Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 27


__ADS_3

"Lio...apa kamu yakin dengan apa yang kamu janjikan pada warga desa tadi...", tanya Aurora serius, membuat Aprilio beralih menatapnya.


"ssttt...kita bahas nanti saja di rumah ya...", jawab Aprilio sedikit berbisik, tersenyum sejenak pada Aurora, kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada Antonio yang tengah tertidur di pangkuannya, dengan tangannya yang mengusap kepala putranya itu dengan lembut.


Kini ketiga nya tengah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang, begitupun dengan Felix dan Melinda di mobil lainnya.


Akhirnya Aurora bisa menanyakan apa yang ada di pikirannya sejak Aprilio mengatakan akan membangun dan membantu warga desa, saat itu Aurora hanya bisa diam saja tak berani menyangkal ataupun protes, karena takut itu akan menjatuhkan harga diri Aprilio di depan banyak orang.


Namun saat ini, Aprilio tidak ingin membahasnya, Aurora sedikit kecewa, tapi juga bahagia melihat bagaimana sayang nya Aprilio pada Antonio, terlihat dari apa yang pria itu lakukan saat ini.


Disisi lain


"Aku tidak menyangka jika Aprilio akan melakukan hal seperti ini...", ujar Felix tiba-tiba.


"Sebenarnya aku juga tidak menyangka...", jawab Melinda, "...tapi jika aku jadi Aprilio...aku pasti juga akan melakukan hal yang sama...", lanjutnya serius.


"maksudnya jika punya banyak uang...", tanya Felix.


"Ya...namun kebaikan yang kau dan ibu mu lakukan untuk Aurora dan Nio...tidak bisa di ganti dengan jumlah berapapun...jadi yang di lakukan Aprilio untuk membalas itu...menurutku sangat pantas...", jelas Melinda serius.


"Emm...kalau kau yang berada di posisi Aprilio...apa kau juga akan melakukan hal yang sama...", tanya Felix hati-hati.


"Tentu...walaupun jika situasinya terbalik... sekalipun aku seorang perempuan...aku akan melakukan apapun untuk orang yang aku cintai...", jawab Melinda yakin.


Untuk sesaat mereka saling menatap, Melinda tersenyum menatap Felix, namun pria itu tak mengatakan apapun lagi, dan itu membuat keadaan menjadi hening.


Skip


Kamar Antonio


Aurora membukakan pintu dan memasuki kamar Nio lebih dulu, kemudian menyiapkan tempat tidur agar Aprilio bisa meletakkan Antonio masih tertidur.


Dengan perlahan Aprilio meletakkan putranya di tempat tidur, kemudian melepaskan sepatu yang di kenakan Antonio dengan perlahan agar tidak membangunkan nya.

__ADS_1


"Biarkan dia tidur...nanti bangunkan saat makan malam...", ujar Aprilio sedikit berbisik.


"Iya...aku mengerti...", jawab Aurora, keduanya bergantian memberi kecupan di kening Antonio.


"Baiklah...ayo kita keluar...kita bersihkan badan kita dulu...", Aprilio berkata seperti mu dengan menarik tangan Aurora dan mengajaknya keluar dari kamar Antonio.


Seperti terhipnotis, Aurora hanya mengangguk dan mengikuti setiap langkah Aprilio, bahkan hingga keduanya sampai di depan kamar Aprilio.


"eh tunggu...aku kan bisa bersih-bersih di kamar Nio...kenapa aku malah mengikuti mu...", protes Aurora tersadar dengan apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa...disini saja...", jawab Aprilio menarik Aurora cepat dan membawanya masuk, kemudian menyudutkannya di belakang pintu, dan menguncinya dengan kedua tangannya di sisi kanan kiri Aurora.


"A-apa yang kamu lakukan...", tanya Aurora gugup dengan wajah yang sudah merona, mau bagaimana pun, Aurora masih belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini.


"Kamu kan ingin tau apa yang aku katakan di desa tadi...benar atau tidak...", Aurora mengangguk sekali menjawabnya. "...kalau aku bilang...aku melakukannya untuk kamu bagaimana?...", lanjutnya.


"Untukku...", tanya Aurora bingung.


