
"Kenapa ngidamnya aneh gini dek?" Sela Sakti masih gak peka juga jika sang istri mengerjainya.
"Dari pada aq ngidam minta ke Semarang? Jauh mana?"
"Ya Tuhan ini ngidamkah mau minta jalan-jalan?" Protes Sakti terheran-heran dengan permintaan sang istri.
"Mana enaknya saja mas" Ucap Arvi asal.
"Sungguh mati sayang jangan begitu aq kerja koq? Aq kawatir dengan keadaan kamu dan bayi mungil yang ada dirahimmu" Jelasnya mencium perutnya.
"Tunggu kamu tadi bilang ke Semarang? Siapa takut ?? Kalau legang mas akan ajukan cuti kita ke Semarang" Lanjut Sakti tapi aura sang istri berubah drastis.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Sakti yang melihat perubahan sikap sang istri.
"Gak pa-pa mas. Aq agak pusing"
"Sebetulnya aq ingin tahu kenapa kamu gak mau bahas orang tuamu. Sebagai suami aq ingin tahu dan mengenal mereka"
"Untuk apa mas tahu kalau akhirnya menyakitkan"
"Maksudmu apa dek? Coba ceritakan di mas"
"Aq gak siap dengan semuanya" Tuturnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Cepat atau lambat aq harus tahu dek"
"Pasti aq akan ceritakan semua. Aq mohon mas mengerti aq"
"Baiklah kalau kamu gak siap cerita mungkin kamu menganggap mas orang lain" Sakti mencoba memelas.
"Mas nanti kita lambat" Suara Arvi mengingatkan Sakti.
"Betul itu mas mandi dulu ya" Ijinnya bergegas ke kamar mandi.
"Maaf mas aq belum siap mengatakan semuanya padamu. Bukan ingin main rahasia tapi aq gak siap mas" Arvi bicara sendiri.
Dirumah Sakit.
Keduanya menunggu dengan sabar. Sakti sudah bete menunggu lama. Mereka berangkat tempo dari rumah.
"Nyonya Sakti Tidak boleh capek dan banyak pikiran. Usahakan untuk sementara waktu jangan bepergian jauh".
"Iyo e Akhir-akhir ini saya sibuk tidak ada waktu kawan. Rencana saya mau bawa ke Manokwari tapi kalau kondisinya gak memungkinkan"
"Tinggal pilih mau punya anak atau tidak?"
__ADS_1
"Stop kawan jangan bikin saya takut?"
"Serius ini apalagi hamil trimester awal gini masih rawan kawan" Jelas dokter Richat.
"Obatnya diminum sebelum pagi hari sebelum sarapan untuk mengurangi frekuensi muntah dan malam hari menjelang tidur vitamin untuk menguatkan kandungan biar dedek bayinya sehat dan mamanya tidak anemia" Lanjut sang dokter memberitahu tentang obat yang harus diminum.
"Kalau pantangan makan ada tidak?"
"Untuk awal kehamilan kurangi yang asam dulu sebab dapat memicu asam lambung naik akhirnya muntah. Ga ada pantangan sih soal makanan buat ibu hamil sedikit tapi harus makan" jelasnya.
"Tuh dengar kata dokter Richard. Orangnya susah dibilangin gak mau makan takut gemuk" Sindir Sakti melirik ke arah Arvi yang di balas dengan melotot. Dokter tertawa melihat ulah suami istri. Terlihat aneh tapi menyenangkan.
"Makasih banyak bro dokter atas infonya"
"Rupanya ini istrimu. Coba undang-undangkah jangan diam-diam?" Sindir dokter yang protes tidak di undang sewaktu menikah
"Hanya bikin pesta keluarga. Dianya malu terpublikasi takut ada yang patah hati" Goda suaminya membuat sang istri merah menahan malu dihadapan dokter.
"Suamimu teman lamaku. Kupikir kemarin dia bingung gak ada suaminya makanya dia takut" Sindir dokter menimpalinya.
Ia masih ingat betul di hari itu dimana Arvi sangat bimbang dan banyak berpikir. Tentu akan berpengaruh pada sang jabang bayinya. Mengingat usia kandungannya masih dibawah tiga bulan.
"Sembarang saja ini suaminya. Iyo saya tidak tahu kalau dia pingsan dikantor" Jelas Sakti menunjuk kearahnya diikuti gelak tawa sang dokter.
