Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 4


__ADS_3

Akhir pekan


Aurora, Antonio dan Felix berencana untuk berjalan-jalan menggunakan tranportasi umum, sekarang mereka sudah berada di halte bus yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat tinggal mereka. setelah beberapa menit, akhirnya bus yang mereka tunggu sudah datang. Antonio begitu antusias.


"Papa itu rumah sakit ya...besar sekali" tanya Antonio lagi, setelah sebelumnya dia sudah menanyakan beberapa hal yang membuatnya penasaran, dan dengan sabar, Felix menjawab dan menjelaskannya.


"iya...itu rumah sakit terbesar di kota ini..." jelas Felix, kali ini Aurora ikut merasa penasaran dengan bangunan besar yang berada di seberang jalan itu.


"Rumah Sakit xxx" gumam Aurora membaca tulisan yang tertera di bagian tertinggi rumah sakit itu


ckiiitttttt


"akh" bis yang tiba-tiba berhenti membuat Aurora terkejut dan kepalanya sedikit terbentur kursi depannya.


"Ra...kau tidak apa-apa" tanya Felix cemas karena dia tidak sempat melindungi Aurora karena dia lebih dulu refleks mendekap Antonio.


"sshhh...a-aku tidak apa-apa" jawab Aurora lemah sambil memegangi dahinya yang terbentur.


"akh sshhh" namun Aurora kembali merasa kesakitan di daerah belakang kepalanya saat potongan memori terlintas di pikirannya. potongan- potongan yang terjadi di rumah sakit itu, Aurora yang berlari memasuki rumah sakit, hingga Aurora yang jatuh pingsan. tapi Aurora masih belum mengerti apa kaitan satu dan yang lain nya.


"kau yakin Ra...apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja" tanya Felix khawatir


"a-aku tidak apa-apa Felix...cuma...tiba-tiba ada sekilas memori muncul..." jawab Aurora sendu, "sudahlah...jangan khawatir...aku baik-baik saja..." lanjutnya meyakinkan


"kau yakin...lebih baik kita periksa dulu...setelah itu baru kita pergi jalan-jalan..." Felix menatap Antonio sejenak, seakan mengerti, bocah 5tahun itu mengangguk yakin.


"aku yakin...aku sudah tidak apa-apa...mungkin... cuma benjol aja nih" jawab Aurora bercanda sambil menunjuk dahi nya yang terbentur tadi.


"benarkah... sini Nio lihat" Aurora menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Antonio, tanpa di duga Antonio mencium dahi Aurora tetap di mana yang terbentur tadi, "sudah...itu tidak akan sakit lagi" ujarnya setelah menjauhkan bibirnya dari dahi Aurora.


"Astaga...bisa saja nih anak Papa" ujar Felix gemas melihat apa yang di lakukan Antonio.


"seperti yang di lakukan Mama saat Nio terjatuh..." jawabnya polos, membuat Aurora dan Felix tersenyum, Aurora langsung mengambil alih tubuh Antonio yang awalnya duduk di pangkuan Felix berpindah ke pangkuannya, sedangkan Felix mengusap kepala Antonio dengan sayang.


Skip


Aurora, Antonio dan Felix sudah sampai di sebuah taman bermain yang besar, Antonio begitu antusias, maklum saja, selama ini dia tidak pernah pergi ke tempat seperti, bukan karena tidak bisa, tapi sebenarnya Aurora yang belum siap mengajak Antonio ke kota.


"ayo Pa...lomba dengan ku" pekik Antonio antusias mengajak Felix bermain di salah satu stan permainan memukul tumpukan kaleng, setelah bermain banyak wahana.


"oke...siapa takut" ujar Felix menanggapi, setelah itu mereka mendapat 3 bola untuk masing-masing.


"kita lempar bersamaan" ajak Antonio, dan di angguki Felix, "1...2...3..."


traanngg traanngg


keduanya berhasil menjatuhkan tumpukan kaleng pertama, namun yang kedua, Felix kurang beruntung karena hanya menjatuhkan beberapa kaleng, tapi tidak untuk Antonio yang kembali berhasil7 membuat putra kecilnya itu berteriak senang. dan lemparan terakhir...


traanngg


Antonio berhasil menjatuhkan kembali tumpukan kaleng yang ketiga, tapi Felix justru meleset melempar bola nya, hingga tidak mengenai satu pun kaleng itu.


"asshhh Papa kalah" ujar Felix pura-pura sedih


"yey...Nio menang..." pekiknya senang, membuat Aurora yang menonton sejak tadi menggelengkan kepalanya tersenyum, karena dia tau jika Felix sengaja mengalah untuk menyenangkan Antonio.


