AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Aq Bukan Siapa-Siapa


__ADS_3

Foto pertemuan Sakti dan Arvi beredar luas di group WhatsApp kantor Sekwan tentu menjadi bahan trending topik sekantor. Entah dari siapa yang pertama kali mendapatkan foto-foto keduanya.


(Oh Pak Kabag ketemu mantannya toh di Jakarta)


(Ada harus dia lupa pulang wong ketemu yayangnya tercinta)


(Sambil menyelam minum air toh!)


(Cinta lama bersemi kembali)


(Maklumi aja lagi Puber ke duaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)


(Bukannya dia sudah menikah lagi?)


(Itu lagi. Dasar tidak tahu diri)


(Pak Kabag tara laku gimana saingannya dokter)


(Pilih titel juga itu perempuan)


(Emang dia wanita murahan baru ditinggal sebentar langsung menikah)


(Biasa wanita dari kota besar matre mata duitan)


(Sesuailah soalnya cantik coba kalau jelek gak ada yang rebutin)


(πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)


(Dia belum move on dari mantan terdahulu)


(Perang dunia ke tiga mau dimulai)


(Kita hanya lihat saja akhirnya gimana?)


(Lebih baik kalian hapus biar mereka selesaikan masalahnya. Lagian tidak ada untungnya ngurusi masalah orang lain)


(Sok bijakπŸ˜‚πŸ˜‚)


(Bukan sok bijak demi kebaikan kita bersama. Yang penting mereka gak merugikan kitaπŸ™πŸ™πŸ™)


Begitulah isi pesan WhatsApp yang heboh di group Sekwan. Yang jelas rekan kerja itu begitu mencemooh pertemuan keduanya lewat pesan WhatsApp group.

__ADS_1


Entah faktor ketidak sukaan atau iri melihat pertemuan keduanya.


Kepergian Arvi yang tiba-tiba patut mendapat kecurigaan diantara rekan sekantor. Sementara Sakti kala itu belum diketemukan keberadaannya. Tanpa ada sebab keduanya hilang tanpa berita


Flasback


Hampir dua setengah tahun Sakti dalam kuasa keluarga Markus. Mereka begitu baik menjaga dan merawatnya hingga sembuh. Hingga pada suatu hari ada petugas Statistik yang melakukan pendataan soal sensus penduduk di Kampung tersebut.


Rupanya salah satu pegawai Statistik itu mengenal Sakti. Ya mereka tetangga di Manokwari. Atas bantuan pegawai Statistik terkuak siapa Sakti sesungguhnya. Akhirnya Sakti dibawa ke Manokwari dan berobat. Butuh waktu untuk mengembalikan kesehatannya seperti sedia kala.


Dengan perawatan yang memadai akhirnya Sakti sembuh total. Namun sayang ketika ia sembuh justru ia harus kehilangan mamanya untuk selamanya. Kehilangan dua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya membuatnya kehilangan pegangan hidup. Ia bagai mati rasa.


Pukulan yang bertubi-tubi harus ia terima. Pertama ia sakit dan ditinggal pergi sang istri tanpa kabar berita. Sewaktu ia sembuh ibu tercinta pergi untuk selama-lamanya.


Tapi hidup terus berjalan ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Markus anak itu seolah menjadi penyemangat di hidupnya. Dengan menyemangati diri sendiri Sakti mengusir rasa sedihnya dengan bekerja dan bekerja tanpa mengenal waktu.


Sakti yang dulu sebelum mengenal Arvi. Ia seperti kembali pada Sakti yang dingin sedingin batu. Pintu hatinya makin tertutup rapat untuk sosok wanita. Dunianya hanya mengabdi di pekerjaan yang tiada habisnya.


Flasbeck finis


******


"Kenapa tidak kasih tahu kalau nyusul?" Protes Arvi antara terkejut dan merasa tidak nyaman. Ia merasa ditipu Richat. Sebab sempat ia mengirim pesan lewat WhatsApp dia bilang Junior ada sekolah.


"Kamu tidak senang kita datang?" Tanya balik Richat menunggu kejujuran Arvi.


"Senang cuma tumben saja mas mau nyusul biasanya sibuk" Kelitnya memberi alasan.


"Bisa kita bicara ditempat lain?" Ajak Richat dengan sopan.


Arvi mulai curiga ada hal penting ingin di bahas diantara keduanya.


"Kita bicara disini saja" Arvi menolak keinginan Richat.


"Saya tidak ingin Junior dengar pembicaraan kita" Sambung Richat memberi alasan kenapa harus bicara di luar.


"Tapi aq capek. Kita bahas di rumah saja" Pinta Arvi tanpa curiga sedikitpun.


"Aq tak ingin membuang waktu lagi"


"Mas aq capek. Katakan saja aq akan siap mendengarnya"

__ADS_1


"Tapi aq yang tak ingin disini"


"Masalah apa sih mas? Jadi jauh-jauh kamu nyusul aq hanya untuk membahas masalah. Kenapa tidak tunggu aq balik saja"


" Justru masalah itu ada disini"


"Maksudmu apa sih mas? Aq gak ngerti deh!" Tanya Arvi masih positif thinking. Tapi menatap sorot matanya ada sesuatu yang ia sembunyikan darinya. Sejenak pikirannya tertuju pada Sakti. Seharian ikut kegiatan membuat otaknya sulit berpikir.


"Apa kalian telah bertemu?" Tanya Arvi lirih.


"Justru aq mau bertanya apa kalian telah tidur bersama?" Tanya balik Richat dengan sorot mata tajam memegang bahunya dengan kuat. Mengisyaratkan jika dokter yang sudah tujuh tahun hidup bersamanya dalam emergency berat.


Mendapat pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Ia memejamkan kedua matanya menarik nafas kuat-kuat seakan oksigen sudah mau menipis.


"Katakan hah! Aq ingin kejujuran. " Arvi membuka mata dokter Richat menuntutnya. Arvi menelan ludahnya. Sorot matanya tajam siap menghujan di jantung menuntut kejujuran dari dirinya.


"Bukankah dari awal kamu tahu mengapa sekarang kamu menuntut"


"Tidak cukupkah pengorbananku untuk kalian"


"Jadi kecurigaanku benar kalau kalian selingkuh dibelakangku? Tega kamu dek!"


"Mas jangan kencang-kencang nanti Junior bangun!" Pinta Arvi agar Richat menurunkan volume suaranya.


dokter Richat tampak kacau kayak kain kusut habis dijemur.


"Tega kamu bohongi aq selama in!"


"Mas aq baru kemarin ketemu tolong jangan.."


"Hentikan! aq kecewa sekali padamu. Rupanya waktu tidak membuatmu berubah. Sedikit saja untukku tidak lebih" Ucapnya memukul dadanya sendiri.


Arvi tak tahu harus bagaimana dokter Richat terlihat frustasi dan rona kesedihan campur amarah begitu terpancar di wajahnya. Rasanya gunung Semeru yang siap meluluh lantahkan apa saja yang ada disekitarnya. Menjelaskan pun percuma mereka akan semakin ribut dan efeknya Junior akan terbangun.


Menyadari hal itu dokter Richat memilih keluar dari kamar itu.


"Mas mau kemana?" Tanya Arvi


"Tidak perlu kau tahu. Aq bukan siapa-siapa bagimu" Jawab dokter Richat berhenti sejenak lalu melangkah tanpa Arvi mampu mencegahnya.


Arvi hanya bisa diam mematung. Ia sadar Richat sangat kecewa terhadapnya.-----

__ADS_1


__ADS_2