Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 19.2


__ADS_3

Tuan Dion tertegun mendengar perkataan cucunya itu, bahkan membuat otaknya bekerja, tidak akan mudah meminta Antonio tinggal bersamanya nanti tanpa Aurora, tapi dia juga tidak bisa egois memisahkan anak dengan ibunya.


Tuan Dion juga sadar jika dirinya tidak ingin cucunya mengalami hal seperti Aprilio, hidup bersama ibu tiri, yang mungkin saja tidak bisa menerimanya dengan tulus, dan mengakibatkan cucunya akan menjauhi nya atau bahkan akan membencinya seperti Aprilio dulu.


"Baiklah...kita bicarakan itu nanti kalau Papa mu sudah sembuh...Hm", ujar Tuan Dion mengalah, "...lebih baik sekarang Antonio pergi lihat kamar yang akan Nio tempati... bagaimana...", Antonio mengangguk antusias mendengar nya.


"Tolong antar kan Tuan Muda ke kamarnya...", perintah Tuan Dion


"Baik Tuan Besar...", jawab asisten Tuan Dion membungkuk, kemudian beralih menatap Antonio, "...mari saya antar ke kamar anda Tuan Muda Kecil...", lanjutnya.


"Kakek...aku ke kamar dulu ya...", ujarnya lucu, membuat Tuan Dion tersenyum kemudian mengangguk.


Tuan Dion menatap punggung Antonio yang berjalan semakin menjauh menuju pintu, hingga hilang di balik pintu, kemudian menghela nafasnya berat, Tuan Dion memejamkan matanya.


Disisi lain


Felix baru saja sampai di kantor Nicholas, namun pemilik ruangan tidak ada, jadi terpaksa dirinya menunggu sendirian di sana, kemudian mengeluarkan ponselnya, detik selanjutnya Felix mengernyitkan keningnya saat ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab, memang Felix sempat mengheningkan ponselnya karena di rumah sakit tadi.


Namun lagi-lagi mengernyit heran saat panggilan tadi dari nomor yang tidak di kenal, tapi Felix tak terlalu pusing dengan itu dan berniat menghubungi Nicholas.


tring


Sebuah pesan masuk sebelum Felix menghubungi Nicholas, memilih membukanya lebih dulu, Felix membulatkan matanya saat mengetahui nomor siapa yang menghubungi nya tadi.


Tuan Felix, saya Angelica Moon.


Pesan singkat yang terkesan sombong itu menandakan jika Felix harus menghubunginya balik, namun Felix tak langsung melakukan nya, dia masih bingung.


braakk


Pintu ruangan itu terbuka kencang membuat Felix terkejut, tentu saja itu ulah Nicholas, yang terlihat kesal.


braakk


Nicholas kembali menutup pintu dengan kencang, bahkan tidak peduli dengan adanya Felix disana.


"Astaga...kau membuat ku terkejut...," ujar Felix kesal pada Nicholas yang berjalan santai ke arah sofa kemudian membanting tubuhnya duduk di sofa seberang Felix. memijat pelipisnya sejenak, kemudian duduk tegap dengan nafas memburu, menumpukan kedua sikunya di masing-masing pahanya, Nicholas mengeraskan rahangnya.


"Lihat saja...kalau Lio sudah sadar nanti... mereka akan hancur lebur...", bukan menjawab perkataan Felix, Nicholas justru mengatakan hal itu dengan penuh penekanan dan tangan yang mengepal.


"Hey...tenang dulu...ada masalah apa...kenapa kau marah seperti ini...", ujar Felix menenangkan.


"Belum ada pergerakan yang mencurigakan sedikit pun dari keluarga Chen...apa mungkin kita salah...", jelasnya frustasi.


"Tidak mungkin...bisa saja dia tau kalau kita sedang mengawasi nya...jadi dia memilih tidak melakukan apapun...", tebak Felix, mendengar itu Nicholas mengangguk mengerti.


"Benar... kalau begitu...kita susun rencana untuk memancingnya melakukan sesuatu...", ujar Nicholas yakin.


"Rencana seperti apa...", tanya Felix.

__ADS_1


"Sesuatu yang membuat nya marah dan kehilangan akal...", Nicholas tersenyum menyeringai.


"Yang membuat nya marah dan kehilangan akal...", ulang Felix sambil berpikir, "... Maksud mu Aurora...", lanjutnya menatap Nicholas tak percaya.


"Benar...dia kan benci banget sama Aurora... bagaimana kalau ada berita tentang Aurora...apalagi kalau berhubungan dengan Aprilio...dia pasti tidak akan terima...", jelas Nicholas.


"Tapi itu bahaya untuk Aurora...", ujar Felix khawatir.


