
Pernyataan Aprilio seketika menjadi tranding di sosial media, bagaimana tidak, Aprilio secara terbuka mengundang banyak orang, meskipun untuk acara pernikahan yang pribadi saja sudah membutuhkan biaya fantasi, apalagi di tambah membuka bazar raya sehari full dan selama seminggu penuh.
Jangankan untuk orang lain, bagi Aurora sendiri hal seperti ini adalah hal yang luar biasa, mau bagaimanapun Aurora kurang terbiasa dengan hal-hal yang mewah. Meskipun dulu mendiang Ayahnya pernah mengadakan pesta, namun bukan yang mewah atau berlebih seperti ini.
"Lio...apa kamu yakin dengan rencana acara itu...", tanya Aurora pada Aprilio.
Sekarang mereka tengah berada di sebuah restoran untuk makan siang bersama dengan yang lain, setelah acara konferensi pers tadi, dan Aurora belum sempat bertanya karena Aprilio langsung sibuk mengawasi pembagian undangan yang di katakan nya tadi, lalu sesudahnya mereka buru-buru pergi menuju restoran, karena yang lain sudah menunggu di sana.
"Yakin sayang...aku kan ingin berbagi kebahagiaan dengan semua orang...", ujar Aprilio yakin.
"Kenapa Ra...kau terkejut ya...", sela Nicholas.
"Tentu saja...dia bahkan tidak memberitahu ku lebih dulu...", jawab Aurora kesal.
"Bukan begitu sayang...ini kan kejutan... apalagi kamu kan pernah bilang kalau rencana pernikahan...lakukan apapun dan aku mau...ya inilah yang aku mau...", penjelasan Aprilio membuat Aurora tak bisa berkata-kata, karena dia masih ingat janji yang dia ucapkan beberapa waktu yang lalu.
"Jangan terkejut Ra... begitulah pemikiran Aprilio...dia itu selalu punya rencana yang tidak pernah di bayangkan orang lain...aneh...", jelas Nicholas dengan mengejek Aprilio di akhir.
"Kalau aku aneh...kenapa kau mau berteman dengan ku... bukankah itu berarti kau juga aneh...", sarkas Aprilio membalas ucapan Nicholas.
"Tidak juga...kan aku berteman dengan mu karena kau kaya...", ujar Nicolas bercanda.
__ADS_1
"Ya ya...terserah kau saja...", balas Aprilio mengalah.
"Tunggu saja Ra...kau nanti harus terbiasa dengan pemikiran Sultan yang satu ini...", goda Nicholas lagi.
"Haha benar...mungkin saja suatu hari nanti dia akan memberikan ku pulau...", balas Aurora bercanda sambil menggelengkan kepalanya.
"Pulau...apa kamu menginginkannya sayang...aku bisa membelikan mu sekarang juga...", ujar Aprilio santai, namun membuat Aurora membulatkan matanya terkejut.
"Tidak Lio...aku hanya bercanda", tolak Aurora buru-buru.
"Ra Ra...kau ini sudah di bilang kalau suami mu itu sultan...jadi apapun yang kau inginkan...dia akan membelikan nya untuk mu...", ujar Nicholas terkekeh melihat Aurora yang terkejut.
"Memangnya kenapa... bukankah itu yang biasa di lakukan suami untuk istri yang dia cintai... memberikan apapun yang dia inginkan...", ujar Aprilio santai.
"Tentu saja... kalau itu membuatnya bahagia...aku akan memberikan nya... bagaimana pun caranya...", ujar Aprilio yakin.
"Astaga Lio...itu berlebihan sekali... kebahagiaan ku itu bukan terletak pada apa yang aku inginkan...atau apa yang kau berikan...cukup dengan kamu selalu berada di samping ku itu saja sudah membuatku bahagia...", jelas Aurora tulus, membuat Aprilio tersenyum lebar.
"Hey sudah-sudah...jangan lupa masih ada kita di sini...", sela Melinda geleng-geleng kepala.
"Kak Nicho tuh yang mulai duluan...", ujar Aurora kesal.
__ADS_1
"Tapi kan yang aku bilang itu kenyataan Ra...", elak Nicholas, membuat Aurora berdecak malas.
"Tunggu sayang...sejak kapan kamu manggil Nicholas dengan embel-embel kakak hm...", tanya Aprilio mengintrogasi.
"Baru baru ini... memangnya kenapa...", tanyanya polos.
"Kok aku baru sadar ya... memang kenapa kamu ganti memanggilnya kakak...", tanya Aprilio penasaran.
"Ya aku baru kepikiran saja...kan aku manggil Kak Laura dengan sebutan Kakak...tapi tidak dengan Nicholas...jadi rasanya kayak aneh gitu... apalagi mereka berdua kan seumuran...masa panggilannya beda...jadi ya...aku panggil Kakak juga...biar sama...", jelas Aurora panjang lebar.
"Lalu... bagaimana dengan ku... bukankah kamu juga harus mengubah cara mu memanggil ku...", ujar Aprilio membuat Aurora mengernyit kebingungan.
"Maksudnya...kamu ingin aku memanggil mu kakak juga....", tanya Aurora polos.
"Tidak....aku tidak mau yang sama dengan nya...harus beda...", tolak Aprilio menunjuk Nicholas.
"Lalu apa...", tanya Aurora polos, Aprilio pun menyeringai menatap Aurora, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Aurora.
"Panggi aku sayang...atau suami...", bisik Aprilio, setelah itu menarik kembali wajahnya lalu menatap wajah Aurora yang ternyata sudah memerah.
"Lio", Aurora memukul main-main lengan Aprilio karena malu.
__ADS_1
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan**