tidak digubris oleh Arvi. Kemudian ia putuskan untuk memberanikan diri untuk bertanya lagi.


"Kamu sakit?" Tanya Rina mencoba untuk lebih perhatian pada anak buah Pak Ketua yang sejatinya pendiam dan tertutup.


"Ah tidak aq sehat koq" Kilahnya tersenyum.


"Arvi aq tahu kamu kepikiran suamimu?" Suara Rina mengingatkan akan sosok sang suami. Sebab dari pulang rumah mamanya hingga sekarang sang suami tidak dapat dihubungi. Rina sudah tahu tentang kabar berita suaminya.


"Ah tidak kawan. Mungkin Mas Sakti dalam perjalanan makanya susah untuk dihubungi" Jelas Arvi mencoba positif thinking.


"Hanya sewaktu aq masuk kerja di lobi kantor anak-anak asyik bergosip ria Entahlah apa yang dibicarakan aq tak tahu? Tapi dari nada bicaranya itu untuk aq dan Pak Sakti" Lanjutnya tampak sedih.


"Tidak usah dengar omongan mereka. Mungkin mereka lagi gosip tentang sinetron yang lagi naik daun itu Apa itu namanya Ik**an C***a Retingnya kan lagi tinggi" Jelas Rina penuh semangat.


"Iya mungkin saja" Sahutnya tersenyum tapi masih dengan wajah sedih.


"Rina kira-kira kalau dari Manokwari ke sini berapa jam ya?" Tanya Arvi untuk memastikan lagi waktu tempuh perjalanan pulang sang suami.


"Sekitar Enam atau tujuh jam kenapa kamu tanyakan" Tanya balik Rina penasaran.


"Jika dia berangkat semalam berarti sudah sampai" Gumamnya sendiri tapi Rina masih mendengarnya.


"Husst tidak usah punya pikiran aneh-aneh nanti juga sampai sini" Bujuk Rina mencoba untuk menenangkan pikirannya.


"Eh lebih baik kita makan mangganya dengan garam yuk pasti nikmat sekali" Rina mencoba mengalihkan topik.

__ADS_1


"Itu ide cemerlang" Sahut Arvi tersenyum bahagia karena air liurnya sudah mulai menetes ingin melahap mangga Harum Manis yang terkenal lezat dan kurang terlalu asam saat mengkal. Jangankan wanita hamil yang tidak hamil saja mendamba ingin menikmatinya. Wanita mana yang menolak jika melihat mangga pasti sudah menelan ludah ingin melahapnya.


__ADS_2