Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 37


__ADS_3

Beberapa Jam Kemudian


"Biar Papa saja yang turun tangan...Papa tidak terima kalau cucu dan menantu Papa di rendahkan seperti ini...", ujar Tuan Dion emosi setelah mendengar cerita dari Aprilio beberapa saat yang lalu.


"Tidak perlu Pa...aku yakin...mereka akan mendapatkan balasan...bukan dari kita...tapi dari ribuan orang...", jawab Aprilio santai.


"Maksud mu...", Tuan Dion menatap Aprilio heran, namun putra semata wayangnya itu hanya menyeringai. "...ah Papa tau...pasti akan ada salah satu dari sekian banyak orang yang di sana tadi... merekam semua kejadiannya...benar tidak...", lanjutnya.


"Benar...maka nya tadi aku masih bersikap baik pada mereka...kalau tidak...aku pasti akan membuat mereka menangis memohon-mohon maaf pada Aurora dan Antonio...", ujar Aprilio kejam.


"Tidak Lio...jangan seperti itu...di sana tadi ada Nio dan banyak anak kecil lainnya...aku tidak ingin kamu menyelesaikan nya dengan kekerasan...", sela Aurora cemas.


Mereka hanya bertiga saat ini, karena Aurora meminta Antonio istirahat setelah mengobati lukanya tadi.


"Bukan begitu maksud ku sayang... maksud ku itu kan aku bisa saja langsung memutus hubungan kerja sama dengan mereka...entah perusahaan Lian group ataupun dengan walikota...", jelas Aprilio, Aurora pun mengangguk mengerti.


"Sudahlah...tanpa kita turun tangan... mereka juga akan jatuh juga pada akhirnya... semuanya buah dari kesombongan dan kesewenang-wenangan yang mereka lakukan sendiri...", sambung Tuan Dion yang di angguki setuju oleh keduanya, "...Papa tidak percaya jika yang bersikap seperti itu hanya istri dan anaknya saja... kemungkinan besar suami dan adiknya yang walikota itu juga sama...hanya saja... mereka tau siapa yang bisa di tindas dan tidak... mereka tidak berani menyinggung keluarga-keluarga besar seperti keluarga kita...berarti... kemungkinan besar mereka bisa semena-mena pada orang yang status sosialnya di bawah keluarganya...iya kan...", lanjutnya.


"Benar...aku setuju dengan Papa... sepertinya...aku harus mencari titik lemah mereka...entah itu kecurangan atau ketidakadilan...orang seperti mereka pasti memiliki nya...", sambung Aprilio.


"Iya sih... apalagi kalau sampai ipar nya yang walikota juga sama...kasihan orang-orang biasa yang malah di jadikan tempat mencari pencitraan saja...", sambung Aurora.


"Sudah...kamu jangan terlalu memikirkannya...biar itu urusan aku dan Papa...", ujar Aprilio menenangkan.


"Sejujurnya sih...saat pemilihan walikota kemarin...Papa sendiri tidak begitu mengenalnya...Papa hanya melihat dari sisi keluarga nya yang memiliki kerjasama dengan perusahaan kita...", sahut Tuan Dion menjelaskan.


"Iya Pa...Lio juga begitu...lebih tepatnya Lio tidak mau terlalu ikut campur urusan politik... memikirkan bisnis setiap hari saja cukup memusingkan... apalagi kalau di tambah dengan urusan politik... bisa-bisa pecah kepala ku...", jelas Aprilio panjang lebar, Aurora dan Tuan Dion pun terkekeh mendengarnya.


"Tapi Lio...apa tidak apa-apa jika masalah ini sampai video nya muncul di sosial media...yang Papa khawatirkan bukan tentang kejadian nya...tapi tentang status kalian berdua...apa Aurora tidak masalah dengan hal itu...", jelas Tuan Dion perhatian.


"Tidak apa-apa Pa...entah sekarang atau nanti... semuanya juga akan kita ungkapkan...hanya menunggu waktu saja...iya kan...", jawab Aurora menenangkan, Aprilio pun berbinar bahagia, sedangkan Tuan Dion tersenyum mengangguk.


"Syukurlah kalau begitu...", ujar Tuan Dion menghela nafas lega.


"Kalau begitu...kita percepat saja konferensi pers nya besok...lalu pernikahannya lusa...", ujar Aprilio antusias.


"Jangan Lio... bukankah semuanya sudah hampir selesai... kalau kamu percepat... bukankah akan jadi berantakan nanti...", tolak Aurora.

__ADS_1


"Tidak akan...aku bisa bayar mereka dua kali lipat nanti...", jawabnya santai.


"Bukan masalah bayaran nya Lio...tapi tenaga mereka yang mengerjakannya... apa kamu tidak kasihan...Hm", ujar Aurora mencoba memberi pengertian.