"Aku tau...makanya kita harus pikirkan rencananya dengan baik...dan aman untuk Aurora...kau tenang saja...aku akan menempatkan beberapa orang untuk menjaga Aurora dari jauh...", jelas Nicholas menenangkan.


"Entahlah...kita coba saja bicarakan dengan yang lain...", ujar Felix pasrah.


"Baiklah...aku-


"Tunggu dulu...", cegah Felix saat Nicholas ingin beranjak pergi lagi.


"Ada apa...apa kau berubah pikiran...", tanya Nicholas kembali duduk.


"Bukan...ada masalah lain lagi...", ucapan Felix kali ini membuat Nicholas terkejut.


"Ada masalah apa lagi...", tanya Nicholas panik, namun Felix bukannya menjawab, malah membuka ponsel nya lalu menyerahkannya pada Nicholas. "...Kenapa sih...", lanjutnya mengernyit heran, lalu mengambil ponsel Felix dan melihat nya.


"Ini serius...", ujar Nicholas tidak percaya namun tersenyum. "...trus kau sudah menghubungi nya...", lanjutnya, tapi Felix menggeleng pelan.


"...Kenapa...buruan hubungi dia...dan buat dia semakin dekat dengan mu...", ujar Nicholas lagi buru-buru mengembalikan ponsel Felix.


"Aku bingung...aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti ini...", jawab Felix mengambil ponselnya.


"Memang bisa seperti itu...",


"Tenang saja...kalau kau butuh apapun...kau bisa menghubungi ku...", ujar Nicholas yakin.


"Baiklah...", Felix menyandarkan punggungnya pasrah.


"Tunggu apa lagi... hubungi dia sekarang...", ujar Nicholas antusias.


"Sekarang...", tanya Felix polos.


"Ya iyalah...masa tahun depan...", jawab Nicholas kesal.


"Iya iya...sabar dong...", Felix mengutak-atik ponselnya dan kemudian menghubungi Clara, sejenak menatap Nicholas yang memberi isyarat untuk menyalakan speaker nya.


*Tut Tut


Tut Tut*


"Halo"


setelah beberapa saat, akhirnya panggilan di jawab dengan suara lembut dari seberang sana.

__ADS_1


"Halo Nona Moon...ini saya Felix...Maaf saya tidak bisa menjawab panggilan anda tadi...soalnya...saya sedang... meeting...", jawab Felix setelah diam-diam melihat isyarat dari Nicholas.


"oh tidak apa-apa...saya yang minta maaf karena menganggu anda..."


"Tidak tidak...jangan meminta maaf...saya justru senang anda menghubungi saya...karena saya sudah menunggu telpon dari anda beberapa hari ini...", ujar Felix berbohong.


"Be-benarkah..."


"Benar...jadi...kapan kita bisa bertemu lagi...", tanya Felix to the points.


"Bertemu..."


"Iya... saya ingin bertemu dengan anda lagi...kapan anda ada waktu kosong...", tanya Felix


"ah iya...saya menghubungi anda juga ingin mengundang anda makan malam...sebagai ucapan terima kasih..."


"Benarkah... kapan itu..."


"em... bagaimana kalau malam ini...tapi itu kalau anda tidak sibuk..."


"Tentu saja saya bisa...saya bisa cancel semua pekerjaan saya...", jawab Felix dengan pura-pura antusias.


"Baiklah...saya akan kirimkan lokasi resto nya nanti ..."


"Eh...apa tidak sebaiknya...saya menjemput anda di rumah...biar kita bisa berangkat bersama...",


"oh tidak perlu...kita langsung bertemu di resto saja..."


"Baiklah...saya mengerti...kita akan bertemu di sana saja...", jawab Felix dengan nada yang di buat-buat kecewa, membuat Nicholas diam-diam tertawa.


"Baiklah...sampai jumpa nanti malam..."


"Iya...sampai jumpa nanti malam...dan terima kasih sudah mengundang saya...saya senang sekali...", ujar Felix lembut


"oh i-iya...sama-sama... kalau begitu saya tutup ya...", terdengar suara Angel dari seberang sana gugup.


"Iya...bye bye"


"hahahaha...", tawa Nicholas pecah setelah Felix menutup panggilan nya. "...kau dengar tadi... seperti nya dia sudah terpesona dengan mu...", lanjutnya masih dengan tertawa.


"Sial...aku merinding...", ujar Felix bergidik geli. "...trus bagaimana...apa aku benar-benar harus pergi nanti malam...", lanjutnya menatap Nicholas.


"Ya haruslah...kau kan sudah mengiyakan...",


"Trus aku harus bagaimana...", tanya Felix pusing.


"Tenang saja...aku akan membantu mu...aku akan membuatmu terlihat seperti CEO kaya raya...haha...", ujar Nicholas yakin. "...dan... membuat Angelina Moon itu...jatuh cinta pada mu...", lanjutnya menyeringai.


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2