AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Malam Pertama Kelabu


__ADS_3

Dinda dan Ayu tampak sibuk membantu sang adik untuk mengganti pakean bersama perias yang sengaja mereka datangkan ke rumah. Lalu mereka membantu Arvi membereskan sisa riasan.


Dokter Richat masih di luar asyik bercengkrama dengan Ayah mertua dan kedua iparnya. Tidak ada rasa canggung ketika dia ngobrol dengan mereka. Terlihat dokter Richat begitu santai menikmati keakraban keluarga barunya. Bahkan kedua iparnya selalu menggodanya soal malam pertama.


"Dokter kalau butuh jamu bilang sama saya! Nanti saya Carikan. Siapkan stamina biar gak kendor" Celetuk Suami Dinda yang masih memanggilnya dengan titelnya.


"Betul itu. Mungkin dokter sudah dag dig Dug menunggunya" Sahut suami Ayu ikut menimpali


Mendengar celotehan kedua iparnya dokter Richat hanya tersenyum sambil menahan tawanya. Keduanya tampak kompak membuatnya tersipu malu.


Sebetulnya ia lekas ingin masuk kamar membersihkan badan. Rasanya badan udah lengket dengan keringat.


"Pergilah ke kamar. Arvi sudah menunggumu itu" Suami Dinda memintanya untuk masuk ke kamar.


"Iyo lanjutkan misimu!" Goda Suami Ayu tampak memberi semangat padanya.


"Iya mas. Saya masuk dulu!" jawab dokter Richat sembari tersenyum meninggalkan mereka yang masih asyik bercengkrama.


*****


Dibalik pintu dokter Richat mencoba untuk masuk tapi mereka masih di kamar.


Terdengar gelak tawa dari Dinda dan Ayu. Mereka juga menggoda Arvi dengan kata-kata khas jawa.


Tidak berapa lama mereka keluar dari kamar Arvi. Mendapati dokter Richat masih berdiri di depan kamar.


"Loh kenapa masih diluar dokter? Silahkan masuk!" Sambut Dinda dengan ramah.


"Iya kak" Sahutnya tampak malu mencoba untuk tenang.


"Jaga adikku ya dok!"Imbuh Ayu tersenyum menepuk bahu dokter Richat.


"Selamat malam dok!" Ucap Dinda memberi salam dan mereka pun berlalu turun ke lantai bawah.


Segera ia mengetuk pintu kamar Arvi.

__ADS_1


" Tok... Tok Tok..!"


"Ceklek" Suara pintu terbuka


Terlihat Arvi sudah tidur di sofa panjang yang ada di kamar. Melihat pemandangan itu hatinya miris. Dokter mencoba mendekatinya.


"Arvi tidurlah di ranjang biar aq saja yang tidur di sofa" Tegur dokter Richat dengan penuh sopan. Ia merasa iba dan bersalah.


"Sebegitu takutnya kusentuh Arvi hingga harus tidur di sofa" Bisiknya dalam hati.


"Tidak apa-apa dok! Biar aq disini saja" Jawabnya tidur miring tanpa melihat wajah suaminya.


"Arvi ini kamarmu aq hanya tamu. Tidak seharusnya kamu tidur di sofa. Biar aq saja yang tidur di sofa "


Arvi menarik nafas dalam perlahan ia membalikkan badannya yang tertutup selimut.


"Dokter sudah banyak membantuku tidak mengapa jika aq disini? Bukankah ini sesuai dengan kesepakatan kita menikah diatas kertas" Ucap Arvi menjelaskan.


"Iya Aq tahu jika pernikahan ini hanya sebatas diatas kertas cukup kita berdua yang tahu. Tetaplah tidur seranjang aq janji tidak akan menyentuhmu" Ucap dokter Richat meyakinkan jika ia tak akan menyentuhnya.


"Tentu saja kecuali jika kau yang menyentuhku terlebih dahulu. Kalau itu aq tidak keberatan" Sahut dokter Richat menggodanya. Membuat mata Arvi melotot sempurna.


"Bagaimana mau menyentuhmu kalau galak gitu?" Sindir dokter Richat mencoba mencairkan suasana yang tampak kaku.


Arvi tersenyum salah tingkah dengan perkataan dokter Richat barusan.


"Mulai sekarang panggil aq Richat saja tidak pake dokter kesannya aq terlihat tua dan itu sangat formal sekali" Keluh dokter Richat memintanya untuk tidak memanggil dokter.


