
Melinda terdiam, mata menatap ke arah lain, tak berani menatap Felix yang tengah menatapnya, sedangkan di pikiran nya di penuhi dengan berbagai alasan untuk mengelak, berbohong atau bahkan mengakui saja apa yang dia lakukan.
"Mel...kenapa diam saja...katakan saja semuanya...dan tanyakan saja padaku apapun yang ingin kau tahu...aku tidak akan marah...aku akan jawab semuanya...tanpa ada yang aku tutupi darimu...", Ujar Felix lembut.
Mendengar hal itu, Melinda sedikit terkejut dan refleks beralih menatap Felix.
"Kau yakin...", Felix mengangguk meyakinkan, "...tidak ada kebohongan ataupun cerita-cerita bohong yang hanya ingin kau sengaja kau buat untuk menutupi masalah sebenarnya...", Lanjut Melinda menegaskan.
"Iya...aku janji... kedepannya aku akan selalu terbuka pada mu dalam hal apapun...tapi...itu juga berlaku untuk mu...kau harus memberitahu ku semuanya...kalau aku salah atau tanpa sengaja aku menyakitimu...tolong beritahu aku...jangan hanya diam saja... seharusnya kau sudah mengerti... Kalau aku bukan orang yang peka atau langsung mengerti perasaan orang lain hanya dengan melihat tanpa berbicara...katakan saja semuanya pada ku walaupun itu baik ataupun buruk... mengerti...", Penjelasan Felix itu membuat Melinda tersentuh, entah kenapa rasanya itu membuat Melinda yakin bahwa hubungannya dengan Felix akan berkembang serius.
"Felix... terima kasih...", Ujar Melinda akhirnya setelah hanya diam saja sejak tadi.
"Untuk apa...", tanya Felix kebingungan.
"Perkataan mu tadi... membuat ku merasa sangat di hargai... padahal...kita tidak dalam hubungan serius apapun...", Melinda namun Felix tidak menyela sedikitpun, "...dan aku juga minta maaf... sebenarnya...tadi siang aku mengikuti mu...aku hanya penasaran...siapa yang ingin kau temui...tapi ternyata...kau bertemu Aurora...dan konyol nya... Aku berpikir aneh-aneh tentang kalian berdua... Apa yang kalian lakukan bertemu berdua saja... Lalu apa Aprilio tau...apa kalian tidak takut terjadi kesalahpahaman...", Melinda menghela nafas.
"Kami tadi tidak berdua saja...ada Antonio juga...", Sela Felix.
"Ya...maka nya tadi aku terkejut... karena ternyata aku sendiri yang konyol dan salah paham... Berpikir aneh-aneh dan mencurigai kalian berdua... Bukankah aku ini sahabat yang bodoh... Mana ada sahabat yang berpikir buruk tentang sahabat nya sendiri...aku jadi merasa bersalah... terutama pada Aurora...", Jelas Melinda menyesal.
"Mel...jangan bicara seperti itu...aku tau...kau seperti itu bukan karena tidak suka...tapi karena kau mengkhawatirkan kami... kau takut kamu dalam masalah...dan menurut ku...kau bukan sahabat yang buruk...kau itu sahabat terbaik...kau bahkan tidak melupakan Aurora setelah bertahun-tahun menghilang... Kau bahkan menyayangi nya melebihi keluarga nya sendiri...kalau menurut ku... Kau itu sahabat terbaik di dunia ini...aku yakin Aurora juga pasti setuju...", Ujar Felix menenangkan sekaligus memuji dengan yakin.
"Rasanya aneh mendengar pujian itu dari mu...aku seperti besar kepala...di puji oleh orang yang spesial... Rasa bahagianya jadi berkali-kali lipat... jantungku juga tambah berdebar kencang...", Ujar Melinda tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Benarkah...jadi sekarang perasaan mu sudah lebih baik...", Tanya Felix yang langsung di angguki yakin oleh Melinda, "... kalau begitu...bisa aku jelaskan sekarang kenapa aku bertemu dengan Aurora tadi...", Lanjutnya.
"Tentu...jelaskan saja agar aku tidak salah paham lagi dengan kalian...", Ujar Melinda sendu.
"Baiklah...jadi...aku mengajak Aurora untuk ketemu... karena aku ingin memastikan perasaan ku padanya... ka-
"Memastikan...", sela Melinda mengernyit kebingungan.
"Iya... karena menurut Nicho dan Lio... perasaan ku pada Aurora bukan cinta pada lawan jenis...melainkan perasaan cinta pada saudara atau keluarga...dan Aurora pun mengatakan hal yang sama...", jelas Felix.
"Benarkah...memang apa yang mereka katakan...", tanya Melinda penasaran.
"Menurut mereka perasaan ku pada Aurora adalah perasaan selayaknya keluarga... keluarga yang ingin aku jaga dan lindungi...bukan perasaan mencintai atau ingin memiliki...emm entahlah... seperti itu... sedangkan perasaan kepada lawan jenis yang sebenarnya adalah ketika jantung kita berdebar saat bersama nya...atau rindu yang tak tertahankan meski baru bertemu... setiap menutup mata selalu muncul wajahnya...atau bahkan marah saat melihatnya dekat dengan orang lain...gelisah saat dia tidak ada kabar...mungkin juga rasa posesif ingin memilikinya...", jelas Felix panjang lebar dengan lembut dan sesekali tersenyum, Melinda pun terkekeh mendengarnya, karena dia pun tau semua dan pernah merasakannya.
"Itu benar...lalu... bagaimana menurutmu sendiri...", tanya Melinda.
"Denganku...apa bedanya...", tanya Melinda penasaran.
"Ah i-tu...lebih baik kita masuk...a-aku sudah lapar...", ujarnya mengalihkan pembicaraan.
"Tapi-
"Kita lanjutkan bicara di dalam saja...ini sudah lewat jam reservasi...", potong Felix, dan keluar dari mobil lebih dulu.
__ADS_1
Melinda hanya berdecak kesal, namun tetap mengikuti Felix.
"Selamat Datang Tuan Felix...dan Nona Melinda...saya manager disini...", sapa seorang pria berpakaian formal dengan ramah pada keduanya saat baru saja memasuki restoran.
"Terima Kasih...", jawab Felix tak kalah ramah, namun berbeda dengan Melinda yang hanya kebingungan karena pria itu mengetahui namanya.
"Mari saya antar...", Felix pun mengangguk dan Melinda pun hanya tersenyum.
Sepanjang melangkahkan kaki mengikuti manager itu, Melinda di buat takjub sekaligus heran, bagaimana restoran itu di hias romantis tapi tidak ada tamu satupun.
"Felix...apa kau memesan seluruh restoran ini...", bisiknya pada Felix.
"Kenapa"
"Soalnya...tidak ada tamu satupun selain kita...tapi kenapa mereka menghiasnya seromantis ini...", jelasnya lagi sambil berbisik.
"Nanti kau juga tau", jawab Felix tersenyum, Melinda menghela nafas mendengar jawaban Felix.
"Silahkan Tuan dan Nona...ini meja anda...", manager itu berhenti lalu berbalik mempersilahkan Felix dan Melinda.
"Woah", Melinda menutup mulutnya karena terkejut tidak menyangka. "...apa ini Felix...", lanjutnya.
"Kau suka...
__ADS_1
**Bersambung
Written by Dwi Laksana**