"Benar apa kata Aurora Lio...jangan terburu-buru... lakukan sesuai rencana saja...", sambung Tuan Dion, Aprilio pun menghembuskan nafas pasrah.


"Baiklah "


Keesokan harinya


"Lio...kamu mau mengajakku kemana pagi-pagi begini... memangnya kamu tidak ke kantor...", tanya Aurora penasaran.


"Aku ke kantor nanti... sekarang aku ingin mengajak mu ke sesuatu tempat...",


Keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, tapi entah kemana karena Aprilio tidak memberitahu apapun pada Aurora, tentu saja hal itu membuat perempuan itu penasaran.


"Kemana", tanya Aurora semakin penasaran.


"Tentu saja untuk mempersiapkan pernikahan kita...", jawabnya tersenyum.


"Lho...bukannya kamu bilang...kamu akan mengurus semuanya...", tanya Aurora kebingungan.


"Apa itu "


"Nanti kalau sampai... kamu pasti tau...", Aurora pun mengangguk mengerti.


Beberapa menit kemudian


"Kita sudah sampai Tuan...", ujar supir Aprilio sesaat setelah mobil berhenti tepat di depan sebuah toko mewah dengan jendela dan pintu kaca.


"Butik", ujar Aurora saat membaca nama toko itu, lalu dengan cepat beralih menatap Aprilio. "...Jangan bilang kalau kita mau...


"Benar...kita akan fitting baju di sini...", jawaban Aprilio membuat Aurora berbinar bahagia.


Tidak menunggu lama lagi, Aprilio segera mengajak Aurora turun dari mobil dan buru-buru masuk ke dalam butik itu.


Butik yang terlihat kecil di depan itu, namun mampu membuat Aurora terkagum-kagum dengan banyaknya gaun putih menggantung berjajar menyambut mereka saat memasuki toko itu.

__ADS_1


Salah satu pegawai butik menyambut mereka dengan ramah, kemudian mengajak keduanya ke lantai dua tempat untuk fitting baju.


Sampai di lantai dua, mereka di sambut dengan seorang perempuan paruh baya, namun masih terlihat cantik dan anggun.


"oh Lio sudah datang...", sapa perempuan itu saat melihat Aprilio datang.


"Maafkan Lio Aunty...karena janjian pagi-pagi seperti ini... soal nya nanti Aprilio ada meeting dan pekerjaan yang harus Aprilio selesaikan secepat mungkin sebelum Aprilio libur...", jelas Aprilio memeluk perempuan itu.


"Tidak apa-apa...kamu tenang saja...Aunty justru antusias ingin bertemu dengan istri mu...", jawab perempuan itu tersenyum melirik Aurora.


"Oh iya...Ra...kenalkan ini Tante Viola Xue...beliau adalah teman mendiang Mama ku...dan Aunty...ini Aurora Moon... istri ku...", ujar Aprilio memperkenalkan keduanya bergantian.


"Halo Tante...saya Aurora...", ujar Aurora memperkenalkan diri lebih dulu dengan sopan dan mengulurkan tangannya.


Untuk sejenak perempuan bernama Viola itu tidak langsung membalas, bahkan matanya menelisik Aurora dari kaki hingga ujung rambut, namun detik berikutnya dia justru tersenyum dan langsung memeluk Aurora.


"Saya tau...saya suka sekali dengan mu...ini baru istri yang cocok untuk keponakan tampan ku...", ujarnya sambil memeluk Aurora erat dan menggoyangkan badannya.


Aurora yang sempat terkejut pun akhirnya hanya pasrah mengikuti apa yang di lakukan Viola dengan tersenyum, begitupun dengan Aprilio yang hanya tersenyum melihatnya.


"Kalau begitu...ayo kemari... lihatlah dulu gaun nya sebelum kamu mencobanya...", ajaknya menarik Aurora ke arah gaun yang berada terpasang di sebuah patung.


"I-ni gaun ku", tanya Aurora tak percaya.


"Benar... bagaimana menurutmu...", tanya Viola.


"Luar biasa...", hanya satu kata yang keluar dari bibir Aurora untuk menggambarkan nya dengan mata berbinar.


"Ra...apa yang kamu rasakan melihat gaun ini...", sambung Aprilio, Aurora menelisik lebih dalam gaun itu, kemudian memundurkan langkahnya hingga sedikit menjauh.


"Gaun ini terlihat familiar...", jawaban Aurora membuat Aprilio dan Viola tersenyum, perempuan pemilik butik itu beranjak mengambil sesuatu.


Hingga beberapa saat kemudian dia kembali dan menyerahkan sebuah gambar pada Aurora.


"I-ni...", Aurora menatap gambar itu dengan mata berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang dia lihat.


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2