Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 28.2


__ADS_3

"Ayah...", Aurora menjeda ucapannya untuk mengambil nafas menenangkan diri, "...ke-kenapa tiba-tiba kamu menanyakan tentang Ayah ku...", lanjutnya.


"Sebenarnya...aku dan yang lain... beberapa waktu yang lalu...merencanakan membantumu mencari bukti untuk mendapatkan kembali perusahaan Ayah mu...tapi-


"Tapi kenapa Lio...apa kalian sudah mendapatkan buktinya... bagaimana hasilnya...", tanya Aurora memotong ucapan Aprilio, menghela nafas sejenak, Aprilio pun kemudian menggelengkan kepalanya.


"Belum... karena ternyata...Paman mu sendiri pun sebenarnya...tidak memiliki surat-surat berharga milik mendiang Ayah mu...", jelas Aprilio.


"Apa maksudmu Lio...", tanya Aurora bingung.


"Selama ini mereka menggunakan surat wasiat palsu...bahkan dokumen pengalihan saham ataupun yang lainnya juga...", Aurora membulatkan matanya terkejut mendengar penjelasan Aprilio.


"Palsu... bagaimana bisa...bukankah ada pengacara Ayah yang mengesahkan...", ujar Aurora tidak percaya, "...aku tidak berpikir seperti itu...aku pikir mungkin mereka memaksa Ayah untuk menyerahkan semuanya...la-lu mencelakai Ayah...", lanjutnya bergetar.


"Aku pikir tidak seperti itu...Ayah mu mungkin mempertahankan miliknya dan tidak memberitahu mereka...jadi itu yang membuat mereka memilih untuk mencelakai Ayah mu...", jelas Aprilio lagi.


"La-lu... A-apa yang harus aku lakukan selanjutnya Lio...", ujar Aurora mengusap wajahnya frustasi, kemudian terisak, Aprilio pun menarik Aurora kedalam pelukannya.


"Tenanglah Ra...aku akan membantu mu sampai semuanya selesai...", ujar Aprilio menenangkan. "...ingatlah...kau tidak perlu menghadapi masalah ini sendirian...ada aku...Nio dan lainnya yang akan membantu mu...", lanjutnya.


Aurora melepaskan diri dari pelukan Aprilio, kemudian menatap pria itu dengan mata yang memerah, dengan sedikit terisak, sedangkan Aprilio pun mengusap pipi Aurora yang sedikit basah karena air mata.


"Terima Kasih Lio...", ujar Aurora tulus, Aprilio pun tersenyum dan mengusap kepala Aurora sayang.


"Tidak perlu berterima kasih... itu sudah kewajiban ku untuk menjaga mu dan Nio...", jawabnya tak kalah tulus.


"Jadi...tolong beritahu aku semua hasil yang kalian dapatkan...", tanya Aurora mulai tenang.


"Baiklah...


...


Beberapa Menit Kemudian


"Jadi...kalian sudah sejauh itu...dan mengeluarkan uang sebanyak itu...", tanya Aurora.


"itu tidak Masalah Ra...selama kita bisa membantumu mendapatkan kembali milik mu...itu nilai yang sebanding...", jawab Aprilio yakin.


"Tidak...itu tidak sebanding...karena pada dasarnya... mereka hanyalah cangkang kosong yang tidak memiliki apapun untuk mereka melindungi... semuanya hanya khayalan mereka sendiri...selama ini semuanya masih tetap milikku...mereka hanya numpang menikmati saja...", ujar Aurora geram.


"Benar...tapi mau bagaimana pun...kau tetap harus hati-hati...mereka semua orang licik yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan...", sambung Aprilio datar.


"Iya aku mengerti...", Aurora mengangguk mengerti. "...lalu...apa kamu tau di mana Ayah ku menyimpan semua dokumen itu...", lanjutnya bertanya.


"Kalau tidak salah... mereka bilang di Bank xxx...namun bank itu memiliki peraturan yang ketat...dan hanya memiliki satu kunci...ataupun satu orang saja...kecuali ada pemberitahuan dari pemilik secara langsung...", jelas Aprilio panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi aku tidak pernah mendengar Ayah berbicara tentang Bank ini...", ujar Aurora bingung.


"Justru itu...sepertinya Ayah mu sudah menebak jika hal ini akan terjadi...jadi dia mengaturnya sendiri...tanpa ada yang tau... sekalipun pengacara nya...", tebak Aprilio pintar.


"Benar...aku juga tidak menyangka jika pengacara Ayah akan berkhianat seperti ini...", Aurora menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Tapi hal itu belum pasti Ra...pengacara itu benar-benar berkhianat atau di ancam oleh mereka...", ucapan Aprilio di angguki setuju oleh Aurora.


