AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Akibat Kelelahan


__ADS_3

Sakti terjaga dari tidurnya akibat kelelahan. Aktivitas itu membuat tubuhnya loyo gak ada tenaga. Mereka melakukannya lebih dari dua kali. Kegiatan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Sakti mengamati wajah ayu Arvi yang ketiduran akibat kelelahan. Ia tampak tertidur pulas. Walau capek ada rasa kepuasan batin yang tak terhingga. Sakti turun dari kasur memunguti pakean yang berserakan dilantai kamar dan menaruhnya dikursi. Bergegas ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia tersenyum mengingat pengalaman pertamanya tadi. Akan tetapi ada rasa penyesalan telah menodainya. Ia telah membuatnya tak perawan lagi. Dalam benaknya ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya apapun itu. Ia ingin segera menikahinya. Dia tak ingin melepasnya sedetik pun.


Sakti keluar dari kamar mandi Dangan handuk melingkar di badan. Ia mendekati Arvi yang tertidur dikasur tertutup selimut. Sakti membelai rambut dan mencium keningnya. Arvi terbangun dari tidurnya. Lelaki berambut putih itu tersenyum memandanginya. Wajah Arvi tersipu malu mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap balik Sakti. Jika itu ia lakukan yang ada ronde ke empat jadi.🤭🤭🤭 Sakti meraih wajahnya sembari tersenyum.


"Kumohon tetaplah disini bersamaku". Sakti membelai rambutnya yang harum dan menatap Arvi yang masih malu karena badannya hanya tertutup selimut.


"Bisakah keluar sebentar". Arvi memintanya keluar dia ingin kekamar mandi.


"Kenapa harus keluar? Mulai saat ini dan selamanya kau milikku. Kenapa harus malu". Sakti menggodanya, Arvi udah ga sabar. Dia berlari kecil tanpa sehelai baju menuju kamar mandi dan menguncinya. Takut Sakti ikut masuk. Sakti tertawa melihat ulahnya.


Kamar mandi pribadi Sakti ada didalam ruangan sama dengan kamar yang pernah ia tempati. Ada shower dan kloset duduk disebelah. Arvi bergegas mandi membersihkan dirinya. Namanya kamar mandi cowoq sabun dan shampo khusus cowoq suka dan tidak suka ia gunakan pake yang ada. Terlihat begitu rapi dengan lemari handuknya. Selesai mandi Ia meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya..


Baru kali ini ia masuk kamar pribadi Sakti. Begitu ia keluar dari kamar mandi. Arvi memperhatikan kamar pribadi Sakti begitu rapi hanya ada Kasur dan sebuah meja dan kursi.


Sewaktu Arvi di kamar mandi, Sakti memesan nasi goreng di warung langganannya dia sudah lapar sekali. Biasa kalau malam Minggu tutup nyampe jam dua lebih. Tidak berapa lama mereka mengantar pesanannya.


Arvi keluar dari kamar mandi. Sakti ga ada dikamar. Terlihat bajunya masih dia duduk diatas kasur. Ternyata dia didapur nyiapin piring buat makan.


"Ayo kita makan" Suaranya mengagetkan lamunannya. Arvi masih terbayang dengan kejadian tadi.


"Makan? Jam segini makan"


"Iya aq lapar sekali" Sakti menarik tangannya mempersilahkannya duduk dimeja makan.


Ia ingin menolak keinginan Sakti untuk tidak makan malam tapi perutnya juga sudah bunyi-bunyi.


"Kapan pesan koq cepat diantar? " Sahut Arvi duduk bersebelahan dengannya.


"Langganan makanya cepat diantar"


"Oh.."

__ADS_1


Sakti menggenggam erat tangannya seakan tak ingin melepasnya.


Selesai makan Arvi mngemasi piring dan mencucinya. Dari belakang Sakti merangkul Arvi sembari mencumbunya dengan mesra. Batin Sakti berpikir "Kenapa tidak dari dulu mereka bertemu? Kenapa Tuhan membuatnya menunggu terlalu lama? Diakah jawaban dari penantianku selama ini"


Hari-harinya tentu akan lebih berwarna.


