
Malam itu Arvi tidak dapat tidur. Junior sempat terbangun menanyakan keberadaan dokter Richat yang pergi. Sayup sayup rupanya Junior mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Bahkan Arvi menangis memegangi dadanya.
"Mommy kenapa nangis?" Suara Junior membuyarkan
"Tidak sayang. Mommy hanya kelilip kena debu" Jawab Arvi berdusta. Lalu Junior memeluk sang mama dengan erat.
"Mommy jangan bertengkar kasihan Deddy. Aq sayang mommy dan deddy"
Arvi menitikan air matanya mendengar pengakuan sang anak yang begitu polos. Junior tahu jika ayahnya adalah dokter Richat. Anak kecuping itu tidak tahu apa-apa sebab Arvi tidak pernah cerita tentang sosok Sakti.
"Mommy jangan marah sama deddy!" Pinta Junior dengan tulus.
Arvi mengusap air matanya.
"Mommy tidak marah sayang. Deddy baik sangat baik maafin mommy jika membuat Junior sedih"
"Mommy aq ingin ketemu Deddy" Rengeknya.
"Iya kita ketemu Deddy tapi sekarang larut malam Junior bobok dulu ya!" Bujuknya dengan sayang.
"Aq mau Deddy sekarang"
"Iya tapi Deddy ada keperluan mendadak sedikit lagi pulang" Bujuknya lagi mencoba untuk menenangkan Junior yang terjaga dari tidurnya.
*****
Ditempat terpisah
Lelaki tampan itu duduk menikmati minuman di depan sebuah caffe. Ia tampak kacau sekali. Wajahnya memerah kayak udang rebus. Entah sudah berapa gelas ia meminumnya. Wajahnya terlihat sedih.
Ia meracau tak jelas bikin berisik suasana caffe.
******
Esok hari.
Arvi dan Junior menikmati sarapan paginya. Sejak tadi pandangan Arvi intens mencari sosok dokter Richat. Tapi nihil tidak ada muncul batang hidungnya.
__ADS_1
"Kemana dia"Gumam Arvi tampak terlihat lesu matanya begitu intens memperhatikan pengunjung hotel yang akan menikmati sarapan pagi.
Tiba-tiba ada yang muncul dari sampingnya. Siapa lagi? Rekan kerjanya yang hadir bergabung satu meja dengannya.
"Junior mana deddymu koq tidak ikut breakfast?"
"Deddy belum datang" Jawab Junior yang tampak lesu tidak ada keceriaan.
"Kalian berdua sakit?"
Arvi hanya menggeleng dan tersenyum kecil.
"Semalam kamu begadang? Lihat matamu kayak panda. Kamu mikirin ric.." Gerutu rekan kerjanya terhenti di cubit sama Rio. Sebab Mita emang tukang ember kalau bicara gak pake rem. Main hajar saja tidak lihat kondisi Medan ada anak kecil pun dilibas habis.
"Sakit tahu"
"Mripate neng Endi toh Ono bocah e di trabas koyo wong ora duwe roso"
(Matamu dimana? Ada anak kecil langsung saja seperti orang yang tidak punya perasaan)
Dari caranya bicara Rio matanya melotot memberi kode Mita agar jangan bicara aneh-aneh sebab ada Junior.
Mendengar kritikan Rio yang to the poin dengan Jawa ngokonya membuat Mita Gedeg segedeg-gedegnya. Ia merasa dipermalukan oleh Rio.
"Sorry keceplosan" Batin Mita dengan wajah memelas memohon maaf pada Arvi sang patner kerja di kantor.
Satu sisi ia malu sama Junior dan juga malu sama emaknya Junior. Untungnya pengunjung hotel tidak ambil pusing dengan percakapan mereka. Walau mereka tidak saling kenal sebagai manusia ia juga punya rasa malu.
