
"Caranya..."
"akh...",
Aprilio mendorong tubuh Aurora hingga terlentang di sofa dengan dia yang berada di atasnya, tentu saja hal itu membuat Aurora terkejut
"A-apa yang kamu lakukan...", tanya Aurora gugup sambil mencoba mendorong tubuh Aprilio, namun tidak bergeser sama sekali.
"Membuktikan...jika perempuan lain tidak boleh menyentuhku... tapi kalau kamu...aku rela menyerahkan diri kepada mu dengan cuma-cuma...", goda Aprilio frontal, membuat pipi Aurora merona mendengar nya.
"Lio...aku-
"Kamu tidak bisa menolak...ingat apa yang kamu katakan tadi...", sela Aprilio memotong ucapan Aurora.
"Ta-pi...aku belum mandi...", elak Aurora
"Kita bisa mandi nanti...percuma mandi sekarang...nanti juga mandi lagi...", goda Aprilio lagi.
"ah itu...aku harus menyiapkan makan malam...", coba Aurora lagi mengelak.
"Banyak maid di rumah ini...kamu tidak perlu repot-repot turun tangan...apalagi kau akan jadi nyonya rumah di sini...", jelasnya santai, lagi-lagi membuat Aurora merona, dan langsung memalingkan wajahnya.
"A-ku mau lihat Nio... takutnya dia sudah bangun...", lagi-lagi Aurora mencari alasan.
"Tidak mungkin...Nio kan anak yang pintar...dia tidak akan mengganggu waktu kita...", ujar April percaya diri.
"Tapi...mmhh-
Aprilio langsung membungkam bibir Aurora dengan bibirnya, meski awalnya terkejut, namun selanjutnya Aurora terhanyut oleh gerakkan bibir Aprilio yang lembut.
hingga tangan Aprilio mulai berani perlahan bermain di setiap bagian tubuh Aurora.
Aurora yang merasakannya, segera menepuk pelan dada Aprilio agar berhenti, dengan berat hati Aprilio terpaksa menghentikannya, menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah perempuan yang dia cintai, Aprilio semakin di buat gila saat melihat Aurora juga tengah menatapnya dengan nafas yang terengah-engah dan bibir memerah.
Beberapa saat mereka terhanyut memandang mata masing-masing, Aprilio pun sudah tidak sabar dan ingin menyatukan kembali bibirnya, namun Aurora lebih dulu menahan dadanya.
"Kenapa..."
"Ja-ngan sekarang...", jawabnya Aurora membuat Aprilio tersenyum, walaupun Aurora menolak saat ini, tapi jawabannya seakan memberitahu jika Aprilio bisa melakukannya nanti.
"Takut waktunya cuma sebentar ya...baiklah...nanti malam saja...", jawaban Aprilio membuat Aurora tersadar jika jawabannya tadi adalah kesalahan, dan akan membawanya pada kegilaan seorang Aprilio.
"Bu-kan itu maksud ku...", elak Aurora.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak setuju nanti malam...aku akan melanjutkannya sekarang...", ancam Aprilio main-main.
"Jangan Lio...", tolak Aurora, namun Aprilio semakin mencium seluruh wajahnya bergantian, hingga sampai di bagian bibir...
toktok
Aprilio berdecak kesal menjauhkan wajahnya, kemudian menatap tajam ke arah pintu yang tertutup.
"Ada apa", pekiknya kesal.
"Maaf Tuan...Tuan Besar memanggil anda...", jawab suara seorang pria dari luar, sepertinya itu suara dari asisten Tuan Dion.
"Ya...nanti aku kesana...", namun bukan beranjak, Aprilio malah menatap Aurora dengan intens.
"Lio...kenapa kamu tidak pergi...cepat pergi...kamu di panggil Papa mu...", ujar Aurora sedikit lega.
"Aku tidak akan pergi... sebelum kamu berjanji...", jawabnya kembali menciumi wajah Aurora dan sekarang tangannya ikut menggelitiki pinggang Aurora.
"Tuan...anda di tunggu sekarang di ruang kerja...", suara asisten Tuan Dion kembali terdengar, membuat Aprilio menghentikan apa yang dia lakukan, lalu menghela nafas kesal.
"Lio...sana pergilah...", ujar Aurora mengusap pipi Aprilio yang terlihat kesal dan cemberut, Aurora terkekeh kemudian, "...aku janji...tapi-
"Tidak ada tapi-tapian...kamu sudah janji... tidak boleh di ingkari...", ujar Aprilio cepat dengan beranjak pergi tanpa menunggu Aurora melanjutkan ucapannya. "...aku pergi menemui Papa dulu...", lanjutnya menghilang di balik pintu.
Di Sisi Lain
toktok
"Papa memanggil ku...", tanya Aprilio setelah membuka pintu ruang kerja Tuan Dion, sesudah mengetuk pintu terlebih dulu, membuat Tuan Dion yang tengah fokus membaca, beralih menatapnya.
"Ya...ada yang mau Papa tanyakan padamu...", jawab Tuan Dion menutup buku yang dia baca.
"Masalah apa...", Aprilio berjalan ke arah sofa dan duduk berseberangan dengan sang Papa.
"Tadi pengacara menghubungi Papa... katanya kau memintanya membuat perjanjian jual beli rumah di desa...apa benar...", tanya Tuan Dion to the poin.
"Oh masalah itu...", Aprilio mengangguk santai, "...benar...aku memang memintanya membuat surat itu...tapi kenapa dia harus melaporkannya pada Papa...", lanjutnya sedikit tidak senang.
"Bukan begitu...pengacara hanya takut kalau kau di bohongi seseorang... karena katanya kau membeli rumah dengan harga mahal hanya untuk sebuah rumah di desa... yang harga sebenarnya mungkin jauh di bawah itu...", jelas Tuan Dion panjang lebar.
"Ya aku tau... karena berapapun harga yang di tawarkan pemilik rumah itu...aku akan bayar...", jawab Aprilio kekeh.
"Kenapa... memangnya rumah siapa...sampai kau seperti ini...", tanya Tuan Dion penasaran, karena putranya sampai bersikeras seperti itu.
__ADS_1
"Rumah Felix..."
"Felix...", Tuan Dion mengernyitkan keningnya tidak menyangka.
"Ya...rumah itu adalah rumah yang ditinggali Aurora dan Antonio selama 6tahun ini bersama ibu Felix...tapi beberapa bulan yang lalu...ibu Felix meninggal dan mereka harus menjualnya untuk membayar hutang...dan mereka memutuskan pindah ke kota ini...", jelas Aprilio sendu, membuat Tuan Dion ikut merasakan bagaimana kehidupan yang di hadapi cucunya selama ini.
"Lalu apa rencana mu...", tanya Tuan Dion.
"Aku ingin membantu memajukan desa itu...tapi aku masih belum tau seperti apa...yang pasti...aku ingin memberikan sedikit bantuan untuk mereka sebagai modal usaha...agar tidak ada lagi yang terjerat hutang sampai harus menjual rumah mereka... seperti apa yang di lakukan Felix...walau bagaimanapun...rumah mereka pasti adalah harta yang sangat berharga bagi mereka...", jelas Aprilio serius panjang lebar, melihat keseriusan putranya, Tuan Dion akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Sepertinya...keputusan mu sudah bulat...kau pasti tidak akan peduli jika Papa tidak menyetujuinya...", ujar Tuan Dion menyandarkan tubuhnya.
"itu Benar...dan Papa jangan khawatir...aku tidak akan memakai uang perusahaan...",
"Bukan masalah itu Lio...kau kan baru mengenal mereka... bagaimana kalau ternyata kau di khianati... meskipun tak seberapa...tapi dalam hal seperti ini... kepercayaan itu penting...", kali ini Tuan Dion yang menjelaskan dengan serius.
"Aku tau Pa...tapi warga desa bukan hanya 1 atau 2 orang saja...ya...walaupun nanti ada satu yang berkhianat...tapi bukan berarti semuanya juga sama kan...", jelas Aprilio optimis.
"Baiklah...apa yang kau katakan benar... jadi...Papa akan mendukungnya...dan kalau kau membutuhkan bantuan apa-apa...bilang saja pada Papa... mengerti...", ujar Tuan Dion akhirnya menyetujui.
"Tentu saja Pa... terima kasih untuk semuanya...",
"Hm...oiya...di mana cucu ku...aku belum melihatnya seharian ini...", tanya Tuan Dion.
"oh Nio masih tidur...nanti makan malam Papa pasti bertemu dengannya...", jawab Aprilio.
"Kalau begitu... setelah makan malam...biarkan Papa bermain dengan Nio...kau jangan menganggu...", ujar pria paruh baya itu antusias.
"Iya iya... nanti aku akan minta Nio menemani Papa setelah makan malam...", jawab Aprilio beranjak. "...kalau begitu...aku kembali ke kamar dulu...aku mau bersih-bersih...", lanjutnya melangkah pergi.
"Kenapa sepertinya kau semangat sekali kalau Nio bersama Papa nanti huh...", tanya Tuan Dion.
"Biasalah Pa anak muda...masa tidak tau...", jawab Aprilio berhenti, namun tidak berbalik sedikitpun.
"Kau sudah punya anak... tidak muda lagi...", ejek Tuan Dion dengan terkekeh.
"Tapi aku masih kuat memberi Papa beberapa cucu lagi...", ujarnya sambil melenggang pergi meninggalkan Tuan Dion yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1