
Felix baru saja selesai meeting dengan staf kantor, memasuki ruangannya dengan muka kusut, berjalan ke arah jendela kaca besar yang menujukkan pemandangan di luar, Felix akhirnya memutuskan untuk menghubungi seseorang.
Tut Tut
"Halo", Panggilan langsung di jawab oleh seseorang dari seberang.
"Bagaimana Nich...kau sudah tanya istri mu...apa Melinda menghubungi nya...", tanya Felix beruntun pada Nicholas.
"Katanya Melinda tidak menghubungi nya sama sekali... justru dia kebingungan saat aku tanya...parah nya lagi... saat aku bilang kalau kau yang tanya...istri ku langsung menebak kalau kalian bertengkar...benar ya...", omel Nicholas terdengar kesal.
"Ya...bisa di bilang begitu...", jawab Felix pasrah.
"Ada apa...apa masalah serius...", tanya Nicholas khawatir.
"Sebentar lagi jam makan siang...aku akan kesana... nanti aku ceritakan semuanya..."
"Oh oke"
Felix menutup panggilan nya, kemudian mengusap wajah nya frustasi, pikiran dan hatinya benar-benar kacau saat ini, menghela nafas berat, Felix ingin berbalik ke arah meja kerja nya, namun sesuatu menarik perhatiannya.
Felix mengernyitkan keningnya menajamkan pandangan nya, melihat seorang perempuan yang baru saja turun dari mobilnya...
"Oh akhirnya dia kembali", gumam Felix tanpa sadar saat melihat ternyata perempuan itu adalah Melinda. namun kembali di buat mengernyit heran saat seorang pria turun dari mobil di belakangnya dan menghampiri Melinda.
Felix semakin di buat terheran-heran saat melihat keduanya berbicara begitu akrab, bahkan saat pria itu menyerahkan ponselnya, Felix tau kalau itu berarti dia sedang meminta nomor ponsel Melinda, apalagi dengan senang hati Melinda memberikan nya.
__ADS_1
"Haah...sebaiknya aku menemui Nicholas saja...jangan sampai aku bertemu dengannya dan aku tidak bisa mengendalikan diri...", gumamnya sendu kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan nya.
Skip
tok tok
cklek
"Oh kau sudah datang...", sapa Nicholas lebih dulu saat melihat Felix yang tidak mengatakan apa-apa saat memasuki ruangan nya.
"Hm", jawabnya bergumam lirih lalu mendudukkan dirinya di sofa.
"Kenapa muka mu kusut sekali sih... seperti orang habis putus cinta saja...", goda Nicholas berdiri dari kursi kerjanya dan berpindah ke sofa.
"Entahlah Nich...aku sendiri yang mulai...tapi sekarang aku sendiri juga yang kepikiran...", jawab Felix menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Aku tau kalau Melinda ada perasaan pada ku...tapi seperti yang kau tau...saat ini...aku masih belum bisa move on dari Aurora...", jelas Felix.
"Belum kan...bukan berarti tidak bisa...iya kan...", sela Nicholas.
"Tentu saja...aku juga harus melanjutkan hidup ku...tidak mungkin stay di sini saja kan...", sambung Felix yakin.
"Itu kau tau... seharusnya kau coba buka hati untuk orang lain... meskipun bukan Melinda...itu tidak apa-apa...tapi kau juga harus katakan sejelas-jelasnya pada Melinda... agar dia tidak berharap lebih...", ujar Nicholas menasehati.
"Aku bukannya memberikan harapan padanya Nich...aku tulus ingin berteman dengan nya...selama ini Melinda juga tidak pernah membahas tentang perasaan dengan ku...kita berbicara selayaknya saja..."
__ADS_1
"Aku tau sekarang...kau bukannya tidak peka dengan perasaan Melinda...hanya saja kau tidak bisa menjauhi nya...karena itu akan menjadi canggung di antara kita semua...dan kau juga ingin berteman dengan Melinda seperti aku dan yang lainnya...iya kan...", jelas Nicholas bijak.
"Benar...sejak awal itu yang aku pikirkan...tapi justru aku melanggar nya sendiri...aku-
"Apa...apa maksud mu", sela Nicholas penasaran.
"Kemarin...aku berbicara dengan Ayah Melinda...beliau memberitahu ku...tentang alasan sebenarnya Melinda menjadi sekertaris ku..."
"Alasan apa lagi...bukankah Karena Aprilio memberinya gaji besar... matanya kan hijau kalau dengar uang banyak...", canda Nicholas mengejek Melinda, mungkin kalau ada Melinda disini, mereka akan langsung bertengkar.
"Bukan Nich... Ayahnya bilang...menjadi desainer adalah impian Melinda sejak dulu...dia juga bekerja keras untuk berada di posisi ini...jadi bagaimana mungkin dia rela melepaskan impiannya dan kerja kerasnya hanya untuk uang...", jelas Felix panjang lebar.
"Jadi maksud mu...Melinda setuju menjadi sekertaris mu... bukan karena tawaran Aprilio... tapi karena dirimu...", tanya Nicholas tidak percaya, namun Felix mengangguk mengiyakan.
"Itulah yang membuat ku semakin merasa bersalah... sejak kemarin perasaan ku tidak tenang... jadi aku menghindari nya agar aku bisa mengendalikan diri ku...", jelas Felix kali ini sedih.
"Jangan menghindari nya Lix... bicarakan baik-baik dengan Mel... luruskan semuanya... aku yakin...Mel tidak akan memaksamu untuk membalas perasaan nya ataupun menjadi kekasihnya...mungkin saja menurutnya... dekat dengan mu sebagai teman sudah lebih dari cukup...", Jelas Nicholas.
"Sepertinya begitu... karena saat tadi pagi dia menegurku karena menghindari nya sejak kemarin... dia bisa menebak jika itu karena pembicaraan ku dan Ayahnya... bukan kemarahan yang terlihat di matanya...tapi kekecewaan...dan saat aku melihatnya... rasanya ada sebuah tombak runcing yang menghujam dadaku...", jelas Felix sendu.
"Tentu saja...dia kecewa Lix...dia hanya ingin di sisi mu... membantu mu... meskipun hanya sebagai teman..."
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**