
"Benar-benar ya...kalau begitu...saat peluncuran besok...aku akan sekalian umumkan pernikahan ku dan Aurora seminggu lagi...", ujar Aprilio kesal sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa, Aurora membulatkan matanya terkejut.
"Lio... tenanglah... jangan terburu-buru seperti itu...", ujar Aurora menenangkan.
"Aku tidak terburu-buru...aku sudah menyiapkan semuanya... sekarang hanya perlu mengubah waktunya saja...", jawab Aprilio yakin. "... bagaimana menurut Papa...", lanjutnya.
"Kalau Papa terserah padamu apapun itu...tapi yang terpenting adalah kau minta persetujuan Aurora... mau bagaimanapun...dia yang akan menikah dengan mu...dan apa dia sudah siap untuk menjadi pusat perhatian...", jelas Tuan Dion bijak, Aurora merasa tersentuh, ternyata selama ini Tuan Dion perhatian padanya.
"Sayang... tidak apa-apa kan...kamu setuju kan dengan rencana ku...", ujar Aprilio merayu.
"Lio...kalau menurut ku... bukankah lebih baik aku mengumumkan masalah Keluarga ku dan Travel Moon lebih dulu..."
"Kenapa seperti itu...", tanya Aprilio.
"Karena kalau semua orang sudah tau siapa aku... setidaknya mungkin mereka sedikit bisa menganggap ku pantas berdiri di samping mu...dan tidak membuat mu dan keluarga mu malu...", jelas Aurora hati-hati, diam-diam Tuan Dion tersenyum, merasa takjub dengan apa yang Aurora pikirkan.
"Papa setuju...Papa mengerti maksud Aurora...ciptakan kesan baik dulu... setelah itu umumkan pernikahan kalian...mau bagaimanapun orang pasti akan bergunjing saat tau kau tiba-tiba akan menikah...dan bahkan sudah memiliki seorang putra berusia 5tahun...terkadang orang-orang tidak akan peduli kisah di balik sebuah masalah...tapi mereka peduli dengan rasa kekecewaan mereka terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka...", jelas Tuan Dion yang di angguki setuju oleh Aurora.
"Bukankah kita tinggal katakan saja apa yang sebenarnya terjadi..."
"Papa tau Lio...tapi Aurora itu ingin menunjukkan atau memperkenalkan dulu dirinya pada semua orang... takutnya...kalau kau mengumumkan pernikahan kalian sekarang...semua akan berpikir siapa Aurora...darimana asal usul nya...semua orang akan meremehkan Aurora atau bahkan menganggap Aurora perempuan yang hanya ingin harta mu dan sengaja mendekatimu dengan membawa seorang putra... bukankah itu juga berdampak pada Nio nantinya... begitukan Ra...", jelas Tuan Dion kemudian bertanya pada Aurora yang terkejut sejenak namun kemudian mengangguk.
"Benarkah begitu Ra...", tanya Aprilio serius, Aurora pun menjawabnya dengan mengangguk lemah. "...maafkan aku Ra...aku terlalu egois...aku tidak memikirkan perasaanmu...aku terlalu terburu-buru... karena aku sudah menunggu mu begitu lama...jadi aku tidak ingin kehilanganmu lagi...", sesal Aprilio.
"Tidak Lio...aku tidak menyalahkan mu...aku tau bagaimana perasaan mu...aku saja yang tidak ingat semuanya... setiap hari gelisah dan tidak tenang selama 6tahun ini... apalagi dirimu...aku yang seharusnya minta maaf karena membuat mu menunggu begitu lama... tapi aku berharap...kamu mau menunggu sedikit lagi... hanya sebentar aku janji... setelah aku menyelesaikan urusan Travel Moon... aku akan menyetujui apapun permintaan mu...", ujar Aurora tulus.
"Baiklah aku setuju... selesaikan dulu urusan Travel Moon...dan aku akan mempersiapkan pernikahan kita...dan kamu tidak boleh protes apapun yang aku persiapkan...", ancam Aprilio lucu membuat Aurora dan Tuan Dion tersenyum.
"Baiklah...apapun itu..."
"Hah...kejadian tadi benar-benar membuatku naik darah sampai tidak bisa berpikir jernih...", keluh Aprilio menghela nafas.
"Sepertinya karyawan perempuan tadi...bukan hanya ingin menjaga keamanan kantor...tapi dia ada perasaan dengan mu Lio...", ujar Tuan Dion tiba-tiba, membuat Aprilio membulatkan matanya terkejut lalu refleks menatap Aurora.
"Pa... jangan bicara omong kosong...", elaknya.
__ADS_1
"Papa bukan bicara omong kosong...tapi dari tatapan dan sikapnya... terlihat jika dia tertarik pada mu... bukankah begitu Ra...", jelas Tuan Dion kemudian bertanya pada Aurora.
"Ah em sepertinya begitu..."
Flashback
toktok
cklek
"Tuan-lho Siapa kamu...", seorang perempuan memasuki ruangan Aprilio dan terkejut melihat keberadaan Aurora.
