AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Kepergian Bu Hartono


__ADS_3

Masih di Ruang kerja.


Arvi duduk termenung mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Sebab tidak biasanya Dinda menanyakan kabar. Rindu itu pasti sudah dua tahun lebih mereka gak ketemu. Arvi lumayan tertutup anaknya apalagi dengan kedua kakaknya.


Di Semarang


Wajah tua itu enggan pergi dari pusara yang masih basah dengan taburan bunga mawar diatas. Ia tampak terpuruk dengan kepergian istrinya. Pria dengan berkarakter keras itu bagai tiada daya. Ia tidak menyangka jika istrinya akan meninggalkannya secepat itu.


Wanita yang selalu mendampinginya selama dua puluh empat jam telah duluan menghadap sang Khaliq. Jiwanya rapuh saat ini. Ada rasa sesal yang teramat dalam. Mengingat semua kenangan yang tampak di pelupuk matanya.


Walau ia tidak pungkiri dua tahun terakhir ini hubungannya tidak begitu baik. Bisa dibilang keduanya seperti perang dingin. Sang istri begitu setia mendampinginya dari nol hingga ia sukses memiliki usaha. Teringat masa-masa sulit telah mereka lalui bersama.


Flashback


Seperti hari biasa Bu Hartono menyiapkan masakan untuk sang suami. Entah kenapa sedari selesai sholat subuh kepalanya terasa pening. Sempat ia istirahat tapi rasa peningnya tidak kunjung reda. Kebetulan hari itu suaminya baru pulang dari luar kota. Seperti biasa dia akan menyambut sang suami dengan masakan kesukaan istimewanya sayur asem. Pak Hartono sangat menyukai masakan sang istri.


"Bu kalau sakit biar saya yang kerjakan" Tutur sang asisten mencoba mengambil alih pekerjaan dapur.


"Cuma pening dari kemarin koq gak ilang-ilang" Keluh sang majikan sambil memegang kepala. Wanita tua yang terlihat nampak tegar tapi isi hatinya begitu rapuh. Betapa ia sangat rindu dengan sang anak bungsunya.


"Ibu istirahat minum obat. Saya antar ke kamar ya" Sela asistennya mencoba untuk membantunya.


Nafas sang majikan terasa berat.


"Tapi ini belum selesai sedikit lagi Bapak datang" Sahut Bu Hartono mencoba menolak.


"Iya Bu tapi Ibu lagi sakit. Mari saya antar ke kamar" Sang asistennya pun mengantarnya menuju ke kamar pribadinya.


Sesampai di kamar pribadinya sang asisten pamit meminta izin untuk melanjutkan pekerjaan didapur yang ia tinggalkan.


"Ibu istirahat dulu nanti kalau Bapak datang saya kasih kabar di ibu. Saya permisi dulu ke dapaur" Suara asistennya meminta ijin.

__ADS_1


"Iya makasih bik" Sahut majikan yang telah baring di ranjang.


Sebuah mobil telah masuk ke halaman rumah yang begitu luas dan tertata apik tamannya. Rupanya Pak Hartono telah datang dari luar kota mengurus bisnisnya.


Begitu mobil berhenti sang sopir pun membukakan pintunya.


Mengetahui majikannya telah datang segera ia menghampirinya.


"Selamat pagi Pak!"


"Selamat pagi. Bik! Mana Nyonya Bik? Koq sepi?" Tanya Pak Hartono berjalan masuk ke dalam rumah.


"Pak sedari pagi Ibu sakit barusan saya suruh istirahat ada di Kamar" Jawab asisten penuh dengan hormat.


"Ibu sakit apa?" Tanya majikannya penuh slidik.


"Ibu bilang kepalanya pening sudah dipake istirahat tapi gak ilang Pak" Jawab asistennya penuh santun.


"Dua hari yang lalu Pak Mbak Dinda datang dengan anak-anak cuma sebentar katanya mereka gak nginep soale masih ulangan" Jelasnya.


