
"Oh ya sudah. Makasih ya mas. Nanti saya hubungi dia lagi" Ucap Sakti mengakhiri.
"Sama-sama mas"
"Assalamualaikum mas"
"Waalaikum Salam"
Hampir satu jam lebih Sakti ketiduran. Ia terbangun dari tidurnya ketika ponselnya bergetar.
"Dreeet... dreeet...dreeet"
"Assalamualaikum" Sapa Sakti mulai memperbaiki pandangannya.
"Waalaikum Salam. Pak Sakti bisa turunlah kebawah? Teman-teman pada karaoke" Sahut sang teman mengajaknya untuk bersenang-senang setelah seharian ikut kegiatan.
"Kalian lanjut Sudah saya ingin istirahat besok masih kegiatan. Saya rasa capek sekali" Ucapnya menolak ajakan temannya.
"Yakin Pak Kabag tidak ikut? Bu Hanna yang traktir loh Pak" Bujuknya lagi.
"Maaf saya tidak bisa saya capek sekali. Lain kali saja" Ucap Sakti tetap menolak ajakan rekan kerjanya.
"Biar gratis saya juga tidak tertarik apa lagi ada Putri Keuangan yang bayar"Gerutunya dalam hati.
"Sio Pak Kabag takut minum apa?" Sindir lagi teman dari Hp.
"Tidak kawan saya memang lagi capek. Maaf kalau buat kalian kecewa" Ucapnya menolak secara halus.
"Baiklah Pak Kabag. Selamat Malam"
"Malam juga kawan" Ucap Sakti mengakhiri percakapan di Hp.
1Sakti menghela nafas panjang lepas dari jerat temannya yang suka minum-minuman beralkohol. Memang modusnya karaoke tapi intinya mereka mengajaknya minum.
"Dari pada aq menghabiskan waktu untuk menemani kalian minum dan karaoke lebih baik aq tidur atau telpon istriku" Gerutu Sakti.
Segera ia memencet ponsel menghubungi sang istri tapi tidak ada diangkat.
"Angkatlah dek! Kumohon angkatlah jangan bikin tambah pikiran" Gerutunya sendiri
__ADS_1
"Tuhan ampun jagalah istriku disana disaat aq jauh" Lanjutnya menatap keheningan dikamar. Tak terasa rasa kantuk dan capek yang terus bergelayut tak terelakkan. Tidak terasa bunyi dengkuran pun memenuhi seisi ruang kamar. Wajah lelahnya terlihat.
Sakti asyik tertidur kamarnya. Sekitar jam dua dini hari ada seseorang yang mengetuk kamarnya. Rasa ngantuk yang teramat membuatnya tak menghiraukan.
"Tok..Tok...Tok.."
"Pak Kabag sudah tidurkah?"
"Pak tong ada tambah-tambah dana ini buat minum"
Dengan amat sangat mengantuk sekali Sakti tidak menghiraukan panggilan teman-temannya.
" Pak Kabag jangan pelitkah tong sama-sama juga mo" Sindirnya lagi sambil terus meracau karena lagi mabuk.
"Dooor dooor dooor" Gedor pintu dari balik pintu kamar. Tentu saja membuat gaduh pengguni Hotel.
"Ini sudah keterlaluan namanya" Suara Sakti berbicara sendiri.
Tanpa kompromi Sakti segera keluar dari kamarnya. Karena teman-temannya sangat ribut dan gaduh.
"Ceklek"
"Teler betul ini anak buahku? Mau marah mereka dalam keadaan mabuk berat. Berdiri aja sempoyongan. Mau ditaruh dimana ini mukaku" Omelnya dalam hati. Sakti ingin tegas tapi tak mampu sebab mereka dalam terpengaruh minuman beralkohol.
"Aduh ini Pak Kabag tong kehabisan uang bisa tambah dikit kah pak" Ucap salah satu dari mereka.
"Tidak ada kalau untuk hanya beli minuman" Ucapnya tegas.
"Pak jangan pelit-pelitkah. Putri Keuangan sudah sumbang masa Pak Kabag tidak mau bantu kitorang"
"Pak Kabag terlalu pelit masa hanya untuk acara minum saja tidak mau bagi" Omelnya yang gak mau kalah dengan mata memerah akibat miras.
