Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 24.1


__ADS_3

"Sekarang kau bisa lanjut...Kau- eoh Nicholas", Melinda sedikitpun terkejut jika orang yang baru saja masuk adalah Nicholas.


"Mel...ternyata benar-benar kau yang ada disini...saat Daniel memberitahuku tadi...aku pikir Melinda yang lain...tapi ternyata benar-benar dirimu...", jelas Nicholas santai sambil berjalan ke meja kebesarannya.


"Memangnya berapa Melinda yang kau kenal...", ujar Melinda malas, bukan sebuah pertanyaan, melainkan peringatan.


"Yah...nama Melinda kan pasaran...", ejek Nicholas.


"Kau-" Melinda menahan emosinya, "...jangan mencoba memancing emosi ku...aku sedang kesal...", lanjutnya menyandarkan tubuhnya.


"Kenapa...karena Felix tidak ada... tunggu saja... sebentar lagi dia akan kembali...dia hanya keluar untuk makan siang...", jelas Nicholas berniat baik, namun tanpa dia tau, hal itu malah membuat Melinda kesal.


"Aku tau...aku tau...tidak perlu di ingatkan...sekarang dia sedang makan siang bersama Angel kan...aku tau itu...", ujar Melinda kesal.


"lho bagaimana kau tau...apa saat kemari kau berpapasan dengan mereka...apa semuanya tidak apa-apa... bagaimana Angel...apa dia curiga...", tanya Nicholas beruntun.


"Ck...kalian hanya peduli tentang perempuan itu saja... menyebalkan...aku pulang saja...", ujar Melinda kesal, dan memakai tas nya ingin berdiri, namun ucapan Nicholas lebih dulu menghentikan langkahnya.


"Bukan begitu Mel...ini kan rencana yang sudah aku susun untuk membantu Aurora... kalau terbongkar... semuanya akan sia-sia...dan kita tidak mendapatkan apa-apa...", jelas Nicholas menenangkan, penjelasan itu membuat Melinda sadar, dan akhirnya menghembuskan nafas panjang untuk meredam emosinya, lalu kembali duduk.


"Ya aku mengerti...tenang saja...Felix tadi memintaku bersembunyi...jadi perempuan itu tidak melihat ku...", jelasnya kemudian.


"Syukurlah...tapi tunggu...kau tadi bilang bersembunyi... maksud mu kau datang lebih dulu sebelum Angel...", Melinda mengangguk, "...Astaga...jadi itu kenapa kau masih ada disini... walaupun tau Felix tidak ada...", lanjutnya, membuat Melinda lagi-lagi hanya mengangguk.


"Ya...aku datang lebih dulu...dan saat tau perempuan itu datang...Felix meminta ku bersembunyi di bawah meja...tapi perempuan itu malah melihat 2cangkir yang ada di atas meja...jadi Felix mengajaknya makan siang untuk mengalihkan pembicaraan...", jelasnya cemberut.


"ah aku mengerti...", Nicholas mengangguk paham, "...tapi .. untuk apa kau datang kemari...", lanjutnya.


"Ya... sebenarnya aku kemari ingin mengajak nya pergi bersama ke rumah keluarga Victory nanti...sekalian aku ingin membeli sesuatu sebelum kesana...aku-


"Kenapa tidak lewat chat...atau telpon saja...kenapa repot-repot kemari...", potong Nicholas lebih dulu.


"Kebetulan aku ingin makan siang diluar... karena bosan dengan makanan di kantin kantor ku...jadi...sekalian saja aku ingin mengajak nya...tapi malah keduluan perempuan itu... menyebalkan...", jelas Melinda dengan kesal dan cemberut.


"Benarkah...bukannya sebaliknya...kau ingin mengajak Felix makan siang... sedangkan mengajak pergi bersama ke rumah keluarga Victory...hanya alasan mu saja...", jelas Nicholas menggoda.


"Ti-tidak...ma-na mungkin...ja-ngan bicara omong kosong...", Elak Melinda gugup.


"Aku tidak bicara omong kosong... bukankah kau bisa pergi bersama dengan ku dan Laura yang lebih sering pergi sering ke kediaman keluarga Victory... daripada bersama dengan Felix yang bahkan tidak pernah kesana...", ujar Nicholas telak, membuat Melinda tak bisa mengelak lagi.


"Iya sih...tapi bukankah...nanti aku malah jadi obat nyamuk melihat kalian berdua yang pasti akan bermesraan...dan aku tidak mau melihatnya...", ujar Melinda masih berusaha mengelak, Nicholas yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas.


"Yah...terserah kau saja...", Nicholas mengangkat bahunya acuh, "...sekarang aku mau pergi makan siang dengan Laura...apa kau mau ikut...", lanjutnya berdiri dari kursinya.


"Tidak...aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau jadi obat nyamuk...melihat kalian berdua bermesraan...lebih baik aku kembali saja ke kantor...", ujar Melinda berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Kau yakin...aku akan mentraktir mu makan...", cegah Nicholas sebelum Melinda membuka pintu.

__ADS_1


"Tidak perlu...aku tidak berselera... sampai jumpa nanti malam...", tolaknya, dan langsung membuka pintu, pergi keluar tanpa menunggu jawaban Nicholas.