"Ah itu...saya mau mengantarkan sarapan untuk-
"Apa yang di lakukan pihak keamanan...mengapa mereka mengijinkan sembarangan orang masuk...", omelnya sambil berjalan ke arah Aurora.
"Tidak...saya-
"Sudah...lebih baik letakkan saja makanannya...lalu kau pergi dari sini...", usir nya.
"Tidak ada tapi-tapian...cepat pergi sebelum Tuan Aprilio kembali...kau cuma pengantar makanan tapi berani sekali masuk ke ruangan CEO...", ujar perempuan itu sambil menarik tangan Aurora.
"Tunggu...dengarkan saya dulu...saya bukan pengantar makanan...", Aurora menahan langkah nya dan menarik lengannya. tentu saja hal itu membuat perempuan tadi ikut berhenti, bahkan refleks berbalik dan menatap Aurora tajam.
"Lalu kau siapa...Maid nya...atau kau mau bilang kalau kau istri Tuan Aprilio...iya...", sarkas nya merendahkan.
"Saya memang istri nya... saya-
"Hahaha...sudah banyak perempuan yang mengaku sebagai istri Tuan Aprilio...kau tidak bisa membodohi ku...", ujar perempuan berambut pirang itu, "...apalagi... lihatlah penampilan mu...tidak pantas sekali kau mengatakan hal seperti itu...Tuan Aprilio itu tampan dan kaya raya... tidak mungkin dia menikahi wanita rendahan seperti mu...wajah mu memang cukup cantik...tapi kalau di sandingkan dengan ku... bukankah aku lebih menarik... dan siapapun pasti setuju dengan ku...", lanjutnya berjalan mengitari Aurora dengan memandang remeh dari atas sampai bawah.
Mau bagaimanapun, Aurora sudah terbiasa hidup sederhana, sebanyak apapun Aprilio membelikan dia baju mahal, sepatu dan yang lainnya, Aurora memakai nya, tapi dia tidak suka yang mencolok, seperti saat ini, Aurora hanya mengenakan dress bunga selutut dengan flatshoes, riasan sederhana tanpa menggunakan aksesoris apapun, bahkan tas sekalipun, karena berangkat tadi, Aurora hanya membawa kotak makanan, dan di antar supir.
Sedangkan perempuan di depannya saat ini, memakai setelan formal dengan rok sepaha dan kemeja yang di buka hingga dada, kalung cincin dan anting dengan berlian kecil, lalu dia mengenakan high heels dan riasan yang cukup tebal, mungkin memang dia ingin terlihat seperti Nyonya CEO.
"Lalu...siapa kamu...", tanya Aurora tenang, bahkan bergantian menatap perempuan itu dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Saya kepala manajer di sini...kenapa...kau sudah sadar diri...", sarkas nya
"Kepala manajer bagian apa...", tanya Aurora lagi, tak menjawab pertanyaan perempuan itu sebelumnya.
"Sudah jangan banyak tanya...cepat pergi dari sini...", teriaknya marah sambil menarik tangan Aurora lagi, ingin membuka pintu dan mengusir Aurora, namun pintu lebih dulu terbuka dari luar.
"Ada apa ini..."
"Oh Tuan...anda sudah kembali...Tuan Dion...", sapa perempuan itu sopan. "...maaf...ada seseorang yang masuk keruangan anda seenaknya...saya akan mengusirnya sekarang...", lanjutnya membuat Aprilio dan Tuan Dion mengernyit heran.
"Siapa...", tanya Aprilio melihat sekeliling.
"Perempuan ini mengatakan ingin mengantarkan makanan...tapi entah siapa yang mengijinkannya untuk masuk keruangan anda...", ujar perempuan kepala manajer itu mencengkram tangan Aurora.
"Jangan sembarangan...dia istri saya...", tekan Aprilio menghempaskan tangan perempuan itu yang mencengkram tangan Aurora.
"A-apa...tapi-
"Jaga sikap mu...dan jangan keterlaluan...ingat baik-baik wajah istri ku...", ujar Aprilio tajam. "Siapa Nama mu...", tanyanya, itu menunjukkan jika perempuan itu tidak berpengaruh apapun untuk Aprilio yang bahkan tidak tau namanya.
"Sa-ya Agnes Lee"
"...Sekertaris Kim... turun kan jabatannya...dan pindahkan dia sejauh mungkin dari sekitar ku...", perintahnya pada sekertaris nya yang ternyata tadi menjemput Aprilio setelah mengantarkan Aurora.
(di Bab sebelumnya, seperti nya aku salah... Sekretaris Kim menjadi Asisten Kim...maaf ya)
"Baik Tuan"
"Tidak Tuan...jangan lakukan itu...maafkan saya...saya tidak sengaja...", ujar perempuan itu memohon, tapi Aprilio tidak menggubrisnya dan malah mengajak Aurora masuk ke ruangannya lagi.
**Flashback end
Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**