
toktok
Felix mengetuk sebuah rumah sederhana di sebuah desa, akhirnya setelah beberapa jam perjalanan udara dan darat, Felix sampai di rumah seseorang yang mungkin mengetahui apa yang terjadi pada Aurora 6tahun lalu. beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya membuka pintu dan tersenyum ramah.
"maaf...cari siapa ya..." tanyanya ramah.
"iya...maaf menganggu...saya mencari Cindy Claudia...apa benar ini rumah nya..." tanya Felix sopan.
"oh benar...tapi Indy nya sedang kerja...dia pulang nanti jam makan siang..." jelas wanita paruh baya itu jujur.
"tidak ada ya...tapi saya ada kepentingan dengan Cindy..." ujar Felix menjelaskan.
"kalau begitu...nanti kembali lagi saja..."
"tapi saya dari luar kota Bu...saya tidak ada tempat tujuan selain kemari..." jelas Felix lagi.
"astaga...kasihan sekali... bagaimana kalau menunggu di dalam saja...saya buatkan minum..."
"oh tidak tidak Bu... terima kasih...kalau boleh saya tau... Cindy bekerja dimana ya..." tanya Felix berhati-hati.
"apa kamu akan mencarinya..." Felix mengangguk menjawab pertanyaan wanita itu baya itu. "kalau begitu... kamu bisa pergi ke arah jalan besar... di ujung jalan sana ada sebuah toko serba ada... Cindy bekerja disana..." jelasnya sambil menunjukkan, Felix mengangguk mengerti.
"baiklah kalau begitu... teringat kasih Bu...maaf merepotkan..." ujar Felix tulus
"tidak apa-apa... berhati-hatilah..." Felix membungkuk sejenak sebelum beranjak dari sana.
Beberapa menit kemudian
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Felix menemukan sebuah toko yang di maksud wanita paruh baya tadi, dari luar Felix bisa melihat jika keadaan toko sedang ramai, dan Felix juga bisa melihat seseorang yang dia cari memang ada disana.
Setelah beberapa saat menunggu, keadaan toko sudah cukup sepi. tanpa pikir panjang, Felix segera memasuki toko itu, perlahan tapi pasti, Felix menghampiri seorang perempuan yang tengah sibuk merapikan beberapa barang di salah satu rak.
"Nona Cindy Claudia" panggil Felix, membuat perempuan itu refleks beralih menatapnya, namun kemudian mengernyit heran saat di rasa tidak mengenal Felix.
"iya...siapa kau..." tanyanya to the points
"saya Felix Yang...bisa kita bicara sebentar..." ujar Felix ramah.
"bicara apa...aku tidak mengenal mu..." ujar Cindy balik bertanya.
"anda memang tidak mengenal saya...tapi anda pasti mengenal mereka..." jawab Felix sambil menunjukkan foto Aurora dan Aprilio, perempuan itu sempat terkejut sejenak, namun kemudian mengubah ekspresi setenang mungkin.
__ADS_1
"a-aku tidak mengenal mereka..." jawabnya berbohong.
"benarkah...saya punya semua informasi tentang anda...dan bukti-buktinya..." ucap Felix santai, namun membuat Cindy menegang ketakutan.
"sebenarnya...apa yang kau inginkan...", tanya Cindy dengan nada lebih rendah.
"ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada anda...bisa kita bicara di tempat lain..." Cindy terdiam sejenak dan berpikir, namun kemudian menatap sekeliling.
"baiklah... tunggu saya di kedai seberang jalan...saya akan kesana setelah meminta ijin..." ujar Cindy berbisik, dan langsung berbalik pergi meninggalkan Felix.
Skip
"jadi apa yang ingin kau tanyakan..." ujar perempuan bernama Cindy itu tanpa basa basi saat baru saja samping dan duduk berseberangan dengan Felix.
"apa anda tidak ingin pesan apa-apa..." Felix masih berusaha mempertahankan sikap sopan nya, sekalipun perempuan di depannya ini menyebalkan.
"tidak perlu... langsung saja...", tolaknya cepat.
"baiklah...saya akan to the points...apa anda mengetahui sesuatu yang terjadi 6tahun lalu di apartemen...", tanya Felix langsung, tubuh Cindy menegang dan dia terdiam sejenak, sebelum kembali lagi merubah ekspresi nya.
"me-mang apa yang terjadi...", walaupun berusaha bersikap tenang, namun dari nada bicaranya yang terbata membuat Felix yakin jika perempuan itu mengetahui sesuatu. Felix akhirnya menghembuskan nafas berat sebelum kembali berbicara.