Skip Malam Hari


Aurora, Aprilio dan Antonio sudah berada di ruang tamu, mereka sengaja duduk berkumpul di sana untuk menyambut kedatangan sahabat-sahabat mereka, begitupun dengan Antonio yang sangat antusias ingin bertemu Felix, karena sudah lama mereka tidak bertemu, selama ini hanya berkomunikasi lewat ponsel saja.


"Kok lama sih Ma...jam berapa sih Papa Felix datangnya...", pertanyaan itu sudah berulang kali Antonio tanyakan, walau bagaimanapun, Antonio tetaplah seorang anak kecil yang polos.


"Sabar dong sayang...mereka pasti masih di jalan...", jelas Aurora lembut.


"Bagaimana kalau Nio telpon saja...", sambung Aprilio tersenyum, bukannya marah, justru Aprilio iri dengan kedekatan putranya dan Felix.


"Memangnya tidak apa-apa Pa...", tanyanya polos.


"Tentu saja...siapa yang bilang tidak boleh Hm...", Aprilio mengusap kepala Antonio dengan lembut.


"Baiklah...Nio telpon Papa Felix dulu...", ujarnya antusias mengambil iPad nya.


Tut Tut Tut


Namun hingga beberapa kali, Felix tidak menjawabnya, membuat Antonio cemberut.


"Tidak di angkat", gumamnya.


"Mungkin Papa Felix sedang menyetir sayang...jadi tidak bisa menjawabnya...", ujar Auto menenangkan.


Hingga beberapa saat kemudian seorang bodyguard menghampiri ketiganya.


"Permisi Tuan...Tuan Nicholas sudah datang...", ujarnya sopan.


"Papa Felix datang...", Antonio bergegas turun dari sofa dan berlari ke arah pintu keluar.


"Nio...jangan lari-lari...", ujar Aurora mengingatkan, namun tidak dihiraukan oleh putranya itu, Aurora ingin beranjak, tapi Aprilio mencegahnya.


"Sudahlah biarkan saja...", sahut Aprilio, membuat Aurora menghela nafas panjang.


Tidak lama setelah itu, Antonio kembali dengan di gandeng Laura dan Nicholas di sisi lain nya, terlihat jika wajah Antonio tertekuk kecewa.


"eoh Nicho...Laura...kalian sudah datang...", ujar Aprilio.


"Kak Laura...Kak Nicholas...kalian hanya berdua saja... dimana Melinda dan Felix...", sambung Aurora dan Aprilio berdiri.


"Iya...kami hanya berdua saja...Melinda dan Felix akan menyusul kemari...", jawab Nicholas.


"Jadi...apa mungkin Nio buru-buru keluar tadi karena berpikir Felix yang datang tadi...", sambung Laura bertanya.


"Benar...", Aurora menatap ke arah Antonio yang sudah kembali duduk di sofa dengan menunduk cemberut.

__ADS_1


"Hey...Antonio tenang saja...Papa Felix dan Tante Melinda sedang dalam perjalanan kemari kok...", ujar Laura menghampiri Antonio.


"Benarkah...", ujar mengangkat kepalanya menatap Laura.


"Tentu saja...Aunty tidak akan berbohong...", ujarnya meyakinkan.


"Iya sayang...kita tunggu saja ya...", sambung Aurora.


"Kalau begitu ayo duduk dulu...kita berbincang sambil menunggu mereka...", ajak Aprilio, yang di angguki lainnya.


"Dimana Paman Dion...", tanya Nicholas sesaat setelah duduk.


"Papa masih ada di kamarnya...", jawab Aprilio singkat, Nicholas pun mengangguk mengerti.


Beberapa menit kemudian, seorang bodyguard kembali masuk seperti sebelumnya.


"Permisi Tuan...ada tamu di depan...seorang laki-laki dan perempuan...", ujarnya sopan.


"Oh mungkin itu Felix dan Melinda...", tebak Nicholas lebih dulu.


"Biarkan mereka masuk...", perintah Aprilio.


"Apa itu benar-benar Papa Felix...", tanya Antonio polos, membuat semua yang ada di sana saling pandang untuk sesaat, mereka tau jika Antonio takut salah lagi.


"Benar Nio...coba saja lihat kesana...", sahut Laura meyakinkan, Antonio pun mengangguk antusias dan segera berlari untuk menyambutnya, namun...


"Hay semuanya", sapa Melinda lebih dulu sesaat setelah masuk bersama Felix.


"Papa Felix", Antonio berlari ke arah Felix, dan di sambut pelukan oleh Felix.


"Nio...apa kabar sayang...Papa sangat merindukanmu...", ujar Felix memeluk Nio erat.


"Nio juga sangat merindukan Papa...", ujar bocah 5 tahun itu antusias.


"Benarkah...", tanya Felix melepas pelukannya, dan Antonio segera mengangguk berkali-kali menjawabnya. "... lihatlah...Papa bawakan apa untuk mu...", lanjutnya menunjukkan kantong makanan.


"Kue stroberi...", Antonio berbinar menatapnya, dan segera mengambil alih kantong itu.


"Jagoan...ajak Papa Felix nya duduk dulu...", suara Aprilio membuat keduanya mengalihkan pandangannya.


"oh iya...Nio lupa...maaf Pa...", jawabnya lucu, membuat semua orang tertawa.


"Ada apa ini...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2