"Baiklah jika itu mau dokter! Eh maaf Richat" Seru Arvi tergagap mengulang kata dokter yang mendapat pelototi dari empunya.


"Richat ...Richat terkesan tidak sopan panggil nama saja. Aq panggil mas boleh?" Lanjut Arvi merasa ganjil dengan panggilan nama saja.


"Terserah mana enaknya menurut kamu. Panggil mas juga tidak apa-apa! Macam terlalu mesra panggilan itu" Keluh dokter Richat mencoba untuk bercanda.


"Baru mau panggil Kak kayak anak pramuka" Gerutu Arvi menimpali dokter Richat.

__ADS_1


Dokter Richat tersenyum mendengar Omelan Arvi barusan.


"Sebetulnya kamu lucu kalau mengomel" Suara dokter Richat membuat Arvi diam seketika.


"Kukira kamu pendiam seperti Sakti? Lanjut dokter memulai lagi.


"Dokter sudah malam lebih baik mandi" ucap Arvi mengingatkannya ia tahu jika dokter Richat mulai merayu.


"Oh iya sampai lupa asyik ngobrol. Kamu istirahat sudah. Hari ini aq senang kamu sehat gak sakit! Aq mandi dulu" Jelas dokter Richat pamit.


"Dokter tunggu dulu saya ambilkan handuknya!!" Seru Arvi mencoba untuk menahan sang dokter untuk tidak ke kamar mandi dulu.


Dokter Richat menghentikan langkahnya.


"Rupanya dia ada perhatian juga padaku"Bisiknya dalam hati


Arvi membuka lemari mengambil handuk.


"Ini dok!"Ucapnya berjalan mendekati suami yang baru berapa jam mengucapkan ikrar nya. Dokter Richat pun menerima handuk yang ia sodorkan. Tapi Arvi tidak berani menatap suaminya ia hanya menunduk. Menghindar dari tatapan mata suaminya.


"Terima kasih" Sahutnya bergegas masuk menuju kamar mandi. Walau hanya berupa pemberian handuk ada satu kebahagian tersendiri yang mengalir di jantungnya. Bahagia mendapatkan perhatiannya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya dokter Richat keluar. Pandangannya tertuju pada ranjang tempat tidur yang terlihat kosong hanya ada bantal guling dan selimut. Rupanya Arvi tetap baring di atas sofa. Dokter Richat menggelengkan kepala.


"Aq tidak akan menyakitimu Arvi. Niatku tulus semoga engkau mengerti!" Bisiknya dalam hati. Lalu dokter Richat memakai kaos dan celana panjang rumahan. Ia terlihat santai dengan baju itu.


Malam pun mulai larut. Arvi memang tertidur lelap di sofa. Dokter Richat tidak tega melihatnya berbaring di sofa. Sehingga ia putuskan biar dia yang tidur di sofa saja.Melihat Arvi yang tertidur pulas ia enggan membangunkan istrinya. Lalu ia berinisiatif untuk tidur di bawah sofa menemani sang istri yang sudah terbawa ke alam mimpi.


Ia meraih bantal dan badcover membentangkan dilantai tepat di samping sofa tempat istrinya tidur. Ia lakukan dengan hati-hati takut Arvi akan terbangun.


Lalu dokter Richat pun ikut tertidur dibawah sofa beralaskan bedcover yang tebal. Walau terasa aneh ia hanya ingin melindungi istrinya takut jika ia jatuh ke lantai.


Dokter Richat tersenyum melihat istrinya yang begitu pulas. Ia tahu seharian ini istrinya sangat kelelahan mengikuti prosesi akad nikah hari ini.


"Kamu cantik kalau tidak marah-marah!" Gumamnya menatap Arvi yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Sayang hatimu hanya untuk Sakti bukan untukku. Kamu hebat Sakti mampu meluluhkan hatinya. Malam ini seharusnya menjadi malam paling bersejarah bagi setiap laki-laki yang menikah tapi tidak bagiku. Malam pertama yang kelabu hanya bisa meratapi diriku sendiri" Ucapnya lirih menyadari jika pernikahan ini hanya di atas kertas tidak lebih dari itu. Niat hati ingin menjaganya tapi ia bingung dengan perasaannya sendiri. ia terperangkap oleh kata-katanya sendiri.


__ADS_2