Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 18.2


__ADS_3

Aurora perlahan membuka pintu sebuah ruangan rawat inap, setelah itu terlihatlah sosok berwibawa yang tengah duduk bersandar di atas bangkar, pandangan nya ke jendela kaca yang berada di sisi kanannya.


Aurora kembali menutup pintu dengan perlahan, karena tidak ada pergerakan bahkan perkataan apapun, jadi Aurora memberanikan diri untuk berjalan hingga di sisi bangkar.


"Aprilio adalah putra saya satu-satunya...", ujar Tuan Dion tak memalingkan sedikitpun pandangan nya dari jendela, "....saya tau kalau Antonio adalah putra Aprilio...dan cucu saya...penerus keluarga Victory...", lanjutnya, Aurora tak mengatakan apapun.


"Jadi...Nona Moon seharusnya tau...dimana sebaiknya Antonio tinggal dan bagaimana masa depannya...", ujar Tuan Dion lagi, kemudian terdiam hingga suasana menjadi hening karena Aurora juga hanya diam saja.


(Aku tau ini akan terjadi...tapi aku sudah berjuang selama 6tahun membesarkan Antonio...aku tidak rela mereka mengambil nya... walaupun mereka mengganti nya dengan apapun...)


"Saya tau...Tuan pasti sudah mencari informasi tentang saya...saya hanya anak yatim piatu...saya juga di usir dari rumah saya sendiri...bahkan saya harus merelakan harta warisan orang tua saya di ambil...tapi walau begitu Tuan...saya tidak akan menyerahkan putra saya pada siapapun...saya ibunya...saya yang melahirkannya...saya yang merawat dan mendidiknya selama ini...jadi besok ataupun seterusnya...saya tidak akan melepaskan nya...", jelas Aurora yakin, setelah diam mendengar penjelasan Aurora, Tuan Dion beralih menatap Aurora.


"Bukankah...6tahun lalu...itu perjanjian yang sudah di sepakati...", ujarnya membuat Aurora terdiam. "...bahkan Aprilio sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk pengobatan Tuan Moon sesuai perjanjian...dan anda harus memberinya seorang anak...apa anda lupa itu...", lanjutnya, Aurora terdiam berpikir.


"Tapi perjanjian itu sudah lama berakhir... karena tidak ada perjanjian baru setelah saya positif hamil saat itu...dan Aprilio juga tak kunjung kembali...jadi tidak ada perjanjian lagi...", tolak Aurora.


"Jadi...dalam perjanjian itu...hanya anda yang untung mendapatkan uang... sedangkan Aprilio tidak mendapatkan anak...", telak Tuan Dion, membuat Aurora sekarang benar-benar tidak bisa menjawab lagi, karena Aurora tau berapa banyak uang yang di keluarkan Aprilio saat itu.


"Kenapa-


toktok


ucapan Tuan Dion terhenti saat seseorang mengetuk pintu dari luar, kemudian tidak lama Asisten Tuan Dion masuk.


"Maaf menganggu Tuan...", ujarnya sopan.


"Ada apa...apa operasi anak saya sudah selesai...", tanya Tuan Dion.


"Belum Tuan...tapi katanya...Dokter membutuhkan donor darah secepatnya untuk Tuan Muda...", lanjutnya, membuat Aurora dan Tuan Dion terkejut.


"Kalau begitu...suruh dokter mengambil darah ku...cepat...", perintah Tuan Dion tegas.


"Tidak bisa Tuan...tubuh anda sedang tidak sehat...", tolak Asisten itu.


"Lalu bagaimana...apa rumah sakit ini tidak ada stok...",


"Dokter mengatakan jika stok darah golongan AB di rumah sakit ini sedang habis... mereka juga sudah menghubungi PMI...namun itu membutuhkan waktu...", jelas asisten itu panjang lebar.


"Kalau begitu cari cara lain...kalau perlu umumkan ke seluruh dunia...jika putra sedang membutuhkan donor darah...dan saya akan memberikan imbalan besar...", perintah Tuan Dion tegas.

__ADS_1


"Baik Tuan... saya-


"Tunggu...", sela Aurora memotong ucapan asisten Tuan Dion, membuat keduanya beralih menatapnya. "... golongan darah saya O...apa bisa...", lanjutnya.


"Golongan darah mu O...", Aurora mengangguk menjawab pertanyaan Tuan Dion. "... sepertinya bisa...cepat bawa Nona Moon menemui dokter...", lanjutnya antusias, sang asisten pun mengangguk mengerti.


