
Setelah dari kafe, Aurora dan yang lain kembali berkumpul di rumah Melinda. perempuan sahabat Aurora itu ingin menunjukkan semua barang Aurora yang dulu berada di asrama kampus, Melinda yang menyimpan semuanya sejak saat itu, bahkan saat Melinda merindukan Aurora, dia akan membuka dan melihat nya untuk pengobatan rindu.
Dan satu hal lagi masalah yang ingin Aurora tau, yaitu masalah keluarga nya atau lebih tepatnya keluarga Moon. apa yang terjadi dan bagaimana keluarga nya, Aurora ingin tau semuanya.
"A-apa maksudmu... kecelakaan Ayah ku... adalah rencana paman ku..." tanya Aurora terkejut tidak menyangka setelah mendengar penjelasan dari Melinda.
"Bukankah itu sudah jelas...kalau tidak... bagaimana tiba-tiba semua harta kekayaan Ayah mu bisa jadi milik paman mu..." jelas Nicholas.
"benar Ra... kalaupun Ayah mu ingin mewariskan kekayaan nya... tentu saja buat kamu...anak satu-satunya...bukan Paman mu... apalagi kecelakaan itu juga mencurigakan..." sambung Laura ikut menjelaskan.
"ba-bagaimana mereka bisa tega seperti itu..." ujar Aurora bergetar sedih, Antonio segera memeluk ibu nya untuk menenangkan.
"makanya Ra... Nicholas meminta ku untuk membantu mu mendapatkan kembali perusahaan Moon..." jelas Felix.
"caranya..." tanya Aurora.
Felix dan yang lain menceritakan semua rencana mereka, sebelumnya Aurora memang takut dengan masa lalunya, tapi setelah mendengar penjelasan dari yang lain, Aurora merasa jika dia benar-benar harus merebut hak nya kembali, dia yakin Ayah nya tidak akan tenang di alam sana jika melihat jerih payahnya yang dia bangun dari nol dengan susah payah, di rebut oleh keserakahan orang lain, sekalipun itu adalah adiknya, sedangkan putri satu-satunya hidup dalam kegelapan tak mengingat apapun.
Keesokan harinya
Aurora mengusap bergantian dua Nisan yang berada di depannya. Aurora tidak sanggup berkata-kata, tapi air matanya mengalir dengan mudah, bahkan dadanya terasa sakit, seperti ada luka atau sesuatu yang menusuk, hingga tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
"ma-af..." lirih Aurora bergetar setelah lama berdiam, bahkan air matanya sudah mengalir deras, Felix dan Antonio yang datang bersama Aurora, memilih untuk memberi ruang dan waktu untuk Aurora, agar bisa menumpahkan segala yang dia rasakan saat ini. mereka berdua hanya melihat dari kejauhan.
"Ka-lian... pasti kecewa pada ku...a-ku tidak ingat apa-apa... bahkan tentang ka-lian...maafkan aku..." Aurora bersimpuh menunduk meremas baju nya, hatinya terasa sakit sekali, walaupun dia masih belum mengingat apapun.
"a-aku janji...aku akan cepat sembuh...Ayah dan Ibu jangan khawatir... setelah itu...aku akan merebut semua milik Ayah yang di ambil paman...aku janji..." jelas Aurora sendu, masih dengan isakan kecil.
"aku juga akan membalas apa yang menimpa Ayah...aku akan membongkar kejahatan mereka...aku janji..." ujar Aurora mulai di liputi amarah.
"Ayah dan ibu tenang saja...aku akan baik-baik saja...ada banyak orang yang menyayangi ku...dan mereka akan membantu ku..." Aurora menatap ke arah Felix dan Antonio yang tengah berdiri juga menatapnya, kemudian tersenyum dan di balas sama oleh keduanya.
"Ayah dan ibu pasti sudah bertemu dengan Antonio...dia putra ku yang pintar...dia masih berusia 5tahun...tapi pikiran nya lebih bijak di bandingkan aku...lalu Felix... dia pria yang menolong ku 6tahun lalu...dia juga yang memberiku kehidupan baru seperti keluarga... dia tidak pernah meminta balasan apapun...dan aku belum bisa memberikan apapun untuk nya... sekalipun hatiku... yang bahkan tidak tergerak sedikitpun dengan kebaikan nya selama ini...aku sudah mengganggap nya seperti keluarga... seperti saudara ku sendiri..." cerita Aurora panjang lebar kemudian tersenyum, hatinya sedikit lega setelah menceritakan keadaan nya.
