
keesokan harinya
Aurora sudah berada di kafe, walaupun sudah tau jika kafe itu miliknya, Aurora masih belum mau membawa kunci ataupun bertanggung jawab seutuhnya. jadi Melinda masih tetap datang seperti sebelumnya, begitupun dengan Aurora yang akan tetap bekerja setengah hari saja.
"eoh Lau- Kak Laura...kok kesini pagi-pagi" ujar Auto terkejut saat memasuki kafe, ada Melinda dan Laura yang tengah berbincang.
"panggil Laura saja... tidak apa-apa...kemarilah..." ujar Laura kemudian meminta Aurora duduk di sebelahnya. "ada yang ingin aku dan Melinda bicarakan dengan mu..." lanjutnya, tanpa banyak bertanya Aurora menurutinya.
"ingin bicara apa..." tanya Aurora setelah duduk, kedua sahabatnya itu saling pandang sesaat sebelum menjawab.
"apa kau marah pada kami..." tanya Melinda tiba-tiba, membuat Aurora mengernyit menatap keduanya bergantian.
"marah...maksudnya..." tanya Aurora kebingungan.
"beberapa hari ini...kata Melinda...kau lebih banyak melamun dan tidak banyak bicara...jadi...kami pikir kau marah pada kami..." jelas Laura, Aurora menghela nafasnya sebelum berbicara.
"aku tidak marah pada kalian...hanya...
"hanya apa..." potong Melinda tidak sabar, saat Aurora ragu-ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"tidak apa-apa...lupakan saja...yang penting aku bukan marah pada kalian..." jawabnya berbohong.
"Ra...aku tau kau belum mengingat semua tentang kami...
tapi...bisakah kau tetap menganggap kami teman...walau teman baru...kami bersedia mendengarkan semua cerita... atau apapun yang menggangu mu... percayalah pada kami..." ujar yang paling tua.
"sebenarnya...ada dua hal yang menggangu ku...yang pertama adalah masalah Felix..." perkataan Aurora membuat keduanya saling menatap heran. "sebelum bertemu kalian...Felix sempat mengajak ku menikah...dan aku meminta waktu untuk memikirkannya..." lanjutnya, membuat keduanya kali ini terkejut.
"Felix mengajak mu menikah...jangan bilang kalau-" Melinda tidak melanjutkan ucapannya, saat Aurora sudah mengangguk, seakan tau apa yang di maksud Melinda.
"sejak awal...aku bisa melihat dengan jelas... perasaan Felix pada Aurora...tapi aku tidak menyangka...jika dia sudah mengatakannya...aku pikir dia akan memendamnya saja..." jelas Laura panjang lebar.
"lalu... bagaimana dengan mu Ra..." tanya Melinda penasaran.
"selama 6tahun ini...Felix begitu baik pada ku...dan Antonius...menjaga melindungi...bahkan memberikan kehidupan yang layak untuk kami...tapi entah kenapa...hati ku tak tergerak sedikitpun..." jelas Aurora sedih. "hal itu yang membuat ku merasa bersalah padanya...hingga saat ini...aku masih belum bisa membalas kebaikan Felix dan ibunya... apalagi untuk memenuhi permintaan terakhir ibu Felix saja...aku masih ragu-ragu..." lanjutnya, Laura dan Melinda masing-masing mengusap lengan Aurora di sisi yang berbeda, untuk menenangkan.
"memangnya apa permintaan terakhir nya..." tanya Laura hati-hati.
"ibu Felix...ingin kami menikah... menikah yang sesungguhnya..." jawab Aurora mulai bergetar, Laura dan Melinda ikut sedih mendengarnya, tapi lebih tepatnya mereka bingung dan gelisah.
"apa...apa kalian menyetujui nya..." Aurora menggeleng lemah menjawab pertanyaan Melinda.
"kami...belum sempat menjawab...namun beliau sudah pergi lebih dulu..." jelas Aurora terisak, Melinda segera berdiri untuk memeluk Aurora, begitupun Laura yang langsung mengusap-usap punggung Aurora.
"tenanglah Ra...kau coba bicarakan dulu masalah ini dengan Felix..." ujar Laura menenangkan.
__ADS_1
"benar...Felix orang yang baik...dia tidak akan memaksamu untuk menikah dengan nya..." sambung Melinda, Laura mengangguk menyetujui.
"sudah" ujar Aurora masih terisak, membuat kedua sahabatnya itu refleks menatapnya bersamaan.
"lalu... apa yang dia katakan...eh tunggu dulu...aku ambilkan minum...kau tenang kan diri dulu... setelah itu ceritakan semuanya..." ujar Melinda antusias dan bergegas ke dapur mengambil minum.
beberapa saat kemudian Melinda kembali dengan membawa 3gelas air putih, dan meletakkannya di depan mereka masing-masing.
"air putih saja...biar cepat..." ucapan Melinda yang blak-blakan membuat Laura terkekeh, bahkan Aurora sampai tidak bisa menahan senyumnya.
Setelah meminum air yang di ambilkan Melinda, Aurora mulai menceritakan pembicaraan nya dengan Felix semalam.