"Tapi aku tidak peduli...yang pasti dia juga termasuk dari orang-orang yang menyebabkan semuanya terjadi pada Ayah ku...", Aurora geram.


"Sudah...biar itu jadi urusan ku...yang penting sekarang kamu ingat-ingat dulu... sebelum Ayah mu kecelakaan... apa beliau memberikan sesuatu pada mu...", ujar Aprilio sambil mengusap punggung Aurora.


"em...apa ya...aku hampir 6tahun tidak ingat apapun... takutnya...aku tidak bisa mengingatnya...", ujar Aurora berpikir sejenak, "...eh tidur mungkin...", pekiknya menyadari sesuatu.


"Kenapa Ra...apa kau mengingat sesuatu...",


"Beberapa hari sebelum kecelakaan...Ayah memberiku sebuah kotak musik...apa mungkin itu...", tebak Aurora.


"Apa yang membuat mu berpikir kalau kotak musik itu yang kita cari...", tanya Aprilio.


"Soalnya kotak musik pemberian Ayah waktu itu...persis sama seperti kotak musik pemberian Ibu ku dulu saat aku kecil...", jelas Aurora mengingat.


"Sama persis...kenapa...", Aprilio sedikit heran.


"Apa"


"Tuas pemutar di belakangnya...jika pemberian Ibu berbentuk biasa...berbeda dengan pemberian Ayah yang ada simbol bulat sabit di ujungnya...", jelas Aurora yakin, membuat Aprilio ikut berbinar.


"Lalu dimana sekarang kotak musiknya...", tanyanya.


"Sepertinya di Apartemen...dengan barang-barang yang di simpan kan Melinda waktu itu...", jawab Aurora.


"Kalau begitu ayo kita lihat...daripada kita tebak-tebakan seperti ini...", ajak Aprilio yang langsung di setujui Aurora dengan antusias.


"Bukankah...lebih baik kita ke Bank nya terlebih dulu... untuk menanyakan tentang hal ini...",


"Pihak Bank tidak akan memberitahu kita semudah itu Ra... kalau semudah itu... bukankah... mereka sudah mendapatkan nya sejak dulu...", Aurora benar-benar di buat takjub dengan segala pikiran dan tindakan yang dilakukan Aprilio dengan cerdas.


"Benar juga...jadi kita harus membawa kunci lebih dulu...agar mereka percaya kalau kita adalah pemilik brankas Bank itu...", Aprilio mengangguk mengiyakan ucapan Aurora.


"Baiklah...kita ke Apartemen Felix...tapi sebelumnya... kamu hubungi dia dulu...", pinta Aprilio dengan mulai melajukan mobilnya.


"Benar juga...", Aurora mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Felix.


Tut Tut

__ADS_1


"Halo"


"Halo Felix...kamu masih di kantor ya..."


"Iya...ada apa Ra..."


"Aku ingin ke Apartemen mu...bisakah kau pulang sekarang..."


"Ada apa...apa kau membutuhkan sesuatu..."


"Iya...aku ingin mencari sesuatu..."


"Apa itu"


"Kotak musik pemberian Ayah ku...mungkin itu kunci yang aku butuhkan..."


"oh Baiklah...aku mengerti...aku akan pulang sekarang..."


"Oke... terima kasih Felix"


Beberapa Menit Kemudian


"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama", ujar Felix baru saja turun dari mobilnya menghampiri Aurora dan Aprilio yang tengah berdiri di samping mobil Aprilio.


"Tidak apa-apa...", jawab Aurora.


"Ayo kita masuk", ajak Felix berjalan lebih dulu memasuki gedung Apartemen, lalu di ikuti Aurora dan Aprilio di belakangnya.


...


"Silahkan masuk", ujar Felix ramah mempersilahkan masuk. "... barang-barangnya masih tetap di kamar Nio...kalian bisa langsung mencarinya...aku akan ambilkan minum dulu... setelah itu aku akan membantu kalian...", Aurora dan Aprilio mengangguk mengiyakan apa yang di katakan Felix.


Setelah itu Aurora dan Aprilio bergegas pergi ke kamar Antonio, sedangkan Felix ke arah dapur, bahkan Aurora tak banyak basa basi dan langsung mencari dengan memilah satu persatu barang miliknya.


Hingga beberapa menit, mencari dari kotak satu ke kotak yang lain, dari barang milik Aurora dulu hingga sekarang, bahkan juga barang milik Antonio, sampai akhirnya Felix bergabung setelah membawakan minuman.


Hingga...


"Ketemu...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2