
1jam kemudian
Aurora terbangun dari tidurnya, dan langsung mendudukkan tubuhnya saat teringat Aprilio.
"eh Ra...kau mau kemana...", tanya Laura yang ternyata ada di sana.
"lho kak...kenapa kau ada disini...lalu bagaimana Aprilio...apa sudah selesai operasi nya...", tanyanya beruntun.
"Belum Ra...di sana ada Felix...aku memintanya menunggu di sana sebentar...", jawab Laura.
"Kenapa Felix kemari...trus Antonio bersama siapa...", tanya Aurora lagi.
"Nio bersama Melinda... sebenarnya Felix ingin bertemu Nicholas...tapi dia mampir kemari untuk membawakan kita makanan... karena dia yakin kalau kita belum makan sejak tadi... Nicholas juga sedang sibuk mengurus masalah ini...jadi dia sekalian meminta tolong pada Felix...", Laura menjelaskan panjang lebar.
"Operasi nya lama sekali ya Kak...", gumam Aurora sendu.
"Tenang saja... sebentar lagi pasti selesai... lebih baik kita makan dulu sebelum kembali kesana...", ujar Laura memberi pengertian, Aurora pun mengangguk dan menerima kotak makanan yang di sodorkan Laura.
Disisi lain
"Perempuan gila", umpat Nicholas marah setelah berhasil meretas CCTV dan menemukan siapa pengemudi mobil yang menabrak Aurora.
"Aku tidak akan membiarkan kau seenaknya berkeliaran...dan aku akan pastikan kau tidak akan bisa keluar dari penjara...berapa pun orang tua mu mengeluarkan uang...", Nicholas segera mengambil jas dan ponselnya, kemudian beranjak pergi.
Beberapa menit kemudian, Nicholas sudah sampai di sebuah rumah mewah, memasuki nya dengan santai setelah di persilahkan oleh maid, dan di arahkan ke sebuah ruang tamu yang terlihat cukup luas.
Nicholas menatap sekeliling, lalu tersenyum menyeringai saat matanya melihat sebuah foto dalam bingkai besar yang menempel di salah satu dinding, di dalamnya ada sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya dalam keadaan duduk, dan di belakangnya ada seorang gadis memeluk keduanya.
"oh Tuan Nicholas...ada masalah apa yang membawa mu kemari...", ujar seseorang membuat Nicholas mengalihkan perhatian nya, ternyata adalah Tuan Chen.
"Bukan masalah serius...ada yang ingin saya tanyakan saja...", jawab Nicholas santai.
"oh kalau begitu...silahkan duduk...", ujar pria paruh baya itu mempersilahkan, Nicholas pun berjalan ke arah sofa dan memilih duduk berseberangan dengan Tuan Chen.
"Sepertinya...anda sedang sendirian di rumah Tuan Chen...", ujar Nicholas menyilang kan kakinya.
"Oh Apa"
"Saya dengar...putri anda tidak jadi di tahan... lalu kemana dia...", lanjut Nicholas santai
"ah...putri saya ada di kamar nya...saya melarang nya keluar...", jelas Tuan Chen gugup, Nicholas mengangguk seolah mempercayainya.
__ADS_1
"Begitu ya... sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu pada nya...apa bisa saya bertemu dengan nya...", tanya Nicholas lagi.
"se-sepertinya tidak bisa... emosinya kurang stabil saat ini...saya takutnya nanti dia akan histeris...", elaknya berbohong.
"Baiklah kalau begitu...saya permisi...", Nicholas berdiri dari duduknya.
"Iya iya... silahkan...mari saya antar...", ujar Tuan Chen terkesan ingin Nicholas buru-buru pergi.
Namun saat di depan pintu, Nicholas menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Tuan Chen...saya ingin mengingatkan...sekuat atau sebanyak apapun anda berusaha...lawan anda saat ini adalah Aprilio Victory...ingat itu...", setelah mengucapkan itu, Nicholas beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Tuan Chen.
Rumah Sakit
Aurora dan Laura selesai makan, kini mereka menuju ke UGD kembali, terlihat di sana masih ada Felix yang menunggu.
"Felix...", panggil Aurora
"Oh kalian sudah selesai... bagaimana perasaan mu sekarang...", tanya Felix menghampiri Aurora.
"Aku tidak apa-apa...lalu bagaimana keadaan Nio...", tanya Aurora duduk di kursi tunggu.
