AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Pak Kabag Juga Bisa Merayu


__ADS_3

Akhirnya Sakti dan Firman membawanya ke mobil di ikuti sang istri yang mengekor. Tidak lama mereka sudah keluar dari Caffe menuju tempat parkir.


"Pak Sakti saya duluan ketemu dirumah Adi" Jelas Firman dan Sakti pun mengangguk menyetujui ide Firman tersebut.


Kebetulan Sakti mengenal keluarga Adi. Jadi ia tahu alamat rumah Adi. Keluarga Adi termasuk orang yang terpandang di Kabupaten D. Wajar banyak yang tahu tentang keluarganya.


Dalam perjalanan di mobil.


Hanya ada mereka bertiga Sakti sebagai sang sopir sementara Arvi dengan setia duduk disampingnya.


"Jangan menatapku seperti itu?"


"Tidak heran saja"


"Heran kenapa?"


"Baru kutahu rupanya istriku banyak penggemarnya"


"Stop ah mas jangan bahas ini" Suara Arvi mencoba untuk menyudahi.Ia memberi kode kalo ada orang lain di dalam mobil.


"Kenapa sayang kamu malu?"


"Aduh mas Sakti"


"Aq patut berbangga hati selain pintar dan cantik rupanya banyak penggemar. Aq beruntung memilikimu" Puji Sakti masih posisi menyetir mobil.


"Baru kutahu juga kalau Pak Kabag pintar ngegombal" Arvi mencubit pelan lengan suaminya.


"Itu bukan rayuan sayang tapi itu fakta. Gak sia-sia aq lambat nikah rupanya Tuhan kirimkan bidadari cantik yang baik hati dan tidak sombong" Puji Sakti lagi pada sang istri.


Membuat sang istri tersipu malu mendengarnya.


"Mas fokus nyopir sudah bercandanya dirumah" Rengek sang istri sebab dari tadi Sakti terus menggodanya.


"Kenapa kamu gak cerita sayang?"


"Mulai lagi deh?" Ucap sang istri sembari melotot menahan malu.

__ADS_1


"Rupanya istriku pemalu" Goda Sakti lagi. Tapi sang istri sudah gak mau menggubrisnya lagi


"Mas hanya bercanda koq" Bujuknya mencoba menenangkan sang istri yang udah mulai kesal dengan candaannya.


"Pasti pemikiran orang saya wanita yang matrealistis ya mas? Mau menikah denganmu" Suara Arvi membuatnya tersentak kenapa arahnya ke matrealistis.


"Mas bukan termasuk orangnya seperti itu. Mas tulus menikahimu karena cinta. Mas tahu kita dipertemukan lewat cara seperti itu tapi mas tidak menyesal justru mas bersyukur dengan jalan itu kita bisa menikah. Jangan mikir yang aneh-aneh" Jelas Sakti penuh keyakinan.


Tiba-tiba sang istri mencium pipinya


"Muuuah. Itu yang saya suka dari mas suka menolong"


"Jadi kamu memanfaatkanku" Goda Sakti mengelus rambut sang istri dengan lembut dan sang istri tertawa mengerjainya.


"Pesan mas hanya satu jangan buat mas kecewa"


"Bukannya mas yang sering bikin aq kecewa" Protes Arvi sambil melotot ke arah sang suami yang fokus menyetir.


Sementara sang penumpang ada tertidur di belakang. Tidak sepenuhnya ia tertidur dia mendengar semua percakapan suami istri tersebut. Batinnya makin hancur bak butiran debu mendengar kesungguhan Sakti.


Secara pribadi Adi bangga dengan Arvi karena ia memilih laki-laki yang tepat. Adi tahu Sakti orang yang baik dan berwibawa. Ia tahu kalau Sakti sangat mencintainya. Adi hanya merasa aneh kenapa mereka menutupi pernikahan mereka dari orang-orang di Kantor?


Selama di mobil Sakti bersiul-siul ga jelas apakah itu sindiran untuk sang istri? tapi entahlah Sakti terlihat aneh. Istrinya hanya tersenyum geli tidak mau menoleh ke arahnya. Sebab badan Sakti bau muntahan Adi. Sementara yang bikin ulah tidur dengan pulasnya.


Tak terasa mereka telah sampai tujuan. Adi masih tertidur dengan pulasnya. Sementara Firman telah nyampe duluan.


Sakti memarkirkan mobil persis di depan rumah Adi. Tampak penghuni rumah telah siap siaga melakukan penjemputan.


"Selamat malam Pak Sakti. Aduh kami minta maaf sudah merepotkan?" Suara Seorang wanita berkerudung menyambutnya.


"Malam juga Bu Haji"


"Mari masuk dulu kerumah"


"Lain kali saja Bu Haji sudah terlanjur malam kasihan dia" Suaranya memberi kode kemobil.


Firman dan anggota keluarga lain berupaya membangunkan Adi yang teler berat hingga ibunya merasa heran. Firman sepertinya tahu kalau Adi tidak sepenuhnya tidur. Ia tak ingin membuat temannya malu.

__ADS_1


"Firman ayo bangun sudah sampe rumah ini" Firman mencoba membangunkannya tapi tidak ada reaksi.


"Angkat saja sudah bikin repot orang saja" Jawab dari mereka. Rasanya Firman ingin menarik paksa tubuh Adi yg tak sepenuhnya tertidur.


"Adi.. Adi!!!Kenapa kamu nak?? Perempuan mana yang bikin dia sampe begini? Nanti mamak denda dia"


Omelnya penuh sembari mengikuti rombongan yang mengangkat tubuh Adi masuk ke rumah.


"Haaaaaaa"


Sakti pecah ketawa mendengar Omelan ibu Adi. Arvi hanya mesam mesem. Takut juga dengan omelannya Ibunya Adi.


"Mama hajar saja Adi kalau udah sadar" Ungkit Adi memberi ide pada ibunya Adi.


"Kamu ini juga bawa pengaruh Tara baik buat Adi. Bukannya menasehati ini palah ngajak minum sampe mabok. Apa kata orang kalau anaknya Pak haji mabok bikin malu keluarga saja" Omel sang ibu balik marah Firman


"Saya punya maitua itu ada-ada saja Pak Sakti kalau bicara. Itu karena dia memanjakan Adi kayak anak kecil" Bapak Adi berbicara setengah curhat.


"Ikatan batin antara ibu dan anak pak tak rela anaknya kenapa-kenapa" Sahut Sakti.


"Aduh terima kasih banyak Pak Sakti sudah mau antar anak saya kermah"


"Sama-sama Pak"


Tidak lama Firman datang menghampiri Sakti.


"Makasih Pak Sakti" Ucap Firman menjabat erat Sakti sambil tersenyum meledeknya.


Oh Sakti pun tak kalah akal dia menarik tangan Firman dan memeluknya. Untuk memberi pelajaran buat Firman. Agar Firman juga terkena muntahan Adi juga. Dia masih jengkel dengan kejadian Adi muntah dibadannya.


"Ampun Pak" Suara Firman memohon. Ia tahu Sakti memang pendiam tapi dia mau diajak bercanda.


Semuanya tertawa melihat ulah keduanya.


"Haaaaaa"


"Untuk semuanya saya mohon pamit pulang dulu soalnya sudah malam. Mari semua!" Ucap Sakti pamit menyudahi percakapannya.

__ADS_1


" Ok Bapak hati-hati" Firman menyaut sambil melambaikan tangan.


Sakti pun berjalan menggandeng sang istri masuk ke mobil. Tidak butuh lama mobil pun berlalu dari pandangan mereka.


__ADS_2