
Hari berganti hari. Perut Arvi pun mulai membesar. Frekuensi muntahnya pun menghilang dengan sendirinya. Dokter Richat begitu perhatian dan bertanggung jawab padanya. Sesibuk apapun ia kuliah tak lupa dengan tanggung jawabnya sebagai suami siaga.
Ketulusan nya merawat dan menjaga sang istri patut di acungi jempol. Andai kata ada nominasi penghargaan katagori suami terbaik dokter Richat lah pemenangnya.
Sayang ketulusan itu tidak serta Merta meluluhkan hati Arvi. Sikapnya tidak berubah. Di mata Arvi dokter Richat tetaplah seorang dokter sekaligus teman Sakti. Kadang ia juga merasa tidak enak hati dengan apa yang telah dilakukan suaminya. Batinnya menangis tidak mampu membalasnya. Ia pun tersiksa dengan kebaikan dokter Richat yang begitu tulus. Arvi tak ingin salah mengartikan semua kebaikan dokter Richat selama ini. Walau seratus mereka sumai istri.
Tidak terasa usia kandungannya mulai menginjak tujuh bulan. Dokter Richat dengan setia menjaga dan merawatnya.
****
Keinginan dokter Richat untuk pindah rumah dari mertuanya ditolak Pak Hartono. Pria tua itu tak ingin jauh dari anak dan calon cucunya yang tunggu berapa bulan lagi akan lahir.
"Inikah cara kalian membalas sikap ayah!" Ucap Pak Hartono dengan ketus.
"Ayah tolong mengertilah keadaan suamiku" Bujuk Arvi
"Ayah mengerti keinginan kalian, tapi ayah harap kalian tetap tinggal disini. Sedikit lagi istrimu melahirkan ayah ingin ada dirumah ini" Ucapnya penuh kekawatiran dengan keadaan Arvi.
"Ayah jangan ragukan kemampuan suamiku menjaga dan merawatku selama ini" Jelas Arvi masih membanggakan dokter richat
"Tapi ayah kami pindah sebab tempat kuliahnya lumayan jauh dari rumah ini"
"Ayah akan Carikan sopir untuk mengantarkan nak Richat jika kuliah"
"Ayah kumohon"Ucap Arvi lirih meminta ayahnya untuk menuruti keinginannya kali ini. Tangan dokter Richat meraih bahunya. Ia memberi isyarat padanya untuk menerima perintah ayahnya.
Sepertinya Pak Hartono kekeh dengan prinsipnya.
Dokter Richat menyadari jika istrinya sedikit banyak memiliki karakter sama dengan mertuanya kekeh dengan prinsip.
__ADS_1
"Jika kalian pindah rumah makin sepi. Itu alasan ayah melarang kalian pindah. Arvi jika ayah tiada siapa yang akan lanjutkan bisnis ayah. Kamu tidak ingin sukses seperti kedua kakakmu yang merintis bisnis"
"Tapi ayah Arvi sekarang sudah menikah "
Tanpa bicara lagi Pak Hartono meninggalkan keduanya yang masih saling pandang. Tak tahu harus bicara apa. Hening dan senyap tanpa kata. Keduanya terpaku.
Setelah beberapa saat Arvi memberanikan diri bicara dengan dokter Richat yang baik hati.
"Maaf aq tidak bisa meluluhkan hati ayah" Suara Arvi terlihat gusar dan merasa bersalah padanya.
"I'm fine. It's okey. Kita ikuti maunya ayah" Seru dokter Richat mencoba menerima keputusan mertuanya yang otoriter tidak bisa diganggu gugat.
"Jujur saja saya tidak enak hati dengan mas"Ucap Arvi lirih menatap dokter Richat.
"Dibikin enak saja" Seru dokter
"Dokter marah?"
Arvi diam mematung menatap dokter ganteng yang ada didepan matanya. Ia salah tingkah ketika sang dokter menatapnya dari jarak dekat. Arvi berusaha memalingkan wajahnya. Ia tak ingin menatapnya terlalu lekat. Sorot mata dokter Richat yang begitu teduh mendambanya.
"Sedekat ini saja ia tak tertarik dengan wajah gantengku! Mungkinkah aq terlalu lebay?" Gumamnya dalam hati. "Bagaimana caraku menggeser kepemimpinan Sakti dari hatinya. Sosok Sakti begitu merajai hati Arvi. Tuhan lama-lama aq bisa gila jika berdekatan seperti ini"Lanjutnya tanpa suara. Ia hanya bisa pendam isi hatinya.