"Kata dokter tadi Nio tidak apa-apa...hanya syok... tidak ada luka luar ataupun dalam...jadi kau tenang saja...", jelas Felix membuat Aurora lega.
"Sudah Ra...tadi dia makan Fried chicken... kentang goreng...bahkan es krim... sekarang dia sudah tidur...aku meminta tolong Melinda menjaganya...", jelas Felix lagi.
"Bagus kalau begitu...kau sendiri mau kemana...", tanya Aurora lagi.
"Aku ingin bertemu Nicholas...ada hal penting yang harus kami lakukan...", Aurora menatap Felix dengan penuh tanya.
"Masalah apa lagi... bukankah Nicholas tadi sudah mengurus masalah ini ke kantor polisi...", ujar Aurora kebingungan.
"Bukan masalah ini...tapi masalah yang lain...", ucapan Felix kali ini membuat Aurora menatapnya curiga.
"Masalah apa... katakan padaku...jangan berbohong...", tuntut Aurora, membuat Felix menghela nafas pasrah.
"Sebenarnya...aku meminta Nicholas untuk menyelidiki mobil yang hampir menabrak mu tadi...", akhirnya Felix mengatakan yang sebenarnya.
"Oh... bukankah itu hanya kecelakaan biasa saja...", ujar Aurora heran.
"Menurut ku tidak... karena mobil itu terlihat mencurigakan... seharusnya dia turun dan melihat keadaan mu...namun nyata dia hanya berhenti...tapi tidak turun dari mobilnya...", penjelasan Felix membuat Aurora dan Laura membulatkan matanya terkejut.
__ADS_1
"Tapi mungkin saja kan kalau orang itu sedang buru-buru...", ujar Aurora berpikir positif.
"Walaupun begitu...setidaknya turun sebentar saja apa tidak bisa... kalau pun tidak sengaja...dia kan bisa saja menabrak mu kalau aku tidak datang tepat waktu tadi...", jelas Felix geram.
"Tapi aku kan juga salah... karena menyebrang sembarangan..."
"Tidak Ra... menurut ku Felix benar... setidaknya kita harus menyelidikinya dulu...entah orang itu sengaja ataupun tidak...kita harus tau... apalagi saat situasi Aprilio seperti ini...pasti banyak orang yang memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan nya... ataupun melukai orang-orang sekitarnya...", penjelasan Laura kali ini membuat Aurora mengerti.
"Baiklah...aku mengerti"
Skip
Kini Aurora hanya bersama Laura, Felix sudah pergi sejak tadi. Aurora terus saja gelisah, pasalnya ini sudah hampir 3jam Aprilio di dalam, namun dokter tak kunjung keluar.
"Tuhan...aku mohon...jangan pisahkan kami lagi...setidaknya beri kami waktu untuk bahagia bersama...", gumam Aurora memejamkan mata dan menyatukan kedua telapak tangannya.
Laura yang di samping nya pun hanya bisa ikut merasakan kesedihan sahabat nya itu, Laura tidak tega melihat jika Aurora harus menjalani kehidupan yang sulit lagi.
cklek
Pintu ruangan Operasi terbuka dan menampilkan seorang pria berpakaian hijau dengan masker.
"Dokter... bagaimana keadaan Aprilio...", tanya Aurora buru-buru menghampiri dokter.
"Tuan Aprilio sudah melewati masa kritis nya... operasi pengangkatan peluru nya juga berhasil... tapi-
"Tapi kenapa dokter", potong Aurora.
"Tuan Aprilio mengalami koma...", ucapan Dokter membuat Aurora dan Laura terkejut.
"Apa...lalu bagaimana Dok...", tanya Aurora mulai panik, Laura pun menahan tangan sahabat itu dan mengusap punggung nya.
"Untuk saat ini...kita hanya bisa menunggu...jika Tuan Aprilio mempunyai keinginan untuk sadar...maka kemungkinan dia akan sadar secepatnya...tapi jika sebaliknya... mungkin akan membutuhkan waktu yang lama...", penjelasan kali ini membuat Aurora tak dapat membendung air matanya lagi.
Laura pun dengan sigap memeluk sahabatnya itu. Dokter pun juga berpamitan untuk pergi setelah menjelaskan dan mengurus untuk pemindahan Aprilio. Beberapa saat keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing, dengan Aurora yang menangis begitu pilu, hingga suara seseorang membuat keduanya refleks mengalihkan pandangannya.
"Ada apa...Kenapa kalian menangis..."
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**