Mentari begitu enggan muncul sembunyi dibalik awan tebal. Gerimis sedari tadi ga kunjung reda. Cuaca yang sangat mendukung untuk bermalas-malasan dikasur. Arvi tertidur pulas disampingnya. Rasanya mimpi tidur ditemani anak buahnya Pak Ketua yang cantik jelita. Berulang kali ia menepuk pipinya meyakinkan apakah ini mimpi atau kenyataan. Tidur ditemani gadis ayu yang masih muda sedangkan kini usianya tak muda lagi kurang dua bulan lagi tiga puluh delapan. Umur yang matang untuk membina rumah tangga. Terbesit dipikirannya untuk menahannya pulang. Sebab ia tak ingin berjauhan. Dia tidak ingin kehilangan waktu bersamanya. Selalu dan selalu ingin bersama. Kalau beliau tahu dia ada ganggu anak buahnya bisa-bisa dapat maki habis-habisan.


Sakti menyiapkan sarapan dipagi ini dengan roti tawar dan secangkir kopi hitam untuknya. Arvi masih tidur dikasur tertutup selimut. Cuaca pagi itu begitu dingin. Di sini tidak mengenal musim kalau mau hujan ya hujan kalau mau panas ya panas. Akibatnya jika daya tahan tubuh tidak maksimal gampang sakit. Apalagi disini daerah rawa banyak nyamuk.


Sakti membiarkan Arvi tertidur dengan pulasnya. Dia kecapean karena bertempur melayaninya. Ingin membangunkannya tapi ia urungkan. Dari belakang suara langkah seseorang mendekat. Sakti tersenyum menyambutnya. Rupanya Arvi sudah bangun " Sorry Mas baru bangun" Suaranya memecahkan cuaca dingin kala itu.


"Okey ga pa-pa. minumlah kopi selagi hangat. Sarapan Roti jika lapar".


"Tahu dari mana mas saya suka sarapan roti?


"Ada deh..."


"Mas suka sekali minum kopi"


Sakti menarik tubuh Arvi ke pangkuan tanpa ada penolakan. Sakti hanya ngangguk dan tersenyum.


"Kalau hari ini kita nikah gimana?"


Mata Arvi terbelalak kaget mendengarnya sampai terbatuk-batuk.


"U huk.....uhuk...U huuuk..." Batuknya menutup mulut segera Sakti mengambilkannya air minum dan membantunya minum.


"Kenapa kamu gak suka?" Tanya Sakti pelan


"Secepat itu?".

__ADS_1


"Aq ingin serius Vi... Ga ada waktuku untuk main-main lagi" Suara Sakti meyakinkannya.


"Tapi kenapa hari ini?"


"Aq ingin hubungan kita halal Vi secara agama dan Negara" Lanjutnya


"Mas tidak secepat ini? Ayah ibuku harus tahu kan mereka wali"


"Iya aq ngerti. Kalau kamu takut biar mas yang bicara dengan mereka"


"Mereka di Semarang gak disini" Arvi memberi alasan.


Sakti ngangguk-angguk setuju.


"Mas aq belum siap ngomong kemereka".


Arvi mencoba menolak halus keinginan Sakti. Sakti menarik nafas dalam menatapnya.


"Vii...Tolong hargai niat tulusku". Suaranya mengiba


"Tapi ga harus hari ini mas butuh persiapan matang untuk menikah bukan ujug-ujug gini"


Kilahnya meyakinkan Sakti.


"Aq ingin memilikimu seutuhnya Vi..Biar Syah di agama dan negara. Kamu ingin pesta yang mewah?" Bujuknya lagi masih bersikap sabar.


"Bukan....Bukan itu yang kumaksud. ini bukan kemewahan pesta yang kuinginkan mas tapi hati. Mas serius ingin menikah" Suara lirihnya menyentuh hati.


Sakti memeluknya memahami perasaan Arvi yang masih bimbang dengan perasaannya.


"Yakinlah mereka akan mengerti.."Bujuknya meyakinkan sembari membelai rambutnya. Arvi tetap tidak mau mengikuti keinginan Sakti.

__ADS_1


Sakti memahaminya apalagi Arvi seorang wanita yang butuh wali nikah. Dia harus meminta persetujuan dari kedua orang tuanya dulu. Orang yang melahirkan dan membesarkannya selama ini.


__ADS_2