Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 7.2


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya


Nicholas menghubungi Felix dan mengajak ketemuan, tanpa Laura ataupun Antonio. Tentu saja itu membuat Felix heran, tapi saat bertemu, Nicholas dengan to the point mengatakan ingin Felix bekerja dengan nya, sebagai asisten nya.


“Tapi aku bahkan tidak punya pengalaman bekerja di kantor...apalagi aku tidak kuliah sama sekali...” Ujar Felix tidak yakin.


“Tidak masalah...kau bisa belajar...nanti aku akan mengajarimu...” Jawab Nicholas meyakinkan. “Dan yang pasti...aku ingin kau membantu ku mengambil alih Moon Travel...” lanjutnya


“Moon Travel... maksud mu perusahaan milik keluarga Aurora...” ulang Felix memastikan.


“Benar...sejak beberapa bulan yang lalu... Moon Travel mulai turun dan hampir bangkrut karena terlilit banyak hutang... mereka tidak sanggup membayar...” Jelas Nicholas


“maksud mu...kau ingin mengakuisisi nya...” tanya Felix terkejut, namun Nicholas mengangguk dengan santai.


“ya...aku sudah berinvestasi pada perusahaan Moon...jadi selanjutnya aku hanya perlu membeli...setidaknya 50% saham mereka... dan mengambil alih perusahaan Moon...” Nicholas menyeringai setelah menjelaskan.


“Lalu...apa kau akan langsung menyerahkan nya pada Aurora...” tanya Felix penasaran.


“Tentu saja tidak...” sanggah Nicholas, “maka nya sebelum Aurora siap... sepertinya lebih baik kamu yang mengurus nya dulu...” lanjutnya yakin


“Apa...aku yang mengurus Travel Moon... Jangan bercanda Nic...kalau aku malah menghancurkannya bagaimana...” pekik Felix tidak percaya.


“Seperti yang aku bilang tadi...aku akan membantumu...aku juga akan mengajarimu... Aurora tidak punya siapa-siapa...dia hanya punya Antonio dan kau...” Nicholas berbicara dengan tegas dan yakin.


“tapi aku bukan keluarga Aurora...aku juga tidak punya hubungan khusus dengan nya...” Ujar Felix lirih


“bagaimana kau bisa bicara seperti itu... Jika Aurora dan Antonio mendengar nya...Mereka akan kecewa pada mu... Terlepas dari apa kau ayah kandung Antonio atau bukan...atau kau orang yang di cintai Aurora atau tidak... Mereka sudah menganggap mu seperti keluarga mereka sendiri...” Jelas Nicholas kesal, Felix menunduk merasa bersalah.


“Benar... maafkan aku...” lirih Felix sendu.


“Baiklah...aku akan mengatakan ini saat aku dan Laura ke rumah mu...dan kau harus usahakan agar Aurora setuju...” Felix mengangguk mengerti dengan perkataan Nicholas.


Tanpa menunggu beberapa hari, keesokan harinya, Laura langsung mengundang Aurora dan keluarga nya untuk makan malam ke rumahnya. Bahkan secara khusus mengirim supir untuk menjemput mereka di apartemen. Jadi mau tidak mau Aurora, Felix dan Antonio sekarang sudah berada di mobil yang datang menjemput mereka.


Hingga beberapa menit perjalanan mereka sudah sampai di sebuah Mansion besar dengan gerbang besar, halaman yang luas, banyak tanaman, bahkan berjajar beberapa mobil. Mansion itu di dominasi dengan warna putih, silver dan gold.


“Woah... rumahnya besar sekali...” Antonio menatap bangunan itu tak berkedip sedikitpun. Sedangkan Aurora dan Felix hanya saling pandang beberapa saat.


Setelah mobil berhenti tepat di depan pintu mansion, supir tadi turun dan membukakan pintu untuk mereka, lalu terlihat Laura berlari dari dalam dan menghampiri mereka, bahkan Laura langsung memeluk Aurora dan Antonio bergantian.


“Ayo masuk...” ujarnya berbinar mengajak mereka dengan antusias menggandeng tangan Aurora dan Antonio. “ayo Felix...” lanjutnya mengajak Felix yang tidak dia hiraukan sejak tadi, dan Felix mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


Aurora dan Antonio semakin di buat terkejut dengan keadaan di dalam nya, disana sudah ada Nicholas dan Leon, juga sepasang pria dan wanita paruh baya.


“Kak Nio...” pekik Leon berlari menghampiri Antonio.


“oh hai Leon...” balas Antonio


“Mama... Leon ajak kak Nio ke kamar ya...” ujar bocah 3tahun itu antusias. Sedangkan Antonio menatap Aurora bertanya.


“Iya sayang...tapi Leon jangan nakal ya...” jawab Laura sayang, Aurora mengangguk pelan memberi jawaban dari tatapan Antonio.


“Nio juga tidak boleh nakal ya...” ujar Aurora tak kalah lembut, Antonio mengangguk, kemudian mengikuti kemana Leon menarik tangannya.


“Silahkan duduk Ra...Felix...” ajak Laura. “kenalkan...ini orang tua Nicholas...mertua ku...” lanjutnya memperkenalkan kedua orang tua tadi. Setelah Aurora dan Felix duduk.


“Selamat malam tuan nyonya...saya Aurora dan ini suami saya Felix...” ujar Aurora sopan lebih dulu, karena Felix hanya diam saja. Felix sebenarnya bingung ingin memperkenalkan dirinya sebagai apa, jadi dia hanya diam saja.


“oiya...saya sudah mendengar tentang kalian dari Laura dan Nicho...tapi jangan panggil tuan dan nyonya... panggil saja Paman dan Bibi...” jelas ibu Nicholas ramah.