Menyadari sang istri menghindarinya. Richat perlahan menjauh. Arvi hanya terdiam melihat suaminya berlalu tanpa kata. Batinnya sendiri pun teriris pedih dengan keadaan itu.
Bagaimana pun dokter Richat laki-laki normal. Tertarik dengan lawan jenis itu pasti. Yang aneh kenapa ia bersedia menikahinya? Apa karena rasa kasihan? tapi dapat terlihat dengan jelas ia begitu tulus dan sayang padanya. Tapi ia tak ingin sesumbar melihat background dia seorang dokter. Ia akan care sama siapapun. Dia berkesimpulan jangan kegeeran dengan perhatian yang diberikan dokter Richat selama ini.
******
Di kamar. Dokter Richat asyik membaca tanpa memperhatikan bumil yang tidur menyamping membelakanginya. Arvi tampak gelisah. Sedikit-dikit kekiri ganti ke kekanan. Nafasnya terasa ngap. Maklum usia kandungannya memasuki trimester ke tiga susah tidur.
__ADS_1
Entah berapa kali ia mengusap perutnya. Calon bayi yang ada diperutnya pun begitu aktif menendang dari dalam. Kadang ia dibuat kaget dengan tendangan calon bayinya hingga membuatnya tersenyum sendiri. Bahkan terkadang ia bicara sendiri sembari mengusap-usap si calon jabang bayi yang aktif.
"Kau begitu aktif sayang sama seperti ayahmu pintar"Ucapnya lirih tak terasa air matanya menetes. Ucapannya terdengar samar tapi dokter Richat dapat mendengar jelas jika istrinya sedang bicara dengan calon bayinya. Ia hanya tersenyum matanya fokus dengan buku yang dibacanya.
Ketika Arvi asyik bicara sendiri ia tidak menyadari jika Richat ya dokter Richat mendekat ke arahnya. Tampaknya dokter Richat juga gemas mendengarnya.
"Boleh aq membelainya!" Permintaan itu membuyarkan semua imajinasi Arvi denga sang calon bayi barusan. Arvi terlihat kikuk dengan permintaan suaminya itu. Bukankah itu tidak dilarang dalam hubungan mereka.
Dokter Richat berhak menyentuhnya.
Arvi terlihat ragu-ragu untuk menjawabnya. "Baiklah kalau tidak boleh" Ucapnya memberi penegasan untuk dirinya sendiri. sebetulnya ia kecewa jika Arvi tak mengizinkannya.
"Jika mas tidak keberatan" Sahut Arvi tersenyum kecut.
"Terima kasih" Serunya dengan riang. Tanpa pikir panjang dokter Richat meletakkan tangannya diatas perut Arvi yang terlihat buncit.
"Permisi!" Pintanya dengan sopan dan Arvi mengangguk memberi isyarat jika ia menyetujuinya.
Perlahan dokter Richat mengelus perut Arvi dengan lembut. Rupanya si jabang bayi tahu jika ada orang lain selain mommy nya. Dokter Richat dapat merasakan calon bayi itu memberi respon akan usapan tangannya yang penuh kasih.
Bahkan dokter Richat terlihat gembira merasakan tendangan calon bayi mereka.
"Oh kamu sudah tidak sabar ingin bermain bola dengan Deddy ya? Kelak jika sudah besar kita akan main bola sungguhan"Celetuk dokter Richat dengan rona bahagianya mengusap perut Arvi yang bergerak gerak. Bayi yang ada dirahimnya begitu aktif bergerak.
"Tenanglah sayang jangan terlalu aktif kasihan mommy mu dia sangat menyayangimu" Lanjutnya tiada henti mengusap usap perut Arvi.
Sesekali dokter Richat mencuri pandang wajah bumil yang kikuk di hadapannya. Ia berusaha menghindar dari tatapan matanya. Ia begitu takut menatap mata sang suami.
Jarak yang begitu dekat Arvi bisa melihat dengan jelas ketampanan pria berkacamata itu. Ia takut berpaling dari hati Sakti.
__ADS_1
Melihat sikap dokter Richat yang begitu bahagia Arvi tertegun diam. Dia tak menyangka jika suaminya itu begitu menyayangi anak yang sedang ia kandung. Arvi enggan menatap wajah dokter Richat. Ia mencoba mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"