"Ya... untukmu dan Nio...aku tau...kalian pasti sudah menganggap rumah itu seperti rumah kalian sendiri... apalagi...kalian tinggal di sana selama 6tahun...melalui banyak hal disana...tapi aku juga bersyukur...kalian tinggal bersama orang-orang yang baik...yang menjaga dan merawat kalian seperti keluarga mereka sendiri...dan terima kasih karena Tuhan membawa mu dan Nio kembali pada ku saat ini...", ucap Aprilio tulus.


"Jadi...Hadiah apa yang akan kau berikan pada ku...", tanyanya dengan menyeringai.


"Hadiah...", tanya Aurora polos, Aprilio mengangguk mengiyakan, "...a-aku tidak punya apa-apa untuk diberikan pada ku...em...em... bagaimana di ganti...jangan barang...tapi...kamu bisa menyuruhku apa saja...aku pasti akan melakukannya...", seperti dapat jackpot, Aprilio menyeringai lebar.


"Apa saja...", tanya Aprilio yang di angguki Aurora yakin. "...janji kamu tidak akan menolaknya...", lanjutnya.


"Iya...kamu mau apa...makan minum...atau kamu mau aku membersihkan kamar mu...atau kamu sesuatu lain... seperti-", Aurora menghentikan ucapannya saat telunjuk Aprilio menyentuh bibirnya.


"Aku mau...kamu membantuku mandi...", bisik Aprilio di telinga Aurora sebentar, lalu menarik lagi wajahnya.


"oh...membantu mu mandi...", Aurora yang awalnya mengangguk mengerti, detik berikutnya membulatkan matanya terkejut menatap Aprilio. "...apa... membantu mu mandi...", ulangnya lagi.


"Iya... kenapa...kamu menolak dan ingkar janji...itu tidak bisa...",

__ADS_1


"Ta-pi Lio...ka-mu kan bukan anak kecil...kenapa minta bantuan untuk mandi...", ujar Aurora mencari alasan.


"Tidak apa-apa...aku hanya lelah saja...", jawab Aprilio santai.


"Ti-tidak...aku tidak bisa...", tolak Aurora sedikit mendorong tubuh Aprilio.


"Baiklah kalau kamu tidak mau...", Aprilio menegakkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. "...aku akan minta bantuan maid saja..." , lanjutnya, lagi-lagi membuat Aurora membulatkan matanya.


"Tidak boleh", cegah Aurora cepat, kemudian menatap tajam Aprilio dengan berkacak pinggang,dan perlahan mendekati Aprilio, "...jadi...selama ini...kalau kamu lelah...kamu minta maid untuk mandiin kamu...Hm", ujarnya dengan penuh penekanan, membuat Aprilio refleks memundurkan langkahnya selangkah.


"Tidak", jawab Aprilio cepat.


"Tidak mungkin...aku tidak percaya...kamu kan kaya raya dan tampan...banyak perempuan di luar sana yang antri untuk mendekati mu... mereka pasti akan dengan senang hati menerima kalau kamu meminta bantuan mereka...sekalipun tanpa di bayar...", ujar Aurora pura-pura marah, karena dia tahu kalau Aprilio tidak akan mengijinkan siapapun menyentuhnya dengan mudah.


"Tidak ada seperti itu...", tolak Aprilio sadar jika dia terjebak dalam ucapannya sendiri.


"Pergi sana...minta bantuan mereka...", Aurora berpaling kemudian berjalan melewati Aprilio menuju sofa. "... mereka tidak akan menolak mu seperti aku...sana pergi...tunggu apalagi...", lanjutnya menyilang kan tangan dan kakinya setelah duduk di sofa.


"Tidak-tidak sayang...aku hanya bercanda tadi...", ujar Aprilio buru-buru mengikuti Aurora dan duduk di sampingnya. "...kamu kan tau kalau aku tidak suka orang lain menyentuh ku...", lanjutnya membela diri.


"Ya...mungkin saja kamu berubah setelah 6tahun ini...aku kan tidak tau...", jawab Aurora mengangkat bahunya acuh, dengan diam-diam tersenyum menahan tawa.


"Aku tidak berubah...aku masih Aprilio yang dulu...dan aku masih Aprilio yang mencintaimu...aku tidak butuh perempuan lain...kalau kau tidak percaya...aku akan membuktikannya...", ujar Aprilio yakin dengan menatap Aurora.


"Bagaimana kau akan membuktikannya...", tanya Aurora penasaran, bahkan langsung menatap Aprilio.


"Caranya..."


akh


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2