
Felix berjalan mondar-mandir di dalam kantor nya dengan cemas, berulang kali melihat jam tangannya, sedangkan tangan lainnya mengutak-atik ponsel untuk menghubungi seseorang.
"haish sebenarnya kemana dia pergi...", ujarnya frustasi, "...ini sudah berjam-jam...dan dia belum kembali juga...", lanjutnya.
*toktok
cklek*
"Tuan Felix...anda sudah di tunggu di ruang meeting...", ujar seorang karyawan pria
"Iya terima kasih...apa Melinda sudah kembali...", tanyanya kemudian.
"Sekertaris Melinda belum kembali Tuan... beliau hanya mengirim pesan pada saya untuk memastikan meeting ini...", jawab karyawan tadi.
"Dia mengirim pesan pada mu...", karyawan itu mengangguk. "...tapi sejak tadi ponselnya tidak aktif saya hubungi...", lanjutnya.
"Maaf Tuan...saya tidak tau soal itu...", jawab karyawan itu hati-hati.
"Baiklah...bantu saya membawa berkas-berkas itu...lalu kamu pergi ke ruang meeting lebih dulu...lima menit lagi saya akan menyusul...", pinta Felix menunjuk beberapa berkas di atas meja kerja nya.
Karyawan itu mengangguk mengerti lalu mengambil berkas-berkas itu dan beranjak dari sana setelah membungkuk sejenak.
__ADS_1
Sedangkan Felix kembali mengutak-atik ponsel nya untuk kembali mencoba menghubungi Melinda, namun tetap sama, ponselnya tidak aktif, hingga akhirnya Felix memutuskan untuk mengirimkan pesan.
Disisi lain
"Aku benar-benar sial hari ini...", gumam Melinda sendu, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya, Melinda bukan marah, hanya merasa kecewa, karena Felix menghindari nya setelah mengetahui perasaannya.
"Haaah...", Melinda mengusap wajah nya frustasi, kemudian menghembuskan nafas berat, matanya sudah berkaca-kaca, mau sekuat apapun Melinda tetap seorang perempuan yang bisa merasakan sakit dan terluka.
"Aku minta bantuan pada siapa...aku tidak ingin mengganggu teman-teman ku...", rengeknya sedih.
Setelah bertengkar dengan Felix tadi, Melinda langsung memutuskan meninggalkan kantor, bahkan tidak ijin atau berpamitan pada Felix, dia hanya berpesan pada salah satu karyawan kalau dia ingin pergi karena ada urusan.
Perasaan dan pikirannya yang sedang kacau, membuat nya melajukan mobil tanpa tujuan, hingga dia menyadari saat mobil kehabisan bahan bakar, ternyata dia sudah mengemudi jauh dari kantor, bahkan jalannya terlihat sepi, hanya ada pohon-pohon di sisi kanan dan kiri.
"Sudahlah...mungkin ini caranya aku untuk menenangkan diri...nikmati saja dulu...", ujarnya kemudian turun dari mobilnya.
Panas yang terik tak menghalangi niat Melinda untuk melihat pemandangan hijaunya pepohonan disana, berjalan perlahan, Melinda mendekat ke arah sebuah pohon besar yang rimbun, nyaman dan sejuk saat berteduh di bawahnya.
Melinda tak melepaskan kesempatan untuk merasakan berteduh di bawah pohon itu, bahkan tanpa di sadari Melinda tersenyum, kemudian duduk di sana bersandar dengan tenang.
Hingga beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan mobil Melinda, tentu saja hal itu membuat Melinda mengernyitkan keningnya kebingungan.
__ADS_1
Setelah itu seorang pria keluar dari mobil itu seorang diri, tentu saja hal itu semakin membuat Melinda bingung dan takut, pria itu berjalan ke arahnya.
"Maaf permisi...", sapa pria itu ramah dan tersenyum.
"i-iya...ada apa ya...", tanya Melinda hati-hati.
" Apa mobil anda mogok...", Melinda mengangguk mengiyakan.
"Kehabisan bahan bakar...", jawab Melinda jujur.
"Perlu bantuan...", tanya pria itu lagi, Melinda pun berpikir sejenak.
"Boleh...apa anda punya persediaan bahan bakar lebih...", tanya Melinda balik.
"Tidak...saya tidak punya... maksud saya...mungkin anda ingin saya antar ke pom bensin atau ke suatu tempat...",
"Tapi...-
"Tenang saja...saya bukan orang jahat..."
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**