
Dengan segala daya upaya ketiganya membawa Sakti ke kampung mereka. Mereka merawat dan mengobati Sakti dengan obat-obat tradisional yang biasa mereka gunakan.
Mereka tinggal di sebuah Kampung. Dimana kampung itu terletak di pinggir pantai. Kampung itu hanya ada sekitar delapan rumah saja yang letaknya saling berdekatan. Jika tidak musim ombak mereka melaut cari ikan jika musim ombak maka mereka akan berburu dihutan. Itulah mata pencarian mereka sehari-hari.
Mereka akan turun ke kota setiap tiga bulan sekali. Sementara anak-anak mereka sekolah di kota. Jarak kota ke kampung sangat jauh. Apalagi akses jalan belum masuk. Rencana pemerintah mau bangun tapi sampai dua tahun ini belum terealisasi kan.
Markus tampak setia menunggu Sakti yang terbaring masih tidak sadarkan diri. Entah kenapa ia begitu tertarik dengan Sakti padahal mereka tidak pernah ketemu ataupun saling mengenal. Anak itu seperti terhipnotis dengan sosok Sakti. Sebab dalam benak anak itu teringat akan pelajaran di sekolah yang gurunya ajarkan tentang Saling menolong dan cinta kasih sesama manusia.
Dia sekolah di Kampung sebelah kebetulan libur semester sehingga ia ikut sang kakak dan ayah ke hutan. Markus tergolong anak penurut dan paling di sayang mama.
"Bapak jika Abang ini bangun kitorang Tara usah kasih balik e" Suara Markus memulai percakapan. Ia tampak serius mengamati tubuh Sakti.
"Ah kenapa kau sibuk urusi dia?" Sergah Edu menyela adeknya yang sedang menonton sang bapak membuat obat untuk Sakti
"Biarkan Abang tinggal dengan kitorang saja disini" Sahut adeknya dengan polos.
"Markus jika dia sudah sehat pasti dia kembali ke dunianya" Jelas sang kakak menggoda.
"Tidak toh Bapak?"Tanya Markus penuh slidik.
"Kalian bikin Bapak pusing saja. Markus tolong kamu buat api untuk merebus air!" Perintah beliau. Dengan segera Markus bergegas ke belakang.
Dibelakang tampak sang kakak perempuan dan mamanya sedang mencuci sementara kakak gadisnya menyapu. Pak Ayup memiliki seorang istri dan tiga anak. Edu adalah anak tertua usianya dua puluh dua tahun sementara Marta berumur delapan belas tahun sementara si bungsu Markus baru beranjak dua belas tahun.
"Markus dia belum bangun juga?" Tanya sang mama penuh tanya.
"Belum mama ini saya disuruh bapak rebus air" Jawab anaknya mulai menyalakan api.
"Mama kasihan e itu orang. Kira-kira keluarganya mencarinya kah tidak e? Mama!" Sahut Markus mulai mengambil kayu bakar meletakkannya ditungku.
"Yii...Markus sekarang saya tanya e! Kira-kira jika kamu pergi kitorang carikah tidak? Kakak tanya ini" Sela Marta menyerang bukan dalam arti fisik tapi menyerang kata. Markus cengar cengir dengan tersenyum menampakkan giginya yang besar-besar. clinng
"Yiii Saya mana tahu kan saya tidak pernah pergi jauh" Protes Markus tidak mau kalah serang balik.
__ADS_1
"Yo dipikir dia penting jadi" Sahut Marta kesal.
"Boleh toh sesekali" Jawab Markus tak mau kalah.
Mendengar keduanya debat sang mama mencoba mengurai.
"Markus tidak usah begara cepat laksanakan tugasmu bikin api lalu rebus air dengan belanga" Jawab mamanya masih asyik mencuci.
"Baik mama" sahut Markus bergegas menjalankan perintah ayahnya.
"Tobat mama marah"Celetuk Marta menggoda Markus yang langsung fokus ke tugas awalnya bikin api ditungku untuk merenbus air.
"Yiii tidak yiii!! Dasar syirik saya adukan ke bapak e kalau kakak Marta ada pacaran dengan kakak Jhon" Sura Markus yang polos tidak terkontrol. Kata itu meluncur dari mulutnya seperti kereta cepat tidak ada rem.
Otomatis Marta bereaksi cepat matanya melotot seakan ingin memukul sang adek dengan sapu yang sedang dipegangnya.
"Kau tunggu Markus pembalasanku" Batin Marta dengan ganas. Rasanya ia ingin mencekiknya, ingin memukulnya dengan ganas Sekai tapi ia tidak lakukan sebab ia sangat menyayangi sang adik bungsu.
"Eh apa kamu bilang markus?" Tanya mamanya.
"Markus!!! Manusia tidak tahu diri rakus makanan bikin diri syok pintar" Teriak Marta berlari kearah Markus dengan gagang sapu tapi sang mama potong Pele. Markus tidak kalah gesit ia segera berlari lewat pintu belakang. Mamanya ketawa dan mencoba mencegah Marta. Ia tak ingin keduanya bekelahi saling ejek.
"Mama Tara dengar kah Markus punya kata-kata!" Protes Marta pada ibunya yang mencegah gerak langkahnya dengan menarik lengan Marta.
"Marta mengalah sudah dengan adikmu. Kalian ribut terus!!! Ada orang sakit di dalam" Sergah ibunya mengingatkan keduanya.
"Mama dari tadi Markus tinggal ganggu saya terus" Protesnya menjelaskan.
"Dia hanya bercanda. Oh ya saya mau tanya langsung mumpung kamu ada" Ucap mamanya dengan sabar.
"Tanya apa mama?"
"Betul dengan apa yang dibilang Markus itu?" Tanya mama penuh slidik. Wajahnya berubah seketika. Ia tampak malu dihadapan sang mama.
__ADS_1
"Ah tidak mama. Markus asal saja" Ucapnya berbohong.
"Macam mama lihat kamu terlihat akrab itu hari waktu ada ibadah" Timpal mamanya penuh slidik lagi.
"Ah mama macam tidak pernah muda saja. Lihat anak mama punya gadis sudah minta kawin" Suara Edu dari dalam rumah.
"Markus kalau disuruh bapak main kabur saja" Gerutu Edu yang memulai tugas sang adek yang ditinggalkan.
"Eh Markus ini main kabur saja" Ucap marta protes. Mau tidak mau ia yang mengerjakan tugas tersebut.
"Edu. Lebih baik kita bawa itu orang ke Puskesmas di desa sebelah. Siapa tahu ditangan mereka orangnya sembuh" Usul sang mama memperhatikan Edu.
"Mama bilang di bapak sudah!" Sahut Edu.
"Saya kasihan e! Pasti keluarganya mencari keberadaannya"
"Jadi kita harus turun ke kota ini mama?" Tanya Edu penuh harap.
"Mama takut jika tambah sakit itu orang"
Mendengar suara nimbrung di dapur sang bapak ikut bergabung.
"Bapak mau minum kopi?" Tanya Marta menyambut sang ayah dengan kasih.
"Iyo bikin sudah bapak mau minum" Ucap bapaknya dengan tenang. Segera Marta berjalan menuju meja meraih gelas dan menuang kopi plus gula. Lalu ia mengambil termos yang berisi air panas. Segera ia menuangnya. Tidak berapa lama kopi racikan Marta telah siap. Marta meletakkan kopi diatas meja dekat sang ayah tersayang.
"Bapak minum sudah kopinya!" Tawar Marta pada ayahnya.
"Terima kasih" Sahut ayahnya menyesap kopi buatan anak gadisnya.
"Bapak Edu orang itu sudah ada tiga hari dirumah kitorang tapi tidak bangun-bangun juga. Bagaimana jika kitorang bawa ke kota" Suara istrinya memulai pembicaraan.
"Kita tunggu reaksi dari obat yang bapak kasih dulu"Jawab suaminya kembali menyesep kopi lagi.
__ADS_1
"Bapak tong takut dia kenapa-kenpa? Pasti keluarganya ada cari itu" Sela sang istri dengan lembut.