“Benar...kalian teman Laura dan Nicho...jadi santai saja... anggap seperti rumah kalian sendiri...” sambung ayah Nicholas tak kalah ramah, Aurora dan Felix hanya tersenyum canggung.


Aurora merasa aneh, bagaimana bisa orang sekaya Laura dan Nicholas, mau berteman dengan keluarga nya yang dari kalangan bawah, bahkan memberi banyak hadiah untuk mereka, padahal mereka kenal hanya berawal dari menolong Antonio. Sedangkan menurut Felix, Teman-teman Aurora orang yang berada, bahkan Ayah Antonio juga kaya, Aurora juga dari keluarga kaya. Jadi, Nicholas merasa sadar diri untuk tidak mengharapkan Aurora membuka hati untuk nya, apalagi Menikah, biarlah mereka hanya sebatas ini.


“Apa yang harus di permasalahkan... awalnya kami Juga orang biasa...kalau bukan karena bantuan orang lain...mana mungkin kami menjadi seperti ini...” tutur Papa Nicholas bijak.


“Maka dari itu...orang yang selalu berbuat baik...akan mendapat kebaikan juga dari orang lain...” sambung Mama Nicholas.


Aurora dan Felix mengangguk menyetujui perkataan kedua orang tua Nicholas, Mereka berdua tiba-tiba jadi merasa rindu pada ibu Felix. Selama ini, orang tua yang mereka miliki hanya ibu Felix, menasehati, mengingatkan, bahkan memarahi, itulah tugas orang tua.


Mereka terhanyut dalam obrolan ringan, Aurora dan Felix memang tidak banyak bicara, mereka hanya menjawab pertanyaan yang di lontaran orang tua Nicholas.


“Mama...Lapar...” pekik bocah 3tahun itu berjalan ke arah yang lain setelah keluar kamarnya yang memang berada di lantai bawah, bersama dengan Antonio yang berjalan di belakangnya.


“astaga...aku sampai lupa... karena keasyikan ngobrol...” Laura terkekeh geli.


“Ayo ayo...kita pindah ke meja makan... Kasihan ini cucu cucu nenek sudah kelaparan...” ajak Mama Nicholas beranjak lebih dulu dan mengajak Leon bahkan Antonio. Di ikuti Papa Nicho di belakangnya.


“iya Ayo Ra...Felix...kalian harus cobain masakan di rumah ini...kalian pasti suka...” ajak Laura antusias menarik tangan Aurora, di ikuti Felix dan Nicholas yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


“kamu yang masak Ra...” tanya Aurora polos.


“hehehe bukan...tapi Mama...” jawab Laura terkekeh lucu, membuat Aurora dan kedua pria di belakang mereka ikut terkekeh.

__ADS_1


Keesokan harinya


Waktu menunjukkan hampir jam makan siang, Aurora mempersiapkan beberapa bahan yang di perlukan sebelum dirinya pulang. Namun saat akan berpamitan, Aurora tidak sengaja melihat Melinda sedang terdiam menatap laptopnya.


“Mel...kamu sedang apa...mau aku buatkan teh...” panggil Aurora


“Boleh...tapi tunggu sebentar Ra... tolong lihat ini...apa ada sesuatu yang kurang...” tanyanya menunjukkan sebuah desain baju perempuan.


“Ini apa Mel...” tanya Aurora.


“ini pekerjaan ku... perusahaan tempat ku bekerja... sedang ada proyek dengan salah satu drama...dan bagian desain mendapat tugas membuat kostum yang cocok sesuai keinginan klien...dan waktu nya tersisa besok...tapi...aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh pada desainku... menurut mu apa ya Ra...” Melinda menjelaskan panjang lebar, Aurora menatap gambar itu tak mengatakan apapun.


“Tema nya apa...” tanya Aurora tak mengalihkan pandangannya dari laptop Melinda.


“Romance...CEO dan seorang mahasiswa...” jawab Melinda singkat


“Kalau karakter perempuan nya masih mahasiswa...bukankah lebih baik desain nya jangan terlalu terbuka...jika ingin menunjukkan bagian leher dan bahu...lebih baik buat model Sabrina...jadi tidak terlalu seksi...” Aurora menjelaskan seperti seakan dia mengingat semua pelajaran yang dia dapat dulu.


“Benar...Terima Kasih Ra...Kau memang yang terbaik...aku akan kembali ke ruangan ku untuk memperbaiki nya...” Melinda benar-benar tidak menyadari jika yang dia lakukan memicu kenangan Aurora.


Aurora menatap Melinda yang memasuki kamarnya. Namun kemudian Aurora memegangi kepalanya saat terasa sedikit sakit bersamaan dengan beberapa memori yang terlintas, Sebuah gedung universitas, lalu suasana dalam ruang sekolah, ada Aurora dan Melinda yang mengerjakan desain bersama.


“Aku dan Melinda...”


Disisi lain


“Bagaimana...kau sudah menemukan sesuatu...”


...


“aku beri waktu beberapa hari lagi...dan ingat...jangan sampai ada yang tau masalah ini...”


Aprilio membuang ponselnya ke meja kerjanya dengan cukup kencang, beberapa hari ini dia di buat frustasi dan penasaran. Apalagi orang suruhan nya belum mendapatkan hasil apapun, apalagi nomor Felix tidak bisa di lacak, jadi tidak ada jalan untuk mengetahui dimana dia tinggal. Bahkan Aprilio tidak bisa melakukan apapun yang mengundang perhatian musuhnya, Jadi Aprilio hanya bisa menunggu.


“hais...aku bisa jadi gila kalau Cuma menunggu seperti ini...” Gumamnya frustasi.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2