
"Bagaimana keadaan Lio..."
Nicholas tak langsung menjawab pertanyaan Tuan Dion, tapi justru tertunduk.
"Nicholas," panggil Tuan Dion tegas.
"Dokter masih menangani nya Paman...," jawab Nicholas akhirnya.
"Sekarang cerita kan pada saya apa yang terjadi...", ujar Tuan Dion membuat Nicholas mau tidak mau mengangkat kembali kepalanya, untuk menatap Tuan Dion.
"Kami ingin menyelamatkan-
"Saya sudah tau masalah itu...yang saya tidak mengerti...kenapa kalian bisa ceroboh datang kesana tanpa ada persiapan...", geram Tuan Dion memotong ucapan Nicholas.
"Tidak Paman... justru karena Lio sudah tau siapa dalang di balik penculikan ini...makanya dia meminta saya untuk mempersiapkan beberapa orang dengan obat bius..."
"Obat Bius"
"Iya... karena kalau melawan... takutnya akan melukai Antonio.... bahkan tadi sempat duel dengan Erick...tapi-
"Duel... maksud mu...1 lawan 1...", potong Tuan Dion lagi, dan Nicholas mengangguk perlahan.
"Benar Paman...dan Lio menang...tapi ternyata hal itu membuat Kelvin tidak terima...dan mengancam Lio dengan menodongkan pistol ke kepala Antonio...", penjelasan Nicholas membuat Tuan Dion terkejut, bahkan Aurora dan juga Laura.
"Jadi... untuk menyelamatkan Putranya...Lio merebut pistol itu dan tertembak begitu...lalu siapa Kelvin itu...", Tanya Tuan Dion beruntun.
"Bukan Paman...saat itu aku berhasil mengambil alih Antonio dan memutarkan arah pistol...tapi Aprilio tertembak saat saat kita berhasil keluar...dan Kelvin berusaha mengejar kami dengan melepaskan tembakkan ke sembarang arah....tapi justru tembakkan itu mengarah ke Aurora...jadi Lio berlari dan menghadangnya...", jelas Nicholas panjang lebar, Tuan Dion yang mendengar itu pun memijit pelipisnya sejenak.
"Apa mungkin yang bernama Kelvin itu memiliki dendam pada Lio...", tanya Tuan Dion kemudian.
"Kelvin itu... Ternyata anak dari bandar narkoba yang pernah Lio laporkan...dia dendam pada Lio karena kedua orang tuanya meninggal...", jelas Nicholas.
"Bandar Narkoba...", Nicholas mengangguk mengiyakan, membuat Tuan Dion berpikir sejenak. "...masalah pemilik pabrik makanan...10 tahun yang lalu...", tebak Tuan Dion dan Nicholas pun mengangguk lagi.
"Astaga...", tubuh Tuan Dion sedikit limbung, untungnya ada asisten yang langsung menahan tubuh Tuan Dion. bahkan Nicholas, Aurora dan Laura pun terkejut.
"Tuan...anda tidak apa-apa...",
"Saya tidak apa-apa", jawabnya kembali berdiri sendiri. "...lalu...katamu tadi...yang berduel dengan Lio adalah Erick...apa maksud nya Erick yang kalian curigai...menjadi dalang di balik kecelakaan kalian 6tahun lalu...", tanyanya lagi.
"Benar Paman...", Tuan Dion kembali memijat pelipisnya dan memegangi dadanya.
__ADS_1
"Apa dokter belum keluar sama sekali sejak tadi...atau mungkin langsung prosedur operasi...", tanyanya kemudian.
"Saya sudah meminta dokter melakukan semua yang di perlukan...dan maaf Paman...saya menyetujui prosedur operasi tanpa menunggu Paman... karena aku pikir Lio harus cepat-cepat di tangani...", jelas Nicholas panjang lebar.
"Tidak apa-apa...tapi apa yang di katakan dokter tadi...", tanyanya lagi.
"emm...I-tu Paman... Dokter sempat bilang kalau peluru itu hampir mengenai organ paru-paru nya...jadi... kemungkinan akan ada resiko pasca operasi...", mendengar penjelasan tentang itu membuat Tuan Dion kembali limbung dan tak sadarkan diri.
"Tuan/Paman...
1 jam kemudian
"Nio sudah kenyang...atau mau tambah lagi...", tanya Melinda yang melihat Antonio selesai menghabiskan makanan di piring nya.
"Apa...Nio boleh pesan kentang goreng...", jawab bocah 5tahun itu.
Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter tadi, dan di nyatakan jika Antonio hanya syok tak ada luka luar ataupun dalam, sekarang ketiga nya sudah berada di salah satu tempat makanan cepat saji kesukaan Antonio.
"Tentu saja sayang...apa mau es krim juga...", Melinda mengusap kepala Antonio dengan lembut dan sayang, kemudian tersenyum saat putra sahabat nya itu mengangguk antusias. "Baiklah...biar Tante pesankan...", lanjutnya ingin berdiri, namun tangannya lebih dulu di cekal Felix, membuat nya kembali duduk.