"entah anda tau atau tidak...kejadian 6tahun lalu...pada tanggal xx bulan xx pukul xx malam... adalah kejadian pembunuhan berencana...jika semua terbongkar...anda bisa saja ikut terseret...", ucapan Felix membuat Cindy melotot tak percaya.
"entahlah..." jawab Felix santai, Cindy menutup wajahnya frustasi.
"tunggu dulu... jelaskan dulu apa maksud mu dengan pembunuhan berencana itu...", tanyanya setelah menenangkan diri.
"oke...saya jelaskan..."
Disisi lain
Setelah mendapatkan kabar dari luar negeri tentang kejelasan kecelakaan yang menimpanya bersama Nicholas 6tahun lalu, Aprilio buru-buru pergi meninggalkan ruangan nya ingin menemui Aurora, tidak! bukan bertemu, ini belum saatnya.
Dan disinilah Aprilio sekarang, sudah hampir 1jam dia di dalam mobilnya yang dia parkir tepat di seberang kafe Aurora, dari luar dia bisa melihat bagaimana Aurora bekerja, hingga tanpa sadar membuat nya tersenyum.
"dulu maupun sekarang...kau tetap pekerja keras Ra..." gumamnya sendiri.
Hingga beberapa saat kemudian, Aprilio melihat Aurora keluar dari kafe, dan pergi. tanpa pikir panjang Aprilio membuntutinya. dan ternyata, Aurora pergi menjemput Antonio.
Dari kejauhan, Aprilio bisa melihat Antonio berlari ke arah Aurora, begitupun sebaliknya, lalu mereka berpelukan dan tertawa. Aprilio bisa melihat dengan jelas, bagaimana kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya. rasanya, Aprilio ingin turun dan memeluk keduanya.
__ADS_1
Sepanjang jalan Aurora dan Antonio bergandengan tangan, terlihat bagaimana Antonio bercerita dengan antusias, dan Aurora akan mendengarkannya dengan senang hati. Aprilio meremas stir mobilnya dan mengeraskan rahangnya menahan amarah dan dendamnya pada orang-orang yang sudah membuat nya dan Aurora terpisah dulu. kalau tidak, mungkin 6tahun ini, dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya.
Di kafe
"sayang...kau yakin mau disini...tidak lelah..." tanya Aurora sambil membawanya segelas minuman untuk Antonio yang sekarang sudah duduk di salah satu yang berada di sudut ruangan.
"tidak Ma...aku tidak lelah..." jawabnya menerima minuman dari Aurora.
"baiklah...Mama akan buatkan makanan untuk mu dulu ya...", ujar Aurora mengusap kepala putranya.
"iya Ma...", Antonio mengangguk mengerti.
Setelah melihat Aurora kembali ke dapur, Antonio meminum minuman nya sedikit, lalu beranjak turun dari sofa dan melangkah keluar.
Keluar dari pintu kafe, Antonio melihat ke arah sebuah mobil dan tersenyum, tebakannya benar, yang membuntuti mereka sejak dari sekolah, atau mungkin sejak sebelum nya adalah Aprilio.
Ayah kandungnya itu mungkin ingin menemui mereka, namun tidak bisa. jadi Antonio berjalan mendekati mobil Aprilio yang untungnya tidak berada di seberang jalan, hanya beberapa meter dari kafe. Antonio bisa melihat, Aprilio sedang membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang di lipat di atas stir mobil, jadi dia tidak menyadari jika ada Antonio.
toktok
Aprilio mengangkat kepalanya saat mendengar ada seseorang di mengetuk kaca mobilnya. namun kemudian membulatkan matanya terkejut karena ternyata itu Antonio. dia tidak menyangka jika akan ketahuan oleh putranya, atau jangan-jangan Aurora juga menyadari nya sejak tadi.
"oh Antonio" sapa Aprilio setelah membuka pintu mobil dan keluar.
"hai Paman...apa yang Paman laki disini..." tanya Antonio polos.
"oh a-e itu...pa-man akan pergi makan siang...tapi saat di jalan...kepala paman pusing... makanya paman Istora sebentar disini...", jawabnya berbohong.
"oh begitu...jadi Paman belum makan siang..." Aprilio menggeleng lemah menjawab pertanyaan Antonio. "kalau begitu...paman makan siang di kafe itu saja..." lanjutnya menunjuk kafe Aurora.
"tidak tidak" jawabnya cepat
"kenapa...apa karena kafe nya kecil..." tanya Antonio polos.
"bukan...bukan begitu...em Paman-
"Antonio" ucapan Aprilio terhenti saat mendengar seseorang memanggil Antonio.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**