Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 44.1


__ADS_3

"Masalah pribadi?", ulang Melinda mengernyit bingung.


"Y-a... masalah kita berdua", jawab Felix gugup, tak berani menatap Melinda, sedangkan disisi lain Melinda sempat tertegun terkejut, namun langsung berusaha setenang mungkin.


"...o-oh Memangnya kita punya masalah...", ujar Melinda tenang setelah beberapa saat, namun justru semakin terdengar gugup.


"ada...kita bahas nanti saja...setelah pulang kerja...", jawab Felix.


"pulang kerja...kenapa tidak jam makan siang saja...", tanya Melinda antusias.


"Tidak bisa...jam makan siang aku ada urusan...kita bicara pulang kerja sekalian makan malam saja... bagaimana...", jelas Felix lembut.


"urusan apa...sama siapa...aku perlu ikut tidak...", tanya Melinda beruntun.


"urusan pribadi ku...kamu tidak perlu ikut..", jawab Felix.


"kau ini bikin aku penasaran saja...", gerutunya, kemudian menghela nafas. "...ya sudahlah terserah kau saja...aku balik ke ruangan ku dulu...", lanjutnya beranjak pergi ke sana.


Skip


"ada urusan sama siapa sih... kenapa seperti di sembunyikan... trus kenapa aku tidak boleh ikut...", gerutu Melinda berulang-ulang sejak tadi.


Melinda tidak bisa fokus bekerja sejak kembali dari ruangan Felix tadi, penasaran, kesal juga berdebar. Entahlah, Melinda tidak bisa menjelaskan. perasaan nya bercampur aduk, penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Felix, hingga jantung nya berdebar. tapi juga kesal dan penasaran dengan urusan pribadi yang di katakan Felix, yang di rahasiakan seakan Melinda tidak boleh mengetahuinya.


toktok


ceklek


"Mel...aku pergi dulu ya...kau jangan lupa makan siang...bye"


ceklek


Melinda terpaku dengan Felix yang hanya berkata seperti itu lalu pergi dengan terburu-buru, dengan penasaran Melinda segera mengambil tas nya dan keluar dari ruangan nya.


"Aku hanya penasaran saja...jadi jangan sampai ketahuan kalau aku mengikutinya...", gumamnya seraya berjalan ke arah Lift.


Namun Melinda mengernyit heran saat lift yang di naiki Felix baru saja tertutup, namun menunjukkan lantai dasar, bukan parkiran.


"Eoh...dia tidak ke parkiran...apa dia pergi ke dekat-dekat sini saja...", gumam Melinda bingung, kemudian masuk ke lift lainnya.


Tepat saat keluar dari lift, Melinda berusaha mencari keberadaan Felix, hingga ke arah lobi, tentu saja hal itu menarik perhatian seseorang yang melihat Melinda seperti sedang mencari sesuatu pun bertanya.


"Selamat siang sekertaris Mel...ada yang bisa saya bantu...", tanya salah seorang resepsionis perempuan.


"Oh...Merry...apa kau melihat tuan Felix lewat sini...", tanya Melinda kemudian.

__ADS_1


"Iya...beliau mengatakan ada janji makan siang di kafe JUNGLE...apa ada sesuatu yang penting sekertaris Mel...atau ada yang bisa saya bantu...", tanya resepsionis berambut panjang itu sopan.


"Tidak... tidak apa-apa...dompet beliau tertinggal...biar saya saja yang mengantarkannya...", jawab Melinda beralasan, ya tentu saja itu bohong.


"Baiklah...apa anda tau lokasinya...", tanya resepsionis itu.


"kafe baru di ujung jalan itu kan... sebelum lampu merah... benar kan...", jelas Melinda.


"Benar...kalau begitu selamat makan siang Sekertaris Mel...", ujar resepsionis itu ramah.


"Terima kasih...aku pergi dulu...", pamit Melinda yang lalu di angguki sopan oleh Merry.


"Astaga...aku benar-benar seperti penguntit..."


"Kalau bukan karena penasaran...aku tidak akan melakukan ini..."


"atau kalau itu orang lain...aku tidak seperti ini..."


"dasar sih Felix...sejak pagi sudah membuat ku penasaran saja..."


"Aku jadi tidak bisa konsentrasi bekerja karena penasaran"


Sepanjang melangkah menyusuri jalan menuju kafe JUNGLE, Melinda tak henti-hentinya menggerutu, bahkan sepertinya dia tidak sadar jika beberapa orang yang berjalan di dekatnya, menatapnya aneh.


Deg


Disisi lain


"Papa Felix"


"Nio"


Baru saja Felix memasuki kafe, namun sudah di sambut antusias oleh Antonio yang berlari dari arah tempat bermain yang memang tersedia di sana. Bocah 5tahun itu langsung menuntun Felix ke arah meja tempatnya.


"Kau sudah datang"


"Maaf Ra...aku terlambat ya...", ujar Felix kemudian memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan Aurora.


"Tidak...aku yang sengaja datang lebih awal...supaya Nio bisa puas main-main dulu...", jawab Aurora menjelaskan.


"Baiklah...apa kalian sudah pesan sesuatu...",


"Belum...kan nunggu Papa datang...", jawab Nio lebih dulu.


"Iya...Nio bilang pesannya mau nunggu kau saja...", sambung Aurora.

__ADS_1


"Oke...kalau begitu Nio mau makan apa... chicken nugget... steak or spaghetti... maybe ice-cream...",


"Ice cream nya nanti kalau sudah selesai makan...", sela Aurora tegas.


"Iya Mi...Nio mengerti...Nio mau spaghetti saja...", jawab putra Aprilio itu, "... kalau begitu...apa Nio boleh main lagi...", tanyanya kemudian.


"Tentu...nanti kalau pesanannya sudah datang...Papa panggil Nio...", jawab Felix lembut.


"Terima kasih Pa..."


"Iya sama-sama jagoan..."


"Jadi...kau mau pesan apa Ra...", tanya Felix sambil memanggil waiters.


"Aku sama kan saja dengan Nio..."


"Kalau begitu Spaghetti nya 2...steak nya 1....lalu...


Waiters pergi setelah mencatat pesanan Felix, dan sekarang meninggalkan Aurora berdua dengan Felix.


"Jadi...apa kau mengajakku bertemu seperti ini...", tanya Aurora memulai percakapan.


"Apa Aprilio tau kalau kau sekarang bertemu dengan ku...", bukan menjawab, Felix justru memberikan pertanyaan lain.


"Tentu saja...aku kan harus meminta ijin padanya agar tidak terjadi kesalahpahaman...tapi... bukankah kau sudah bertanya pada Aprilio lebih dulu...", ujar Aurora sedikit kebingungan.


"Apa"


"Soalnya tadi Aprilio bilang kalau kau meminta ijin dulu padanya sebelum bertemu dengan ku...itu benarkan...", tanyanya curiga.


"I-iya...tentu saja...aku harus ijin pada suami mu dulu..."


"Syukurlah kalau begitu...lalu...apa yang ingin kau bicarakan...", ujar Aurora lega, namun Felix tidak langsung menjawab, pria itu terdiam untuk beberapa saat.


"Sebenarnya...aku hanya ingin memastikan sesuatu...", ujar Felix akhirnya.


"Memastikan sesuatu...", ulang Aurora kebingungan.


"Ya...aku ingin memastikan perasaan ku pada mu..."


Deg


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan**

__ADS_1


__ADS_2