"Sudah kalian jangan bicara lagi sebaiknya kalian nikmati sarapan pagi. Rejeki jangan ditolak" Sergah Danuarta mengingatkan agar kedua temannya lebih fokus ke sarapan pagi yang telah disiapkan oleh pihak hotel. Bukan sibuk urus masalah Arvi dan sang suami.
"Aq tidak apa-apa. It's Ok!" Seru Arvi sok tegar seolah-olah tidak ada masalah. Padahal sedari tadi ia menunggu kehadiran dokter Richat sebab Junior sudah menanyakan sejak semalam.
Bukan dokter Richat yang hadir tapi justru Sakti yang hadir dari balik tangga hotel. Melihat mereka asyik menikmati sarapan pagi Sakti ikut bergabung.
"Pagi!" Sapa Sakti dengan ramah menyapa mereka.
"Pagi" Seru mereka serentak
__ADS_1
"Boleh ikut gabung!"
"Silahkan Pak, Mari" Seru Rio mempersilahkan
Pandangan Sakti tertuju pada Junior yang sedang menikmati sarapan pagi disamping mommy nya. Dengan penuh percaya diri Sakti berjalan mendekat ke hadapan Junior.
"Hai Junior!"
"Hai"
"Apa kabar pagi ini tidurmu nyenyak?" Tanya Sakti penuh intens.
Junior hanya mengangguk pelan ia seperti tidak semangat menjawab pertanyaan Sakti orang yang dikenalnya kemarin. Sementara Arvi hanya terdiam ia tidak berani menatap Sakti lelaki tampan yang mengusik hatinya selalu. Sakti hanya mampu melirik istrinya yang begitu cantik dimatanya. Sementara yang lain berpura-pura tidak mendengar dan tidak melihat pemandangan itu.
"Loh koq lesu gitu?" Tanya Sakti mengusap pucuk rambut Junior dengan gemas.
"Om tahu tidak dimana Deddy ku sekarang?" Celetuk Junior masih memainkan sendok garpunya. Ia sama sekali tidak berselera makan.
"Ssst!" Pinta Arvi memberi kode untuk menutup mulut Junior dengan jari telunjuknya.
Memahami situasi Sakti tersenyum kecut. Junior begitu merindukan sosok Richat ada disampingnya.
Sementara Arvi hanya menelan ludah diluar prediksinya selama ini Junior terlihat akrab dengan Sakti. Arvi tahu jika sang anak susah untuk dekat dengan orang asing. Apalagi orang yang baru di kenalnya seperti Sakti.
"Apakah karena ikatan batin mereka begitu akrab? Bahkan Junior langsung bergelayut di lengan Sakti saat ini.
"Kapan mereka kenal keduanya tampak akrab sekali?" Batin Arvi.
Dari sorot mata Sakti ia begitu sayang dengan Junior.
"Oh Tuhan aq harus bagaimana ini? Apa jadinya jika Junior tahu jika orang yang ada didepannya ini ayah kandungnya? Apa dia akan menerima kenyataan jika dokter Richat bukanlah deddynya?" Itulah pertanyaan yang memenuhi otaknya saat ini.
"Nanti kita cari Deddy Junior sekarang sarapan dulu. okey!" Bujuk Sakti agar Junior menghabiskan sarapannya.
"Om suapi ya?" Bujuknya lagi dan Junior mengangguk setuju dengan usul Sakti. Dengan telaten Sakti menyuapi Junior hingga sarapannya habis.
Rupanya sepasang mata dari kejauhan memperhatikan kegiatan mereka. Hati Richat merasa teriris-iris kedudukannya saat ini telah digantikan ayah kandung Junior. Tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja mengalir.
__ADS_1
"Mungkin ini saatnya aq lepas Arvi? Tapi hatiku???" Batinnya menangis. Tidak ia pungkiri selama tujuh tahun lamanya Arvi dan Junior telah memenuhi relung hatinya tapi tidak dengan hati Arvi?
Dadanya terasa sesak sekali. Niat hati ingin sarapan bersama akhirnya ia urungkan. Ia memilih balik ke kamarnya.