"Mari iku saya Nona...", asisten Tuan Dion mempersilahkan Aurora untuk keluar lebih dulu setelah membuka pintu.


"Tunggu dulu...", cegah Tuan Dion sebelum keduanya keluar dari ruangan itu, kemudian berbalik kembali menatap nya. "... Terima Kasih...", meskipun terkesan kaku, namun Aurora bisa melihat ketulusan dari mata Tuan Dion saat mengucapkan nya.


Aurora tersenyum menanggapi nya, kemudian membungkuk sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan melangkah keluar.


Disisi lain


"Baiklah...Tuan Nicholas... terima kasih atas kerja samanya...", ujar seorang kepala Polisi mengulurkan tangan.


"Saya juga berterima kasih karena bapak mau membantu saya dan Aprilio dalam mengatasi masalah ini...", jawab Nicholas, membalas menjabat tangan kepala Polisi itu.


"Tentu saja...ini sudah tugas saya...kalau nanti anda atau Tuan Aprilio membutuhkan bantuan...jangan sungkan untuk menghubungi saya...", lanjut pria paruh baya itu bijaksana.


"itu pasti... baiklah... kalau begitu saya harus pergi sekarang...", ujar Nicholas berpamitan dan saling membungkuk hormat.


Nicholas baru saja masuk ke dalam mobilnya, namun ponselnya tiba-tiba berdering, mengernyit heran saat nama Felix yang tertera, namun meski begitu Nicholas tak ragu untuk menjawab nya.


"Apa kau sedang sibuk...", pertanyaan Felix semakin membuat Nicholas heran


"Aku baru saja keluar dari Kantor Polisi... memang nya ada apa...apa ada kabar dari rumah sakit...atau terjadi sesuatu pada Antonio...", tanya Nicholas beruntun.


"Bukan... tidak terjadi apa-apa... Antonio juga baik-baik saja...belum ada kabar juga dari rumah sakit..."


"Lalu..."


"Kau bisa meretas CCTV kan...jadi bantu aku meretas CCTV jalanan depan kafe hari ini...",


"CCTV... untuk apa...", tanya Nicholas bingung.


"Apa Laura tadi tidak menceritakan apa yang terjadi tadi di depan kafe... sebelum kau menghubungiku soal lokasi penculikan Antonio tadi ...", jelas Felix panjang lebar.


"Tidak... memang nya apa yang terjadi..."

__ADS_1


"Tadi Aurora hampir saja tertabrak mobil...tapi untungnya aku datang tepat waktu...dan yang membuat ku merasa aneh...mobil yang hampir menabrak itu sempat berhenti...namun sopirnya tidak turun untuk meminta maaf...ataupun sekedar melihat keadaan Aurora... bukankah itu aneh..."


"Baiklah...kau tenang saja...aku akan urus masalah ini...", jawab Nicholas meyakinkan.


"oke... terima kasih... hubungi aku kalau sudah menemukan sesuatu..."


"iya...aku akan mengabarimu nanti...", setelah mendapat jawaban dari lawan bicaranya, Nicholas memutuskan panggilan lebih dulu, dan melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Di Apartemen


"Kau baru saja menghubungi Nicholas...", tanya Melinda tiba-tiba membuat Felix terkejut.


"Astaga...kau membuatku terkejut...", ujar Felix mengusap dadanya, "...kenapa kau keluar...apa Nio sudah tidur...", lanjutnya.


"Belum...aku haus mau ambil minum...", jawab Melinda mengambil gelas, kemudian membuka lemari es mengambil botol air dan menuangkannya. "...Kenapa kau meminta bantuan pada Nicholas... bukankah kau sudah meminta Antonio melakukannya...", lanjutnya setelah meneguk air yang dia tuang tadi.


"Aku tidak akan bisa tenang kalau masalah ini belum selesai...", jawab Felix sendu.


"Tenang saja... Nicholas pasti bisa menemukan nya...", ujar Melinda mencoba menenangkan, walaupun masih kaku, Felix mengangguk setuju.


Disisi lain


Nicholas baru saja sampai di parkiran perusahaan nya, namun lagi-lagi ponselnya berdering, menandakan seseorang menghubungi nya.


"Halo...ada apa..."


"..."


"Apa...jadi maksud mu dia tidak di tahan..."


"..."


"Baiklah...cari tahu siapa yang sudah mereka suap..."


Nicholas memutuskan panggilan setelah mendapatkan jawaban dari anak buahnya, berpikir sejenak hingga di menginat sesuatu.


"Sepertinya aku tau...siapa yang melakukannya..."


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2