Beberapa Jam kemudian
Di Perusahaan A
"Laura sedang ke kafe untuk menemui Aurora...dia tidak tahan ingin menanyakan kepada Aurora..." ujar Nicholas pada Felix yang berada di depannya. mereka sedang menyiapkan materi untuk meeting, sejak beberapa menit yang lalu.
"aku juga sudah berbicara dengan Aurora semalam...dia tidak marah...dia hanya bingung...bingung harus bersikap bagaimana...terutama pada ku..." jawab Felix jujur.
"kenapa..."
"sebelumnya...aku pernah mengajak Aurora untuk menikah...tapi dia meminta waktu untuk berpikir...dan saat dia mengetahui masa lalu nya...yang otomatis juga membawanya bertemu dengan Ayah kandung Antonio...dia pikir... hal itu akan menyakiti perasaan ku..." jelas Felix panjang lebar, Nicholas mengangguk mengerti dengan penjelasan Felix.
"aku mengerti...dan walaupun aku baru bertemu dengan mu...aku bisa melihat kalau kau bukan tipe orang yang akan mementingkan diri sendiri...di bandingkan orang lain... apalagi orang itu adalah orang yang kau sayangi...iya kan..." penjelasan Nicholas, membuat Felix terkekeh.
"sudah sudah... sebaiknya kita berangkat ke Perusahaan Moon... setidaknya kita harus memberikan kesan pertama yang baik..." ajak Nicholas.
"tunggu sebentar...apa kau yakin tidak akan ada yang mengenali ku... bagaimana kalau ternyata...anak dari pemimpin itu mengenaliku..." tanya Felix khawatir.
"tenang saja...kau terlihat sangat berbeda saat ini...dia tidak akan mungkin mengenali mu..." jawabnya santai.
"benarkah..." tanya Felix masih ragu-ragu.
"kau tidak percaya..." Felix menggeleng pelan, "baiklah...tunggu sebentar..." lanjutnya mengeluarkan ponselnya. "berdirilah..." meskipun bingung, Felix tetap mengikuti perintah Nicholas.
"kenapa kau memotret ku..." protes Felix saat Nicholas langsung mengambil fotonya.
"sudah...diam lah...dan tunggu..." jawab Nicholas sambil fokus dengan ponselnya. namun beberapa saat kemudian dia tersenyum dan terkekeh. "lihatlah..." ujarnya menunjukkan ponselnya yang menampilkan sebuah pesan dari seseorang.
"kau mengirimkan foto ku pada siapa..." tanya Felix curiga, namun Nicholas malah terkekeh.
"Melinda..." jawab Nicholas jujur.
"kenapa ke Melinda... tidak ke Aurora saja...atau Laura begitu..." tanya Felix beruntun.
__ADS_1
"enak saja ke istri ku...aku tidak mau dia menyimpan foto laki-laki lain selain aku..." jawaban Nicholas membuat Felix berdecak malas (cemburuan sekali). "kalau ke Aurora... dia pasti akan mengenali mu...secara kan... kalian sudah mengenal selama 6tahun..." lanjutnya yakin, sekarang Felix hanya mengangguk mengerti.
"tapi-
kriiing
ucapan Felix terhenti saat ponsel Nicholas berdering, dan menampilkan nama Melinda disana, membuat Nicholas terkekeh sambil menunjukkan pada Felix.
"halo" sapa Nicholas menahan tawa.
"siapa itu...tampan sekali...dan kenapa kau mengirimkannya fotonya pada ku...tapi...wajahnya familiar... seperti pernah bertemu..." Melinda bertanya beruntun dari seberang sana.
"tentu saja kau pernah bertemu...kau kan mengenalnya"
jawab Nicholas sambil menaikan alisnya menatap Felix.
"benarkah...siapa" suara Melinda terdengar begitu penasaran.
"kau sungguh tidak mengenalinya..." Nicholas justru berbalik bertanya, terdengar Melinda berdecak malas dari seberang sana.
"ck...kalau aku tau...aku tidak akan bertanya pada mu..." jawab Melinda kesal, membuat Nicholas semakin terkekeh, menurut nya seru menggoda dan membuat Melinda kesal, bahkan jika bertemu, suami Laura itu, tidak pernah akur dengan Melinda. bukan bertengkar sungguhan, tapi sekedar saling mengejek.
"dia itu Felix Mel...masa kau tidak mengenalinya..." jawab Nicholas tertawa terbahak-bahak.
"tidak mungkin...kau pasti berbohong..." Melinda terkejut tidak percaya
"beneran Mel...kenapa kau terdengar kecewa begitu...jangan bilang kalau kau jatuh cinta hanya dengan melihat foto itu saja...Hm" Nicholas habis-habisan menggoda Melinda.
"aish... menyebalkan"
Melinda memutuskan panggilan lebih dulu, hal itu semakin membuat Nicholas tertawa, namun berbeda dengan Felix yang hanya menggeleng kan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah Nicholas yang seperti anak kecil.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
Terima kasih yang sudah mampir ke cerita ku,
jangan lupa klik like jika suka
komentar jika ada saran atau yang lain nya
dan bantu share agar yang lain bisa ikut baca
__ADS_1
sekali lagi Terima Kasih