Yah...itu hal kecil, tapi membuktikan bagaimana sayangnya Felix pada Antonio. walaupun tanpa mereka tau, jika Felix tidak mengalah sekalipun, Antonio tetap bisa menjatuhkan semuanya.


Semua orang di sekeliling yang melihat, ikut terkekeh melihat tingkah Anak dan Ayah itu, hingga pemilik stan permainan itu memberikan Antonio sebuah boneka singa besar. dengan gembira Antonio menerima nya, kemudian memberikannya pada Aurora.


"ini untuk Mama...hadiah dari Nio" ujar nya memberikan boneka itu pada Aurora

__ADS_1


"untuk Mama" tanya Aurora balik, kemudian Antonio mengangguk yakin, "terima kasih sayang..." ucapnya mengusap kepala Antonio sayang.


"umur berapa anak nya kak..." pertanyaan seorang perempuan yang sejak tadi berdiri di sekitar stan permainan itu membuat Aurora dan Antonio, bahkan Felix, beralih menatapnya.


"eoh...5tahun" jawab Aurora singkat


"wah...masih 5tahun...tapi sudah pintar seperti ini...pasti bangga ya kak" ucapnya kagum


"tentu saja...orang tua mana yang tidak bangga memiliki anak yang mengagumkan seperti putra ku ini..." bukan Aurora yang menjawab, tapi Felix yang begitu membanggakan putra yang dia rawat dari kecil hingga sekarang, meskipun bukan putra kandung nya.


"benar itu...kepintarannya pasti menurun dari kalian..." puji perempuan itu tulus, "kalian benar-benar keluarga bahagia...membuatku iri saja..." lanjutnya membuat Aurora tertegun mendengar kata keluarga bahagia.


"Papa aku lapar" belum Aurora menjawab, suara rengekan Antonio lebih dulu terdengar.


"ah iya...ayo cari makan ini sudah waktunya makan siang" ujar Felix


"kalau begitu...kami permisi dulu" pamit Aurora sopan pada perempuan tadi


"ah iya...silahkan" jawa perempuan itu kemudian memberi jalan untuk Aurora Antonio dan Felix lewat.


Setelah makan siang di salah satu restoran yang berada di dalam taman bermain, sekarang mereka berada di bagian bangunan berjajar yang terdapat banyak sekali wahana indoor, seperti Aquarium, Museum dan Fun Tech tempat berbagai macam permainan dengan teknologi canggih.


"ada penjual es krim...Nio mau..." tanya Aurora


"mau..." pekik Antonio senang


"Felix...apa kau juga mau..." tanya Aurora beralih ke Felix


"biar aku saja yang belikan... sekalian aku mau beli kopi..." tolak nya


"tidak...biar aku saja...sekalian aku belikan juga kopinya..." ujar Aurora memaksa


"baiklah... terserah kamu saja" Felix akhirnya pasrah mengiyakan


"Nio...Papa ke toilet sebentar...kamu tunggu disini... jangan kemana-mana..." ujarnya memperingatkan, bocah 5 tahun itu mengangguk, namun masih dengan posisi yang sama.


Setelah Felix pergi, rasa penasaran Antonio semakin besar pada sesuatu yang berada di salah satu bangunan, yaitu Fun Tech, segala macam teknologi canggih hingga permainan virtual. tanpa sadar, kaki nya melangkah ke arah bangunan itu hingga masuk ke dalam.


Matanya menatap berbinar melihat semua kecanggihan yang ada di sana, semakin dalam menyusuri satu persatu, hingga sampai pada sebuah sudut yang menampilkan banyak model drone, Nio membaca dan mengamati setiap hal yang ada disana. langkahnya terhenti saat di depannya terdapat beberapa orang sedang melihat seseorang menerbangkan drone.


"eoh bukankah... itu sama seperti Bee ku..." gumamnya sendiri. kemudian berjalan mendekati pria yang sedang menerbangkan drone itu. "bolehkah aku mencobanya" tanyanya membuat pria itu mengernyit bingung dan menghentikan drone nya


"memang nya kau bisa" tanya pria itu menunduk menatap Antonio.


"bisa... sepertinya cara kerja drone itu seperti Bee" jawabnya yakin


"Bee...apa itu" tanya pria itu


"sama seperti itu...tapi berbentuk lebah" penjelasan Antonio yang yakin membuat pria itu tersenyum.


"siapa nama mu" tanya pria itu


"Antonio" jawabnya singkat


"baiklah...paman akan pinjamkan pada mu..." ujarnya kemudian memberikan drone itu pada Antonio.