"Kalian tahu waktu tidak ini jam dua malam waktunya istirahat" Gertak Sakti mulai emosi dengan anak buahnya.
"Pak jadi orang jangan terlalu lurus santai mari kita minum-minum biar lebih rileks ga ada beban pikiran" Protes sang anak buah yang bernama Ricky dengan wajah Kumal.
"Saya tidak mau tahu lebih baik kalian masuk ke kamar istirahat besok masih kegiatan. Tidak ada acara minum-minum! Sebab serupiah pun saya tidak akan kasih uang untuk kalian" Gertak Sakti penuh amarah.
"Jangan pelitlah Pak Kabag" Sela Seqy memprotes Sakti yang dianggapnya pelit kalau untuk mentraktir minum-minum.
__ADS_1
"Mau saya panggil securiti Hotel!" Ancam Sakti melotot sambil menunjuk ke arah anak buahnya.
"Aduh Bapak Kabag ini tidak bisa santaikah"
Kesabaran Sakti sudah habis tidak bisa ditolerir lagi. Wibawanya sebagai Kabag gak ada harganya. Ia malu dengan anak buahnya yang mabuk berat. Tanpa di komando Sakti melayangkan pukulan ke arah salah satu dari mereka yang bicara banyak. Sebab Sakti sudah terlalu jengkel. Hingga pukulannya mengenai hidung salah satu dari mereka hingga terjatuh tersungkur ke lantai hotel. Lalu kedua temannya yang mabuk mencoba membantu mereka berdiri.
"Kenapa kamu pukul saya?" Teriaknya kencang-kencang yang menimbulkan keributan di dalam hotel lantai tiga.
"Kamu masih berani tanya? Kamu kira saya takut! Mari sudah kita duel tapi tidak dalam keadaan minum" Gertak Sakti melotot dan mencengkram kerah bajunya.
"Boleh kita bermain tapi ada waktunya. Kita kesini karena ada pekerjaan bukan untuk minum mabuk-mabuk bikin onar keributan ditempat umum? Saya mau besok pagi kamu menghadap saya tidak dalam keadaan mabuk. Ecamkan kata-kata saya itu!!!" Lanjutnya bernada emosi sambil menepuk pipi mereka.
Sebab keributan mereka didepan kamar telah mengganggu ketertiban dalam hotel. Penghuni hotel terganggu ulah mereka yang ribut teriak-teriak gak jelas. Terlihat ada penghuni kamar yang keluar melihat perdebatan mereka.
Tidak lama Securyti hotel datang menghampiri mereka sebab ada yang menelpon ke lobi kalau ada keributan di lantai tiga tempat mereka menginap.
"Selamat malam Bapak. Mohon jangan bikin keributan sebab penghuni lain terganggu dengan keributan kalian" Tegur Securyti hotel.
"Selaku atasan mereka saya minta maaf atas kejadian ini" Sahut Sakti menjelaskan dan penuh wibawa.
"Kalau ada masalah diselesaikan di lobi bawah saja supaya tidak mengganggu penghuni lain".
"Iya siap pak"
"Mohon bapak atau ibu bisa kembali istirahat lagi" Pinta sang Securyti kepada pengunjung hotel.
Mereka pun mulai masuk ke kamar masing-masing. Tinggal Sakti, ketiga anak buahnya dan dua Securyti yang masih ada didepan kamar.
"Kalau begitu kami permisi dulu! Selamat Malam" Ucap Securyti hotel yang memohon undur diri.
"Malam juga pak. Terima kasih" Sahut Sakti menjabat tangan mereka.
Setelah Securyti berlalu Sakti pun memberi arahan ke mereka untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Saya tidak mau tahu kalian bertiga kembali ke kamar masing-masing! Tidak ada acara minum-minum lagi! Kalau saya dapat kalian mabuk bikin keributan saya tidak segan-segan untuk menghukum kalian bertiga" Ancam Sakti.
"Mabuk-mabuk tidak ada kerjaan lagikah?" Lanjutnya mengomel
"Baik Bapak Kabag" Sahut mereka serentak seperti anak kecil yang dapat marah dari Pak guru.
__ADS_1
Begitu melihat ketiga kembali ke kamar masing-masing baru Sakti kembali ke kamarnya lagi.