__ADS_1
Malam hari
Aurora berada di kamar Antonio, setelah makan malam tadi, Aurora meminta bantuan kepada Antonio untuk mencari informasi tentang perusahaan Moon, dan keluarga pamannya saat ini secara diam-diam.
Melinda sudah menceritakan semuanya tentang diri Aurora dulu, kebiasaan hingga hal-hal tentang keluarga Moon dulu, tapi untuk 6tahun ini Melinda tidak tau apapun, jadi Aurora ingin mencari informasi dari data perusahaan ataupun rumahnya yang kini di tinggali paman nya, Aurora ingin mencari bukti.
"jadi maksudnya...Mama ingin meretas CCTV mereka... untuk menyadap pembicaraan mereka..." tanya Antonio memastikan yang di angguki Aurora.
"tapi Ma...ini sudah 6tahun mama menghilang...dan 7tahun kejadian kecelakaan itu...mereka tidak mungkin membahas hal ini lagi... mereka pasti akan menutup rapat-rapat semua yang berkaitan dengan masalah itu..." jelas Antonio pintar, Aurora terdiam sejenak.
"iya sih...tapi... mungkin kita bisa mendapatkan sesuatu yang bisa menjatuhkan mereka...entah apapun itu..." jawab Aurora, membuat Antonio berpikir sejenak.
"begini saja... bagaimana...sambil kita retas CCTV mereka...kita juga beri mereka sedikit-sedikit teror hingga mereka tidak tenang...dan akhirnya mengakui sendiri perbuatan mereka..." jelas Antonio yakin.
"teror seperti apa..." tanya Aurora penasaran.
Keesokan harinya
Memantapkan hati, kembali memeriksa penampilannya yang sudah sedikit di ubah, Hin tidak ada yang mengenalinya. Aurora perlahan berjalan hingga melewati pintu masuk dan mendekat ke arah resepsionis.
"permisi" ujar Aurora
"selamat pagi...ada apa bisa saya bantu..." balas resep itu ramah.
"selamat pagi...maaf mengganggu...bisa saya bertemu dengan tuan Johnny Moon..." tanya Aurora setenang mungkin, namun masih membuat resepsionis itu mengernyit bingung.
"Johnny Moon...em maaf...disini tidak ada yang bernama Johnny Moon..." jawab resepsionis.
"oh benarkah...tapi beberapa hari yang lalu...saya di beri kartu nama oleh seseorang..." Aurora menyerahkan sebuah kartu nama, hal itu semakin membuat resepsionis kebingungan.
"mungkin ini palsu mbak...jadi maaf tidak ada yang bernama Johnny disini..." jelas resepsionis
"lalu...siapa nama pimpinan disini... bukankah marga nya sama-sama Moon...mungkin mereka masih keluarga...coba tanyakan dulu..." tanya Aurora sedikit memaksa.
__ADS_1
"tapi anda harus membuat janji lebih dulu sebelum menemui pimpinan..." tolak resepsionis itu lembut.
"oh begitu ya...tolong saja tanyakan...apa pimpinan anda mengenal Johnny Moon...atau tidak... setelah itu saya akan pergi..." ujar Aurora santai. setelah berpikir sejenak, akhirnya resepsionis itu segera mengambil gagang telepon dan menelpon seseorang.
Beberapa saat kemudian
resepsionis itu sempat mengernyit heran sebelum akhirnya dia meletakkan kembali gagang telepon nya.
"bagaimana..." tanya Aurora
"em... pimpinan mengatakan jika beliau tidak mengenal oleh bernama Johnny Moon..." jelas resepsionis itu.
"itu saja...dia tidak mengatakan yang lain..." Aurora kembali bertanya, membuat resepsionis itu sedikit gugup dan bingung.
"tidak...em tapi katanya...selanjutnya...anda ataupun orang yang berhubungan dengan Johnny Moon di larang memasuki perusahaan ini lagi..." jawab resepsionis itu jujur.
"bukankah itu aneh... bilang nya tidak kenal...tapi malah melarang masuk..." ujar Aurora heran.
"iya...tapi saya hanya menyampaikan sesuai yang di katakan pimpinan saja..." jelas resepsionis itu, Aurora mengangguk mengerti, tidak ingin memberikan masalah untuk resepsionis yang tidak bersalah itu.
"baiklah... terima kasih..." ujar Aurora kemudian beranjak dari sana.
Disisi lain
Seorang pria paruh baya sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah setelah menerima telepon dari resepsionis, namun kemudian segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"cari dan hapus semua bukti atau informasi masalah kecelakaan kakak ku 7tahun lalu... sekarang juga..."
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1