"Aduh kalau ini saya kalah saing soalnya rivalnya dokter" Sahut Sakti tertawa.
"Gak nyangka istrimu masih muda"
"Gak sia-sia aq lambat kawin kalau dapat yang spesial" Pamernya pada sang dokter.
"Ada copyan-nya gak? Saya juga mau" Celetuk sang dokter menggoda Sakti.
"Sayang stock tidak ada limited edition" Ucap Sakti mulai ganas. Arvi ketawa dengan candaan keduanya.
"Bikin saya malu mas"
"Jangan malu sayang emang keadaan begitu" Sela Sakti menimpali ucapan sang istri.
"Sakti kamu banyak berubah setelah menikah keluar cerewetnya. Aq jadi takut menikah nanti kayak kamu"
"Iyokah?? Wah baguslah kalau ada yang berubah. Sudah gak banyak begadang,Kalau kerja pingin cepat pulang lihat istri, ada yang masakin dan yang penting tidur ada yang dipeluk bukan guling" Celoteh Sakti menyindir dokter Richat
Sang dokter Richat tertawa sambil geleng-geleng kepala mendengar Omelan Sakti. Arvi melotot ke arah Sakti untuk menghentikan candaannya.
"Betul juga sih masalahnya gak ada yang mau sama saya?" Ucap dokter Richat membela diri.
__ADS_1
"Itu si Mayang kemana? Ga ada kabarnya?"
"Sudah menikah setahun yang lalu di Kaimana" Jelas dokter menelan ludah mendengar pertanyaan dari Sakti yang menyudutkannya.
"Semprul betul ini Sakti dia kipas betul aq didepan istrinya" Batin sang dokter menggerutu dengan ulah Sakti. Maklum mereka jarang ketemu.
"Rupanya nasib kita gak beda jauh ditinggal kawin sama pacar" Sindir Sakti.
"Itu lagi" Sahut dokter tertawa.
"Tapi itu dulu sekarang saya mengerti inilah jawaban dari doa-doaku selama ini"
"Sadap!!! Pak Kabag sudah jadi pak ustadz toh?" Sindir dokter tertawa.
"Bro saya sarankan kamu menikah sebelum kiamat"
"Saya malas ngobrol sama kamu bawaannya nyindir melulu gak ada topik lain kah" Protes sang dokter
"Salah sendiri lambat kawin" Sindir Sakti lagi.
"Coba Carikan jangan cuma nyindir melulu" Protesnya tersenyum.
"Saya lihat tadi banyak itu suster-suster cantik di Rumah Sakit dokter aja yang menutup diri"
"Bukan menutup diri tapi belum ada hati"
"Hatinya terbungkus Mayang terus mana ada hati yang mendekat"
"Pinter banget kamu mentang-mentang sudah menikah ganggu temannya terus"
"Gimana kalau aq kenali dengan Bu Hanna bendahara di kantor"
"Ogah bro selera high class minder aq"
"Belum perang sudah kalah duluan"
"Bukannya kamu yang di incar?"
"Nih pemenangnya" Sakti merangkul sang istri. Sengaja Sakti memamerkan Arvi dihadapan dokter. Arvi hanya tertawa tiada henti dihibur dua sahabat yang jarang sekali bertemu. Satu di dunia medis sedangkan yang satu di dunia persidangan.
Arvi dan Sakti undur diri dari ruangan dokter Richard. Tak lupa Sakti berpelukan dan menjabat tangan sahabatnya teman semasa sekolah.
Melihat keharmonisan kedua suami istri itu. Dalam benaknya berbisik" Apa aq bisa menyusul mereka? Menikah butuh perencanaan yang matang? Lama pacaran gak menjamin menikah. Buktinya aq harus menelan pahit kecewa pacarku meninggalkanku dan memilih menikah dengan orang lain"
Sakti menggandeng sang istri tanpa canggung sedikit pun. Arvi pun merasa terlindungi. Sang suami dengan gagah menemaninya periksa kandungan. Akan ada rutinitas baru buat keduanya. Periksa kandungan selama kehamilan sang istri. Dimana trimester awal periksa kandungan dua kali dalam sebulan. jika sudah stabil cukup sebulan sekali.
__ADS_1