"Biar aku saja...kau lanjutkan makan...", ujar Felix pergi, tanpa menunggu jawaban Melinda.
"o-oh oke...", jawab Melinda gugup setelah mendapat perhatian kecil dari Felix, kemudian menunduk saat sadar pipinya memerah.
"oh iya sayang...ada apa...", jawabnya buru-buru.
"Apa tadi terjadi sesuatu pada Mama...", pertanyaan bocah 5tahun itu, membuat Melinda mengernyit heran.
"Kenapa Antonio bertanya seperti itu...", tanya Melinda bingung.
"Tadi... Antonio sempat lihat kalau kening Mama lebam...tapi Antonio tidak berani bertanya langsung pada Mama...", jelas Antonio sendu. "...apa itu karena Nio...", lanjutnya.
"Tidak sayang...bukan seperti itu...", elak Melinda buru-buru. "tadi-
"Ada apa...", belum Melinda kembali menjawab, tapi Felix sudah datang dengan membawa kentang dan es krim yang di minta Antonio tadi.
"Nio bertanya...Apa terjadi sesuatu pada Aurora... karena tadi dia melihat kening Aurora lebam...", jawab Melinda lebih dulu.
"oh itu...", Felix mengangguk mengerti. "...iya...Mama mu tadi hampir-
"Felix", cegah Melinda sambil melotot marah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa...aku harus memberitahu nya... karena aku butuh bantuan nya untuk mencaritahu masalah ini...", jawab Felix akhirnya, membuat Melinda menghela nafas pasrah.
"Di depan kafe tadi...ada sebuah mobil yang hampir menabrak Aurora... untungnya Felix datang tepat waktu dan menyelamatkan nya...tapi karena itu juga Aurora akhirnya mengingat segalanya...", Melinda menjelaskan lebih dulu.
"Benar...tapi aku curiga dengan mobil itu... memang Aurora ceroboh karena menyebrang tanpa melihat jalanan...tapi biasanya...orang yang mengemudikan mobil setelah kejadian seperti itu...akan turun dan menanyakan keadaan korban...namun mobil itu tidak... padahal dia sempat berhenti...tapi kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi...", penjelasan Felix membuat Melinda mengernyit karena dia tidak memperhatikan sedetail itu saat kejadian tadi.
"Jadi...Papa butuh bantuan ku... untuk mencaritahu siapa pengemudi mobil itu...", tanya Antonio yang di angguki Felix.
"Tapi tidak perlu buru-buru...lebih baik Nio istirahat dulu...kita bisa melakukannya besok...", jawab Felix perhatian, membuat Melinda diam-diam tersenyum melihat bagaimana sayang nya Felix pada Antonio.
"Benar sayang...hari ini Nio istirahat dulu...biar masalah ini kita caritahu besok...kita juga masih harus menunggu kabar keadaan Pap- ah Paman Aprilio kan...", jelas Melinda lembut mengusap kepala Antonio.
"Iya...Nio mengerti...", jawabnya mengangguk, membuat kedua orang dewasa di samping nya tersenyum lega.
Sementara di sisi lain
Sudah 1jam lebih Aprilio di dalam, tapi operasi belum juga selesai, sedangkan Tuan Dion yang pingsan tadi, sudah mendapatkan penanganan dari dokter, bahkan sudah siuman beberapa menit yang lalu.
Nicholas juga pamit pergi setelah melihat Tuan Dion sadar, karena mendapatkan panggilan dari kantor polisi yang memerlukan keterangan dari salah satu saksi di tempat kejadian, jadi tinggallah Aurora dan Laura yang berada di depan UGD.
"Permisi", suara seseorang membuat Aurora dan Laura refleks mengalihkan perhatian mereka.
"Iya...ada apa... bukankah Anda asisten Paman Dion tadi...", tanya Laura lebih dulu.
"Benar...maaf...Tuan Dion ingin berbicara dengan Nona Aurora...", jawabnya membuat Aurora dan Laura saling pandang sejenak.
"Ada apa ya...", justru bukan Aurora yang bertanya, namun Laura saat melihat sahabatnya itu tidak bisa berkata-kata.
"Maaf...saya juga tidak tau...", keduanya menatap sejenak pria paruh baya di depannya itu.
"Kak...aku titip ya...kalau ada apa-apa...cepat kabari aku...", ujarnya berdiri.
"Kau yakin Ra...", Aurora mengangguk yakin dengan pertanyaan Laura. "... baiklah...kau tenang saja...aku akan tetap disini...", lanjutnya pasrah.
"Tolong antar saya...", ujar Aurora beralih pada asisten Tuan Dion.
"Mari silahkan ikuti saya...", asisten paruh baya itu berjalan lebih dulu, dan kemudian di ikuti Aurora. Laura menatap sendu punggung Aurora hingga menghilang di belokan lorong.
**Bersambung
Anak Genius CEO tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**