"Oh ya saya tak ke kamar untuk lihat ibu dulu. Saya lupa gak bawa oleh-oleh pesanan Ibu" Sela Pak Hartono bergegas pamit. Walau perang dingin diantara mereka tapi istrinya sangat bijaksana dalam mengatasi persoalan dalam rumah tangganya. Untuk saat ini kayaknya dia harus ngalah dari istrinya.


"Pak kasihan Ibu jangan marah. Maaf pak saya lancang" Suar sang asisten menghentikan langkah Pak Hartono.


Asistennya ini telah ikut dirinya sejak lama. Tidak salah jika ia mengetahui segala persoalan yang ada dirumahnya. Pak Hartono menganggapnya seperti keluarga sendiri. Apalagi umur beliau tidak beda jauh dari dirinya


"Bibik tenang saja. Saya akan jemput Arvi apapun keadaannya biar ibunya gak kepikiran terus" Jawab Pak Hartono mencoba untuk tenang. Sepertinya ia sudah mencoba untuk berbesar hati menerima keputusan sang anak.


"Syukurlah Pak saya ikut seneng dengarnya pasti Ibu seneng mendegar kabar ini" Seru sang asisten dengan mata berbinar-binar terharu mendengar ucapan Pak Hartono.


"Makasih Bik. Kalau begitu saya temui dulu istriku" Pamit Pak Hartono bergegas pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Pak Hartono mengetuk kamar pribadinya.


"Tok...Tok...Tok!!!!"


Tidak ada suara dari balik kamar. Pak Hartono pun tanpa permisi menarik gagang pintu hingga terbuka.


"Ngiiiik"


Pak Hartono bergegas masuk ke dalam. Ia tak menemukan sang istri lalu ia melangkah menuju kamar mandi yang sedikit terbuka.


"Pasti dia di kamar mandi" Pikir beliau tapi tidak ada suara aktivitas di dalam.


Alangkah terkejutnya jika ia dapati sang istri telah terbaring di lantai kamar mandi tak sadarkan diri


"Ya Allah istriku bangunlah!!! Bik...Bik!!!" Teriak Pak Hartono menangis memeluk sang istri yang terbujur.


Mendengar teriakan kencang sang majikan semuanya berhambur menuju sumber suara.


"Bangunlah Bu kita akan jemput Arvi. Aq mohon bangunlah!!! Akan kuturuti semua yang kamu mau" Isak tangis Pak Hartono mncoba mengguncangkan tubuh istrinya agar bangun. Tapi tubuh itu tidak bereaksi. Tidak ada nafas ataupun denyut jantungnya.


"Inalillahi Wainalilahi Rojiun" Pak Hartono memeluk tubuh erat istrinya dengan cucuran air mata. Laki-laki yang berkarakter tegas itu tidak bisa menyembunyikan rasa duka yang teramat dalam ditinggalkan istrinya.


Suara tangisan pecah seketika melihat sang majikan telah berpulang.


"Duh Gusti Ibu!!!" Teriak asistennya histeris. Ada rasa penyesalan yang teramat.


"Mengapa saya meninggalkan majikanku sendiri? Seharusnya saya tadi tidak ke dapur" Batin sang asisten berkata.


"Bodohnya saya lebih mengutamakan pekerjaan di dapur kenapa tidak menemaninya? Mungkin kejadiannya tidak seperti ini" Batin sang asisten merutuki dirinya sendiri yang begitu tledor dan tidak peka dengan kondisi majikannya yang sakit. Menyesal tiada guna. Mungkin sudah takdir Bu Hartono meninggal akibat terjatuh di kamar mandi.


"Aryo tolong bantu saya!!" Ucap Pak Hartono masih terisak.

__ADS_1


Mereka lalu membantu Pak Hartono mengangkatnya ke tempat tidur.


__ADS_2