Tanpa pikir panjang, Antonio menerbangkan bahkan tanpa petunjuk atau arahan dari pria itu terlebih dulu, tentu saja itu membuat semua orang menatapnya kagum, begitupun dengan pemilik drone tersebut.


"wah kau pandai sekali...apa Bee mu juga seperti ini cara kerjanya...lalu dimana kau membelinya" tanya Pria itu antusias.


"tidak...Bee terhubung dengan gadget ku...dan aku menggunakan nya hanya untuk menjaga Mama kemana pun dia pergi..." penjelasan Antonio sekali lagi membuat pria itu kebingungan.

__ADS_1


"menjaga Mama mu... maksudnya"


"dia akan selalu terbang di dekat Mama...jika sesuatu terjadi pada Mama...aku bisa melihat nya lewat gadget ku...dan aku akan langsung menghubungi Papa... untuk membantu Mama..." jelas Antonio santai


"seperti CCTV..."


"mirip...tapi Bee terbang kemanapun Mama pergi jika berada di luar rumah" penjelasan Antonio semakin membuat pria itu antusias


"woah...dimana kau membelinya..."


"aku merakitnya sendiri... walaupun tidak sebagus ini... karena aku membuatnya dari barang bekas"


"apa...jangan bercanda... bagaimana...anak kecil seperti mu bisa membuat hal seperti itu" ujarnya terkejut tidak percaya, Antonio hanya mengangkat bahu acuh, kemudian mematikan remote drone yang berada di tangannya.


kemudian dengan santai berjalan menjauh, hingga akhirnya di menyadari sesuatu, tepat di depan seseorang yang sedang duduk di kursi tidak jauh dari tempat drone tadi


"eoh aku lupa...dimana Papa dan Mama" ujarnya menatap sekeliling.


"hey adik kecil...apa kau sendirian" tanya seseorang yang sedang duduk itu, yang ternyata mendengar ucapan bocah 5 tahun itu. tidak langsung menjawab, Antonio menatap orang itu yang ternyata seorang perempuan sedang duduk di kursi sambil menggendong anak kecil.


"seperti nya aku tersesat" jawab Antonio cemberut, namun membuat perempuan itu terkejut


"eoh...kau terpisah dari orang tua mu..." tanya perempuan itu khawatir, Antonio mengangguk lemah. " Astaga...apa kau tau nomor ponsel orang tua mu...kau bisa menggunakan ponsel ku untuk menghubungi mereka..." lanjutnya


"aku tau"


Disisi lain


Aurora kebingungan saat kursi yang dia hampiri kosong, tak Antonio ataupun Felix, tapi Aurora berpikir mungkin keduanya sedang ke suatu tempat atau toilet, jadi Aurora duduk menunggu disana mungkin Antonio dan Felix akan kembali. dengan memegang dua es krim di tangannya, Aurora tersenyum memikirkan bagaimana lucunya Antonio saat memakan es krim.


"lho Ra...dimana Nio" suara Felix tiba-tiba membuat Aurora terkejut


"kenapa kamu sendiri...dimana Nio" tanya Aurora balik, karena tidak mendengar pertanyaan Felix tadi.


"kok kamu malah balik tanya sih..." tanya Felix mengernyit bingung


"aku tidak tau...kan tadi sama kamu" ujar Aurora mulai panik


"tadi aku menyuruhnya menunggu disini...karena aku mau ke toilet sebentar" jelas Felix menatap ke sekeliling


"ta-tapi...aku datang...sudah tidak ada siapa-siapa Felix" pekik Aurora frustasi


"astaga...kemana anak itu..." ujar Felix tak kalah frustasi, kemudian memijit pelipisnya sebentar. "kita cari...mungkin dia ada di sekitar sini" lanjutnya


"iya ayo" kemudian Aurora dan Felix segera berlari mencari di sekeliling. namun setelah beberapa saat Antonio masih belum ketemu. membuat Aurora dan Felix memutuskan untuk berpencar.


Aurora pergi ke Aquarium, sedangkan Felix ke museum, setelah beberapa menit kemudian, Felix keluar lebih dulu, karena didalam museum lebih sedikit pengunjung nya dan suasana terang. sedangkan di Aquarium, padat pengunjung dan gelap, jadi Aurora membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mencari.


Saat Felix ingin menyusul Aurora, tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat mengambil ponselnya di saku jaket, namun Felix mengernyit bingung saat yang menghubunginya adalah nomor yang tidak di kenal, tapi tetap saja di jawab.


"halo"


"halo Papa...ini Nio"


"astaga Nio...kau dimana...Mama dan Papa khawatir"


"maafin Nio Pa...sekarang Nio ada di fun tech"


"oke...tunggu di situ...jangan kemana-mana"


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2